
Madika saat ini benar-benar tak bisa mengerti apa yang sedang di pikir-kan serta apa yang sedang di ingin-kan oleh Nia.
ia kini hanya bisa menatap Nia dengan ekspresi kebingungan.
Banyak pertanyaan muncul di benak Madika mengenai apa yang kira-kira sedang di pikir-kan oleh Nia saat ini.
"tolong kata-kan dengan jelas jika ada sesuatu yang kau ingin-kan." ucap Madika.
"sebenar-nya dua hari lagi aku akan berulang tahun." jawab Nia tanpa menoleh ke arah Madika.
"oh, begitu ya." ucap Madika singkat.
Saat ini Madika sedang berusaha memproses dan mencerna perkataan Nia sebelum-nya.
sebenar-nya Madika saat ini terpikir-kan bahwa ulang tahun Nia sama sekali tak ada hubungan-nya dengan diri-nya.
Namun, Madika sadar bahwa jika ia berkata seperti itu pada Nia, maka Nia pasti akan merasa sedih dan ia terkesan seolah tidak bisa menjaga perasaan orang lain.
"mungkin Nia punya maksud yang baik dalam hal ini." batin Madika yang berusaha berpikir positif dan mencoba menerima permintaan Nia.
Lalu Madika pun kini langsung menatap Nia sambil tersenyum manis ke arah-nya.
"baik-lah, kalau kau memang memaksa sampai seperti ini maka aku akan menuruti permintaan-mu itu." ucap Madika sambil mengelus kepala Nia dengan lembut.
Nia yang menerima perlakuan lembut dari Madika kini hanya bisa diam sambil mengangguk pelan.
wajah-nya terlihat masih memerah dan ia masih merasa sedikit malu menatap wajah Madika.
******
Saat ini, Nia dan Madika kembali ke tempat acara, mereka tampak berjalan bersama dan mendekati Emi yang yang saat ini sedang menemani Liga dan beberapa rekan Liga yang lain-nya yang saat ini sedang minum minuman beralkohol.
"hei Emi, apa kau juga ikutan minum?" tanya Nia saat melihat Emi yang sudah agak sempoyongan saat duduk.
__ADS_1
"ah... aku minum sedikit." jawab Emi.
setelah itu Emi pun menoleh ke arah Madika yang saat ini berdiri di samping Nia.
Saat melihat Madika yang ternyata sedang bersama dengan Nia, kini Emi pun tampak langsung mengkerut-kan kening-nya.
"hei.... kalian berdua ini dari mana saja sih?.... apa yang kalian lakukan sampai tidak kelihatan sejak tadi?" tanya Emi yang tampak penuh selidik.
"sedikit yang kau tahu lebih baik." ucap Nia sambil tersenyum tipis ke arah Emi.
Seketika Emi beserta Liga dan beberapa orang lain-nya di tempat itu langsung terkejut mendengar jawaban Nia.
"ap.... apa maksud-nya itu Nia?" tanya Liga yang tampak sangat terkejut.
Sementara itu, Tago yang berada di samping Liga kini hanya bisa memijat kecil kepala-nya seolah ia sedang pusing.
"hah..." Tago menghela nafas seolah sedang banyak pikiran.
Ternyata bukan hanya Tago saja yang salah paham, rupa-nya mereka semua yang ada di situ sudah salah paham terhadap ucapan Nia sebelum-nya.
"hei Nia, apa yang sudah kau lakukan bersama dengan Madika?" tanya Emi dengan ekspresi suram sambil memegang bahu Nia serta sedikit mengguncang-nya.
"hei hei.... seperti-nya aku merasa-kan ada-nya bau-bau kesalahpahaman lagi di sini." ucap Madika yang mulai khawatir dengan situasi saat ini.
