
Ketika kedua Niverom itu terhempas, mereka sempat merasakan aura tujuh hewan kuno legendaris yang ada di sekitar Madika.
"apa-apaan ini?!" batin Niverom satu yang terlihat terkejut dan seolah tidak percaya dengan apa yang ia rasakan.
"apa kau juga merasakan-nya?" tanya Niverom dua ketika melihat reaksi Niverom satu saat melihat Madika.
"ya.... ku pikir hanya aku yang merasakan-nya.... ternyata kau juga." ucap ksatria satu yang langsung mengerti dengan maksud dari perkataan Niverom dua.
Baru saja selesai berkata seperti itu, tiba-tiba di hadapan mereka muncul Madika yang tampak sedang berada di udara dengan posisi yang sudah siap menebas ksatria dua.
ksatria dua yang sempat melihat kedatangan Madika langsung refleks mengeluarkan tombak petir-nya, dan dengan segera langsung menangkis serangan Madika yang saat ini tampak sudah mulai melancarkan tebasan-nya.
Ketika Niverom dua berhasil menahan tebasan Madika, kini Niverom satu dengan cepat menembak-kan bola api ke arah Madika.
Madika yang melihat bola api itu langsung melompat ke belakang sambil memutar tubuh-nya untuk menghindari serangan itu.
Ketika Madika sudah mendarat di tanah, kini Niverom dua langsung melemparkan tombak petir-nya ke arah Madika.
namun tombak petir itu berhasil di tebas oleh Madika, dan di saat yang hampir bersamaan Madika langsung melancarkan tebasan angin yang menciptakan lengkungan angin.
Lengkungan angin yang sangat tajam itu kini melesat cepat ke arah Niverom dua dan membuat Niverom dua terkejut melihat serangan tiba-tiba itu.
"yang benar saja!.... dia bisa menyerang sambil bertahan!?" batin Niverom dua sambil melompat ke belakang.
Madika yang melihat Niverom dua melompat ke belakang, Madika pun dengan segera menatap Niverom dua yang saat ini terlihat hendak menyerang-nya menggunakan bola petir.
sebelum bola petir itu di lesat-kan, kini Madika sudah melakukan tebasan bertubi-tubi di udara sehingga menciptakan sangat banyak lengkungan angin yang bukan hanya menyerang Niverom satu melainkan juga sekaligus menyerang Niverom dua.
hal itu pun membuat Niverom satu langsung membatalkan teknik-nya dan dengan cepat memunculkan pedang petir di tangan-nya.
lalu dengan segera ia menebas lengkungan angin yang sangat tajam itu hingga hancur.
__ADS_1
Tidak cukup sampai di situ, Madika yang melihat mereka sedang sibuk menangkis serangan lengkungan angin kini langsung memanfaatkan keadaan itu untuk menyerang secara langsung.
ia dengan cepat bergerak ke arah Niverom dua dan langsung menebas Niverom dua menggunakan pedang-nya.
namun tebasan itu berhasil di hentikan oleh Niverom dua menggunakan tombak petir-nya.
tak butuh waktu lama, kini kedua-nya langsung beradu teknik penguasaan senjata. kedua-nya mulai bertarung di jarak dekat.
mereka tampak sangat lihai memainkan senjata masing-masing.
Madika tampak sangat cepat mengayun-kan pedang-nya. sementara Niverom dua terlihat begitu cermat saat mengambil keputusan untuk menyerang atau bertahan.
Di sisi lain, Niverom satu yang melihat pertarungan mereka kini terlihat sedang mencari cela untuk menyerang Madika tanpa melukai Niverom dua. namun sampai saat ini ia tak bisa melancarkan serangan-nya karena Madika dan Niverom dua bergerak sangat cepat, di tambah lagi Madika memang sedari awal sudah memperhitungkan posisi yang tepat agar Niverom satu tak ikut campur dalam pertarungan mereka.
"sial!.... aku tak bisa asal menyerang!" batin Niverom satu dengan ekspresi kesal.
