
Beberapa menit sebelum terjadi-nya pembekuan.
Saat ini tampak Mindo meneteskan darah-nya ke pedang es milik-nya yang ia tancapkan ke tanah.
"kali ini kau tidak akan bisa mengalahkan-ku!" ucap Mindo sambil tersenyum.
Ketika Mindo berkata seperti itu, Lulu pun langsung menatap Mindo dengan tatapan serius.
"seperti-nya dia sedang merencanakan sesuatu dengan pedang itu!..... seperti-nya aku harus menghentikan-nya sebelum teknik-nya aktif sepenuh-nya!" batin Lulu.
Di sisi lain, saat ini di sebuah dataran yang cukup tinggi, tampak Fany, Niko, Nina, dan Madika sedang memperhatikan pertarungan yang di lakukan oleh Lulu dan Mindo.
"apa yang sedang di lakukan Mindo?" tanya Nina.
"entahlah, aku tidak tahu, tapi yang jelas-nya dia tampak sedang mempersiapkan sebuah jurus yang hebat." jawab Niko.
"uhmm...." gumam Fany sambil mengangguk sekali. "aku sependapat dengan-mu.... jika di lihat-lihat, ia bahkan sampai menggunakan darah-nya untuk mempersiapkan jurus-nya. bisa jadi ia mempersiapkan sesuatu yang luar biasa." balas Fany menyela.
Sementara itu, Madika yang melihat Mindo mempersiapkan teknik-nya kini tampak memegang dagu-nya seperti sedang berpikir.
"rasa-nya aku pernah melihat hal ini di kehidupan-ku yang sebelum-nya.... apa jangan-jangan dia ingin mengaktifkan jurus yang itu?....." batin Madika bertanya-tanya.
"hei Madika, bagaimana pendapat-mu?.... apa kau memiliki pemikiran tentang apa yang di lakukan oleh Mindo sekarang?" tanya Niko.
Madika yang mendapati pertanyaan itu kini menatap Niko dengan ekspresi serius.
"ya aku punya dugaan, tapi sebelum ku jelaskan ada baik-nya aku membuat persiapan untuk kita berempat." jawab Madika.
"persiapan? untuk apa?" tanya Niko lagi.
Lalu Madika pun langsung menepuk bahu Niko.
__ADS_1
"untuk sekarang sebaik-nya siapkan sebongkah es yang bisa kita pijaki dan bisa ku terbangkan dengan angin.... dan kalau bisa ciptakan sebongkah es itu di bawah kaki kita sekarang juga.!" perintah Madika tanpa memberi penjelasan.
"aku tidak tahu apa tujuan-mu menyuruh-ku, tapi akan ku buat sekarang juga sesuai keinginan-mu." jawab Niko dan langsung menciptakan sebongkah es yang cukup untuk di tumpangi oleh mereka berempat.
Madika yang melihat respon cepat Niko kini tersenyum.
"bagus...." ucap-nya sambil menepuk pundak Niko.
lanjut-nya. "sekarang lihat lah baik-baik apa yang akan terjadi, dan saat itu kalian akan mengetahui-nya.
Kembali ke Mindo dan Lulu.
Saat ini Lulu yang menganggap teknik Mindo tampak berbahaya kini langsung menggunakan elemen petir-nya untuk menyerang Mindo.
Lulu dengan segera menciptakan sebuah bola cahaya yang bersinar di depan tubuh-nya.
sesaat kemudian ia langsung melesatkan serangan petir yang tampak bagaikan laser ke arah Mindo.
Ketika serangan laser petir itu sudah mendekati Mindo, Mindo pun langsung membuka mata-nya sambil berkata.
Setelah berkata seperti itu, tiba-tiba tanah yang di tancapkan pedang itu langsung membeku dengan cepat.
pembekuan-nya bahkan menjalar dengan sangat cepat sehingga dalam waktu kurang dari sedetik seluruh tubuh Mindo langsung membeku.
ketika seluruh tubuh Mindo membeku, kini laser petir itu langsung menghantam tubuh Mindo itu hingga mengubah-nya menjadi pecahan-pecahan es yang kini berhamburan di udara.
