Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Melawan Naga


__ADS_3

Setelah berada di hadapan Madika, ular naga itu pun mulai menatap Madika dengan penuh intimidasi.


"APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI?" tanya ular naga itu.


"aku hanya sekedar lewat saja.... dan karena di luar hujan jadi aku berteduh di gua ini." jelas Madika.


"MESKIPUN YANG KAU KATAKAN ITU BENAR, TAPI AKU TETAP TIDAK BERNIAT UNTUK MELEPASKAN DAN MEMAAFKAN-MU!" ujar naga itu sambil terus menghembuskan nafas panas-nya.


"kalau begitu tak perlu di tanya sial@n!" batin Madika dengan rasa kesal.


"KARENA KAU SUDAH BERANI MENEMBUS PENGHALANG-KU!, ITU ARTI-NYA KAU MEMILIKI KEMAMPUAN YANG TIDAK SESUAI DENGAN TINGKATAN-MU SAAT INI!.... OLEH KARENA ITU, JIKA AKU MEMAKAN-MU, MAKA KEMAMPUAN-KU BISA MENINGKAT LEBIH DARI SAAT INI!" ucap si naga sambil berseringai dan membuat Madika makin waspada ketika melihat seringai menakutkan itu.


Medika yang mendengar kata itu kini langsung melompat jauh ke belakang untuk menjaga jarak dari naga itu.


"tchi.... sudah ku duga! ujung-ujungnya pasti akan jadi seperti ini!.... kalau sudah begini tak ada pilihan lain lagi selain melawan naga ini!" batin Madika sambil mulai menarik pedang yang ada di belakang pinggang-nya. pedang itu adalah pedang biasa yang selalu ia bawa saat pergi berburu. pedang biasa itu bisa menjadi sangat kuat dan tahan lama jika di lapisi menggunakan elemen dari energi Saga.


"REAKSI-MU LUMAYAN JUGA BOCAH!" ucap ular naga itu.


"siapa pun sudah pasti akan waspada jika bertemu salah satu dari tujuh mahluk kuno legendaris seperti-mu!" ucap Madika dengan nada tegas.


Tujuh mahluk kuno legendaris adalah sebutan bagi para mahluk kuno yang sudah hidup sangat lama. mereka juga merupakan spesies satu-satunya di Agrilis, dan tidak ada mahluk lain yang memiliki wujud yang sama dengan mereka.


jumlah mereka hanya ada tujuh di Agrilis, salah satu-nya adalah ular naga.


Setelah Madika berkata seperti itu, kini si naga itu langsung melesat cepat ke arah-nya lalu menyembur-kan api dari mulut-nya ke arah Madika.


Madika yang menyadari hal itu dengan cepat menahan semburan api itu menggunakan perisai angin-nya.


namun tak di sangka-sangka ternyata semburan api yang keluar dari mulut naga itu sangat kuat sampai-sampai membuat Madika terseret ke belakang.

__ADS_1


setelah itu si naga langsung mengibaskan ekor-nya dengan kuat ke arah Madika, dan membuat Madika terkena serangan ekor itu sehingga ia terhempas dan menabrak dinding gua.


"dia kuat sekali!" batin Madika yang kini berusaha untuk berdiri sambil menyeka darah yang ada di pinggiran bibir-nya.


Setelah itu, kini si naga yang sedang melayang di udara mulai bergerak perlahan mendekati Madika sambil mengeluarkan aura yang sangat menakutkan.


Tujuh hewan kuno legendaris memiliki kemampuan tersendiri dan tidak memanfaatkan Saga dalam penggunaan kekuatan-nya.


hal itu pun membuat banyak pengguna energi baik Saga maupun Nara tak bisa mendeteksi keberadaan mereka dengan baik.


Kekuatan tujuh hewan kuno legendaris berasal dari sebuah energi yang di sebut energi Arta, energi Arta memiliki karakteristik yang sangat berbeda dari energi Saga maupun Nara.


berdasarkan rumor yang beredar di seluruh Agrilis, baik di kalangan manusia maupun Niverom, mereka mengetahui bahwa energi Saga maupun Nara dapat berevolusi menjadi Arta jika tingkatan Saga maupun Nara sudah bisa melampaui batas terkuat-nya.