"kami tidak melaku-kan hal yang aneh kok, aku dan Madika hanya membuat sebuah perjanjian setelah dia naik ke atas-ku, sebelum-nya aku benar-benar terkejut, tapi setelah itu semua-nya ternyata baik-baik saja dan jadi sangat melega-kan." ucap Nia menjawab pertanyaan Emi sebelum-nya.
"hoi, Nia, tolong bicara-lah yang benar, kau membuat semua orang jadi salah paham." ucap Madika yang langsung terlihat panik sambil memegang tubuh Nia serta membalik-nya sehingga Emi pun kini langsung menghadap ke arah-nya.
"naik?!!.... ke atas?!!...."
ucap mereka semua dengan ekspresi terkejut.
wajah terkejut mereka semakin tak terkontrol sehingga bisa di lihat kalau mereka semua saat ini benar-benar sudah salah paham dengan ucapan Nia yang sangat ambigu itu.
__ADS_1
"hei Nia.... jelas-kan pada mereka dengan benar mengenai kejadian yang sebenar-nya agar tak terjadi kesala....."
"hoi Madika." ucap Liga yang langsung memotong perkataan Madika serata membuat Madika langsung terkejut saat dia memanggil Madika dengan suara yang terkesan dingin.
"a.... ada apa lagi kali ini?" tanya Madika sambil menoleh ke arah Liga.
Liga kini langsung berdiri, tampak dari wajah liga saat ini liga sudah cukup mabuk berat sehingga kemungkinan kata-kata yang akan Liga keluar-kan nanti-nya mungkin saja akan sangat random dan benar-benar tak ada titik cerah-nya.
"Madika, sebagai lelaki sejati, kau harus bertanggung jawab karena sudah menaiki seorang gadis.... kau tak boleh lepas tanggung jawab.... biar bagaimana-pun, anak yang saat ini ada di kandungan Nia adalah darah daging-mu!" ucap Liga dengan lantang dan kemudian kembali meneguk gelas berisi-kan alkohol itu.
wajah mabuk Liga saat ini benar-benar tergambar-kan dengan jelas, apa lagi saat ini ia berdiri dengan sempoyongan sambil menunjuk Madika.
"anak?" Nia tiba-tiba ikut terkejut saat mendengar ucapan Liga yang membahas tentang anak.
"lah kenapa malah jadi anak?!"
Kini Nia pun ikut panik setelah menyadari kalau kata-katanya itu ternyata benar-benar sudah di telan mentah-mentah oleh mereka semua yang sedang mabuk saat ini.
"nak...." Tago kini menatap Nia yang sedang panik itu.
"sejujur-nya ayah tidak melarang jika kau berhubungan dengan Madika, tapi bukan-kah ini terlalu cepat?" ucap Tago dengan ekspresi datar namun seolah sedang kecewa.
"ayah.... tolong jangan salah paham ini tidak seperti yang kau piki...."
"Niaaaaaa.... kenapa kau langsung main rebut begitu saja?.... aku juga mengingin-kan Madika." ucap Emi yang langsung merengek sambil menarik tubuh Nia dari pegangan madika dan kemudian langsung mengguncang tubuh Nia.
"Emi dengar dulu penjelasan-ku!" ucap Nia lagi.
kini wajah Nia semakin memerah, ia tampak malu sendiri karena ulah-nya yang berniat usil pada Madika.
Sebelum-nya Nia memang berniat membuat kesalahpahaman ini terjadi karena ia ingin melihat wajah Madika yang sedari tadi tenang-tenang saja jadi panik.
"padahal aku hanya ingin membuat Madika malu-malu dan merasa sedikit panik seperti yang ku rasa-kan saat bersama-nya di kamar." ucap Nia dalam hati. lanjut-nya, "tapi tidak ku sangka mereka sampai bicara selantang itu sampai-sampai hampir semua orang kini memperhati-kan kami berdua." ucap Nia sambil melihat sekeliling-nya dan menyadari bahwa saat ini banyak tamu lain-nya yang mulai memperhati-kan ia dan Madika.
__ADS_1