Ketika melihat hal itu, Lulu pun langsung menghentikan serangan-nya.
ia melihat saat ini pembekuan yang terjadi itu merambat sangat cepat ke segala arah, dan kini sudah berada dekat dengan Lulu.
Note: semakin dekat dengan sumber jurus kutukan es,, semakin cepat pula proses pembekuan terjadi.
__ADS_1
Saat Lulu melihat pembekuan hampir mencapai diri-nya, kini Lulu pun langsung melompat Munduk ke belakang. namun kecepatan es itu masih belum turun. akhir-nya kini Lulu pun langsung melompat ke salah satu pohon yang cukup jauh.
namun karena pembekuan itu terus menjalar, akhir-nya Lulu pun memutuskan untuk terus bergerak menjauh.
"tchi!.... tidak ku sangka dia menggunakan teknik dengan jangkauan luas seperti ini.... aku ingin tahu, kira-kira sejauh mana pembekuan ini akan berlangsung." batin Lulu sambil terus bergerak menjauh dari sumber pembekuan.
Di sisi lain, saat ini di dataran yang cukup tinggi kini terlihat sebongkah es sedang melayang di udara dengan bantuan sebuah angin puyuh.
di atas sebongkah es itu tampak Madika dan ketiga anggota kelompok-nya yang sedang berdiri memandangi proses pembekuan yang sedang berlangsung.
"wah.... ini benar-benar luar biasa!..... teknik pembekuan-nya terus bergerak.... kira-kira sejauh mana ini akan berlangsung?" ucap Niko yang tampak sedikit kagum.
"uhm..... ini memang teknik yang luar biasa, namun sayang-nya ini adalah teknik yang mengorban-kan nyawa si pengguna teknik itu." ucap Fany.
"kau benar, resiko-nya terlalu besar, namun teknik-nya masih memiliki kelemahan.... yaitu mudah untuk di hindari." balas Nina.
"hanya dengan melompat saja, seseorang sudah bisa menghindari teknik ini." sela Niko.
Mendengar ucapan Niko barusan, kini Madika pun langsung mengangkat salah satu alis-nya.
"ohoh..... apa kau pikir ini sama seperti teknik pembekuan yang biasa?" ucap Madika bertanya dengan niat memastikan.
"bukan-kah sudah kelihatan jelas kalau ini sama dengan teknik pembekuan yang biasa?.... hanya saja ini jangkauan-nya sangat luas." balas Niko.
"hmm.... seperti-nya pemahaman-mu masih salah.... teknik ini sangat jauh berbeda dengan teknik pembekuan yang biasa.... hal itu di karenakan teknik ini akan membeku-kan apa saja yang ada di atas-nya.... dengan kata lain, meskipun teknik pembekuan-nya sudah berlalu, selama kau bersentuhan dengan es itu, maka kau akan terkena racun kutukan yang ada pada es itu, dan dalam waktu sekejap, kau akan berubah menjadi es, dan setelah itu kau akan hancur berkeping-keping dengan sendiri-nya." jelas Madika.
Mendengar penjelasan itu, Mindo pun langsung menelan ludah kasar.
"jadi itu lah alasan-mu menyuruh-ku membuat sebongkah es ini?" tanya-nya.
"ya.... benar sekali, karena dengan sebongkah es ini, aku bisa melayangkan kita menggunakan angin puyuh milik-ku.... karena angin bukanlah zat yang bisa di bekukan, maka angin ini tidak membeku meskipun bersentuhan langsung dengan es yang ada di bawah sana." jelas Madika.
__ADS_1
"begitu, ya.... untung saja kau bertindak cepat, jika tidak, bisa-bisa kita semua akan berada dalam bahaya." ujar Nina menyela.
"bukan dalam bahaya lagi, tapi sudah di pastikan akan kalah!" sambung Fany. lanjut-nya sambil menunjuk ke arah batas area. "coba lihat, pembekuan itu tampak terus bergerak dan tidak menunjuk-kan tanda-tanda akan berhenti." ucap-nya sambil menunjuk ke arah pembekuan yang kini sudah hampir melewati batas area.