Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Melawan Naga (2)


__ADS_3

Setelah tekanan angin dari pedang Madika di pantul-kan, kini Madika langsung melompat ke belakang.


"apa-apaan itu? kenapa semua serangan-ku bisa dengan mudah di pantul-kan, padahal dia sama sekali tidak melakukan pergerakan apa-pun." batin Madika yang tampak bingung mencari celah untuk menyerang.


setelah itu Madika pun kembali mengalirkan angin-nya ke pedang-nya agar pedang-nya menjadi lebih kuat. "kalau sudah seperti ini lebih baik ku kerahkan semua kemampuan-ku!" batin-nya.


Setelah itu Madika pun kembali bergerak maju, dan kali ini ia memperkuat tekanan angin yang ada di pedang-nya, lalu menebas-kan pedang-nya itu dengan sangat kuat.


namun hasil-nya tetap sama seperti sebelum-nya.


melihat hal itu Madika pun mundur ke belakang, lalu dengan cepat ia menebaskan pedang-nya di udara dan di arahkan kepada Bunggu yang saat ini berada di depan-nya.


seketika dari tebasan pedang itu menghasilkan sebuah lengkungan angin yang melesat cepat ke arah Bunggu.


tak cukup sampai di situ, saat ini Madika dengan cepat bergerak mengelilingi Bunggu sambil terus melancarkan serangan lengkungan angin.


hal itu pun membuat pertahanan Bunggu terus menerima serangan yang bertubi-tubi, dan dari serangan bertubi-tubi itu kini Madika bisa mengetahui seberapa kuat dan seberapa luas jangkauan perisai tak terlihat yang di miliki oleh Bunggu.


Setelah berhasil memastikan hal itu, kini Madika pun langsung menggunakan rencana-nya yang selanjut-nya.


Saat ini Madika berhenti tepat di belakang Bunggu.


lalu dengan segera Madika melapisi pedang-nya menggunakan angin, dan kemudian ia mulai pasang kuda-kuda dengan niatan menyerang Bunggu dari belakang.


"hmm.... jadi kau pikir serangan-mu akan berhasil menembus perisai-ku jika kau menyerang dari titik buta-ku?" ucap Bunggu dengan santai-nya.


saking santai-nya, Bunggu sama sekali tak mau membalik-kan badan-nya dan terus membelakangi Madika tanpa menoleh sedikit-pun.


"masalah itu biar kita putuskan di akhir!" ucap Madika yang kini tampak bersemangat sambil berseringai.


"hahahaha...." Bunggu tertawa kecil seolah mengejek. "percaya diri itu bagus, tapi jika terlalu berlebihan kau bisa malu." ucap-nya dengan nada yang meremehkan Madika.

__ADS_1


Sementara itu, Madika saat ini sama sekali tak mau peduli dengan ucapan Bunggu. hal itu di karenakan diri-nya sedang menggunakan seluruh kekuatan Saga-nya untuk satu serangan yang akan ia lakukan kali ini. bisa di bilang serangan yang ingin ia lancarkan saat ini benar-benar sebuah pertaruhan yang hasil-nya 70% gagal. jadi ia hanya bertaruh untuk 30%-nya saja.


"kalau sampai kali ini gagal! maka tamat sudah riwayat-ku!" batin Madika.


Setelah persiapan-nya selesai, tiba-tiba tanah yang di pijaki Madika langsung hancur karena saat ini Madika sudah melesat dengan sangat cepat ke arah Bunggu sehingga kecepatan-nya menghasilkan guncangan di area pijakan-nya. sementara di area yang ia lalui saat melesat tampak tanah terbelah dan serpihan-serpihan tanah itu beterbangan di udara.


tak butuh waktu lama, kini Madika sudah tepat di depan perisai milik Bunggu.


saat ini Madika yang melesat itu ternyata menusuk-kan pedang-nya dengan memanfaat-kan momentum saat melompat serta kekuatan pedang yang sudah ia tingkat-kan, dan dengan menusuk-kan pedang itu, maka kemungkinan berhasil-nya bisa jadi lebih besar ketimbang menggunakan teknik menebas.