Hingga saat ini, hanya ada satu manusia pengguna energi Arta di Agrilis. orang itu adalah seorang raja yang di juluki sebagai raja terkuat di Agrilis. orang itu adalah raja Arga, yakni raja yang di layani oleh tuan Risiwuku.


Saat naga itu berada di dekat Madika, naga itu langsung berubah menjadi seorang pria tampan dengan jubah biru yang sangat mewah di sertai beberapa perhiasan emas di kenakan-nya.


"ternyata rumor tentang tujuh hewan kuno legendaris memiliki wujud manusia memang benar dan bukan rumor palsu." ucap Madika dalam hati.


Setelah itu si naga itu memperkenalkan diri-nya pada Madika.


"perkenalkan, nama-ku Bunggu Watu." ucap si naga itu dengan tenang. "siapa nama-mu?" tanya-nya pada Madika.


"nama-ku Madika Tumbawani." jawab Madika tanpa pikir panjang.


"begitu ya...." ucap Bunggu sambil mengelus dagu-nya. "baiklah Madika, cobalah melawan-ku, jika kau bisa membuat serangan-mu itu mengenai-ku walau hanya sekali, maka aku akan membebaskan-mu." ucap Bunggu itu dengan ekspresi wajah yang tampak tersenyum. namun entah kenapa Madika malah merasa-kan hawa yang sangat horor dari senyuman itu.


"tchi.... di lihat dari mana pun sudah jelas aku tidak akan bisa menang melawan-mu! kenapa kau membuat pilihan seperti itu pada-ku?! apa kau ingin mempermainkan-ku hah?!" bentak Madika yang saat ini terlihat kesal.

__ADS_1


"hmm.... tenang saja, aku akan memberi-mu keringanan.... dalam waktu sepuluh menit, aku tidak akan menyerang-mu, dan kau bebas menyerang-ku..... tetapi, sepuluh menit itu sudah berlalu, maka saat itulah aku akan menyerang-mu.... jadi berusaha-lah di sepuluh menit awal untuk melancarkan serangan yang bisa mengenai tubuh-ku." jelas Bunggu sambil tersenyum tipis.


"tchi... tidak ada pilihan lain!" batin Madika sambil menggertak-kan gigi-nya.


"baiklah! kalau begitu langsung saja!" ucap Madika dengan penuh semangat sambil bergerak ke samping.


Saat Madika berlari ke arah samping dari si Bunggu, Madika menyempatkan diri untuk melancarkan serangan menggunakan peluru angin yang jumlah-nya cukup banyak.


Sementara itu, Bunggu yang melihat serangan itu kini hanya menghentak-kan kaki-nya di tanah dan tiba-tiba seluruh peluru angin itu terpantul ke berbagai arah seolah ada sesuatu yang menahan-nya sehingga peluru angin itu tak mengenai Bunggu.


"sial!' batin Madika sambil menggerutu kesal.


Bunggu yang melihat ekspresi kesal Madika itu kini hanya tersenyum tipis sambil mengangkat satu alis-nya.


"apa cuma segini saja?" ucap-nya seolah meremehkan Madika.


"aku belum selesai sial@n!" bentak Madika yang kini melesat ke arah Bunggu sambil mengayunkan pedang-nya yang sudah di lapisi menggunakan angin bertekanan tinggi.


Saat Madika berada di depan Bunggu, Madika pun langsung mengayunkan pedang-nya untuk menebas leher Bunggu.


namu pada jarak kurang lebih 50 cm pedang Madika langsung terhenti seolah ada sesuatu yang di hantam oleh pedang itu di udara yang tampak kosong.


saat pedang Madika tampak seolah menghantam sesuatu di udara, kini tekanan angin yang ada di pedang Madika itu langsung keluar dan berhembus dengan sangat kuat.


namun hembusan angin itu tidak mengarah ke Bunggu melainkan mengarah ke arah datang-nya tebasan itu.


Melihat hal itu Madika pun langsung terkejut dan terbelalak melihat kejadian itu.


"bahkan tekanan angin-ku pun bisa dia pantul-kan!" batin Madika.

__ADS_1


__ADS_2