Sementara itu, dua ksatria yang sebelum-nya mengira Madika hanyalah siswa tingkat atas yang tak mungkin bisa melawan Niverom tingkat Alima kini terlihat terkejut dengan ekspresi wajah yang tampak tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
"tidak mungkin?!... anak itu bisa mengimbangi Niverom yang setingkat dengan ksatria profesional!" ucap ksatria satu.
"siapa sebenar-nya anak itu?.... padahal sebelum-nya ku kira dia tak akan bisa menghadapi Niverom itu." ucap ksatria dua.
"tapi ini terlalu cepat untuk senang.... kita tak tahu bagaimana selanjut-nya? apakah anak itu bisa bertahan, atau malah kalah sama seperti kita!" jelas ksatria satu.
"kau benar!.... kita belum tahu kekuatan anak itu.... bisa jadi dia hanya bisa bertahan di awal dan kalah di akhir karena pengalaman bertarung-nya yang masih sedikit!" balas ksatria dua.
Baru saja selesai berkata seperti itu, tiba-tiba kepala Niverom dua langsung menabrak kepala ksatria dua dan membuat ksatria dua terkejut karena saat ini kepala Niverom dua itu sudah terpisah dari tubuh-nya.
hal itu pun membuat kedua-nya terkejut dan dengan refleks langsung menoleh ke arah Madika, dan kini mereka melihat Madika yang berhasil menebas leher Niverom dua, dan di leher Niverom dua terlihat begitu banyak darah yang keluar serta muncrat dari leher Niverom itu layak-nya air mancur.
Tak lama setelah itu tampak Niverom satu yang tiba-tiba muncul di udara tepat-nya di belakang Madika sambil bersiap menebas Madika menggunakan pedang petir-nya.
__ADS_1
"awas!!.... di belakang-mu!!"
"awas!!.... di belakang-mu!!"
teriak ksatria satu dan dua secara bersamaan.
Madika yang mendengar hal teriakan kedua ksatria itu hanya diam dan tetap tenang. ia bahkan tak menoleh ke belakang karena ia merasa yakin bahwa Bunggu bisa menangkal serangan dari Niverom satu, dan benar, serangan itu pun berhasil di tahan oleh Bunggu yang saat ini melindungi Madika sebagai perisa tak terlihat.
hal itu membuat pedang petir yang di gunakan oleh Niverom satu langsung hancur berkeping-keping ketika mencapai jangkauan perisai tak terlihat itu.
hal itu pun membuat Niverom satu terkejut.
namun tidak lama kemudian Niverom satu dengan cepat menciptakan bola petir di tangan kiri-nya lalu ia segera mengayun-kan tangan kiri-nya itu ke arah Madika.
namun naas, hal yang sama seperti kejadian pedang tadi terulang lagi.
kini tangan Niverom satu langsung terpotong-potong menjadi sepuluh bagian kecil.
darah Niverom dua pun langsung muncrat ke mana-mana dan potongan-potongan tangan-nya itu tampak terpencar-pencar di atas tanah.
"ARRRGGHH!!!!" teriak Niverom itu sambil tertunduk dan memegang sisa tangan kiri-nya.
Sementara itu Madika tampak masih belum menoleh ke arah Niverom itu.
ia kemudian melihat ke arah dua ksatria yang kini menatap-nya dengan tatapan kagum serta ekspresi yang tampak seolah tak percaya dengan apa yang mereka lihat saat ini.
Tak lama setelah itu, Madika pun langsung menoleh ke arah Niverom satu, dan dalam sekejap Madika langsung memotong tangan kanan Niverom satu serta kedua kaki-nya.
lalu ia memegang kepala Niverom satu sambil mengingat teknik yang pernah di gunakan oleh tuan Risiwuku saat menggunakan tubuh-nya.
"baamm" ucap Madika dengan ekspresi datar dan seketika kepala Niverom satu langsung meledak.
__ADS_1