Alhasil kini perisai milik Bunggu pun benar-benar berhasil ia tembus.


hal itu pun membuat Bunggu langsung terkejut dengan mata yang terbelalak serta mulut yang menganga.


ketika menyadari bahwa perisai-nya berhasil di tembus, Bunggu pun dengan segera menghindari serangan Madika.


namun apalah daya, serangan Madika yang sangat cepat itu tidak bisa ia hindari secara sempurna sehingga pedang Madika kini menembus bahu Bunggu.


Setelah itu Bunggu pun dengan segera langsung melompat menjauh dari Madika sehingga kini ia terlepas dari pedang Madika yang menusuk bahu-nya.


Bunggu kini berdiri cukup jauh dari Madika. ia saat ini terlihat meringis kesakitan sambil memegang bahu-nya.


"sudah sangat lama aku tidak merasakan luka seperti ini!" batin Bunggu yang terlihat kesal pada Madika.


Sementara itu, Madika saat ini tidak terlihat senang.


berdasarkan ucapan Bunggu, Bunggu akan membebaskan-nya jika ia berhasil melukai Bunggu. namun berdasarkan pandangan-nya saat ini, kemungkinan-nya Bunggu saat ini tidak akan membiarkan Madika bebas dari tempat itu.


dengan kata lain Madika bisa atau tidak si Bunggu tetap akan memakan diri-nya, dan menurut-nya niatan Bunggu saat memberi-nya pilihan itu sebenar-nya karena ia ingin bermain-main sebentar dengan Madika sebelum ia memakan Madika.


Saat ini Madika pun tampak makin waspada, di tambah lagi ketika melihat wajah Bunggu yang terlihat kesal kepada-nya.

__ADS_1


ia yakin saat ini Bunggu pasti marah dan akan langsung menghabisi-nya.


"sial! Saga-ku sudah terkuras sangat banyak!... apa aku masih bisa bertahan dan kabur dari mahluk ini?" batin Madika yang saat ini tampak mulai berkeringat dingin memikirkan nasib-nya yang akan segera jadi santapan Bunggu si naga.


Sesaat kemudian, kini luka di tubuh Bunggu perlahan pulih, dan dia kini terlihat kembali tenang dan kembali berdiri dengan tegak.


"seperti-nya aku sudah terlalu meremehkan-mu, bocah!" ucap Bunggu sambil berjalan santai ke arah sebuah batu gua yang menjulang tajam ke atas.


tinggi batu runcing itu kira-kira satu setengah meter tinggi-nya.


lalu Bunggu pun memegang batu itu menggunakan tangan kanan-nya. setelah itu ia langsung mematahkan pangkal batu itu lalu mengangkat batu itu.


"aku merasakan firasat buruk sekarang!" batin Madika yang tampak mulai gelisah sambil menelan ludah-nya dengan kasar. "sebaik-nya aku bersiaga! aku tidak tahu serangan macam apa yang akan ia lancarkan!"


Setelah itu Bunggu yang tadi-nya mengangkat batu runcing itu, kini langsung melemparkan batu runcing itu ke arah Madika.


saat batu runcing itu berada di udara, tiba-tiba batu runcing itu berubah menjadi sangat banyak.


jumlah batu runcing itu jika di hitung jumlah-nya bisa mencapai ratusan bahkan ribuan.


bukan hanya itu, semua batu runcing itu mendadak terbakar dan di selimuti oleh kobaran api yang menyala-nyala seolah tidak akan padam.


Melihat hal itu, Madika pun langsung terkejut dan mata-nya terbelalak melihat hal itu.


"apa aku akan mati lagi?" batin Madika yang saat ini terlihat putus asa.


"tidak!.... setidak-nya aku harus berusaha menghindar!"


ucapan itu tiba-tiba terngiang di kepala Madika dan membuat-nya langsung refleks untuk berusaha menghindari serangan itu meskipun terasa mustahil.


Ketika Madika mulai menghindar, tiba-tiba waktu seolah terhenti, dan Madika saat ini lenyap dari pandangan Bunggu.

__ADS_1


tidak, lebih tepat-nya saat ini Bunggu berada di alam yang berbeda dari Madika.


__ADS_2