Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Melawan Ribuan Monster Semut (2)


__ADS_3

Saat ini gempa yang sangat kuat kini mengguncang tanah di sekitaran hutan tempat Madika yang sedang bertarung dengan si raja semut itu.


Sementara itu, si raja semut kini kembali mengomandani pasukan-nya untuk segera menyerang Madika.


Kini pasukan monster semut yang tersisa pun kembali maju ke arah Madika.


namun Madika saat ini tampak tidak khawatir sama sekali.


Kini Madika pun langsung menjentik-kan jari-nya, dan di saat yang hampir bersamaan, kini terjadi ledakan yang sangat kuat di tengah-tengah kerumunan monster semut yang hendak menyerang Madika dan yang lain-nya.


Ledakan itu terjadi secara bertubi-tubi di berbagai arah, dan hal itu pun membuat sangat banyak monster semut terhempas dan terbunuh akibat ledakan tersebut.


Ledakan itu kini memecah formasi para monster semut.


bahkan kini si raja semut pun terkena ledakan itu secara langsung dan membuat di monster semut itu sedikit terdorong ke belakang akibat ledakan itu.


Sementara itu, Aurel yang melihat ledakan yang terjadi secara tiba-tiba dan bertubi-tubi itu kini hanya bisa membelalak-kan mata-nya dengan ekspresi terkejut dan tidak menyangka.


ia bahkan saat ini tampak bingung apa yang sebenar-nya terjadi, karena ia tidak tahu bagaimana Madika bisa mencipta-kan ledakan-ledakan itu sementara ia saat ini tidak sedang menyerang secara langsung.


Aurel saat ini sama sekali tidak mengetahui tentang jurus peluru angin milik Madika itu.


meski-pun sebelum-nya Aurel sudah melihat proses pembuatan peluru angin itu, namun otak-nya tidak langsung terkoneksi untuk menduga bahwa ledakan itu berasal dari serangan peluru angin milik Madika.


"ap.... apa yang terjadi?.... bagaimana bisa di sana terjadi ledakan?" ucap Aurel bertanya-tanya dengan ekspresi bingung.


"itu adalah salah satu jurus andalan tuan Madika, dia sering mengkombinasi-kan jurus ini dengan beberapa jurus lain-nya karena jurus ini memang sangat cocok untuk di kombinasi-kan." ucap Askila memberi penjelasan.


"rupa-nya begitu." ucap gadis itu sambil mengangguk-anggukkan kepala-nya. "aku baru pertama kali melihat jurus yang seperti ini."

__ADS_1


Setelah Askila memberi penjelasan barusan, kini Aurel pun bisa mendapat-kan jawaban bahwa kemungkinan yang meledak itu adalah jurus peluru angin yang sebelum-nya Madika gunakan.


Sementara itu, si raja semut yang saat ini terlihat sedang terganggu oleh ledakan peluru angin kini tak bisa terus melanjut-kan jurus-nya yang menghasil-kan gempa tersebut sehingga kini gempa itu sudah redah.


Meski-pun sudah redah, namun tanah-tanah di sekitar mereka saat ini terlihat bergelombang akibat dari getaran gempa yang sangat kuat barusan.


Beberapa bagian tanah ada yang terbelah dan bagian lain-nya ada yang mengalami penurunan maupun kenaikan sehingga tanah yang sebelum-nya rata kini terlihat sudah tidak rata lagi.


Meski-pun begitu, Madika kini tampak tidak terlalu peduli. ia saat ini terlihat sedang terfokus untuk membuat lebih banyak peluru angin lagi.


"aku tak menyangka ternyata bawahan raja semut ini tidak-lah terlalu kuat.... entah kenapa aku merasa bahwa mereka sangat mudah untuk di bunuh." ucap Madika dalam hati sambil terus membuat peluru angin lain-nya.


Saat ini, tampak ada beberapa monster semut yang berhasil menghindari serangan dari ledakan peluru angin Madika.


sementara itu, si raja semut itu juga tampak sudah bisa mengatasi ledakan itu dengan cara melapisi tubuh-nya mengguna-kan tanah.


Tanah itu kini melapisi tubuh si raja semut dan terlihat seperti sebuah zirah besi yang melindungi tubuh si raja semut itu.


Tak lama setelah itu, kini para pasukan semut itu langsung di lapisi oleh zirah tanah yang hampir mirip dengan zirah yang di miliki oleh raja mereka.


Hal itu pun membuat banyak dari bawahan raja semut itu kini berhasil bertahan dari ledakan peluru angin milik Madika.


"tchi.... dia membuat pertahanan untuk para bawahan-nya." ucap Askila dengan ekspresi kesal.


"tidak masalah." balas Madika menimpali perkataan Askila. "lagi pula dengan ia melindungi semua bawahan-nya yang sangat banyak ini, maka besar kemungkinan bahwa energi Nosa-nya akan terkuras banyak."


"itu ada benar-nya juga, akan tetapi, jika serangan anda kini bisa di tahan oleh mereka, maka itu akan memperburuk keadaan kita saat ini." ucap Askila.


"tenang saja, masalah itu masih bisa ku atasi untuk saat ini." ucap Madika dengan senyum percaya diri.

__ADS_1


"orang ini..... apa dia benar-benar sangat kuat atau hanya terlalu sombong dan percaya diri saja?" batin Aurel bertanya-tanya saat melihat Madika yang tampak begitu percaya diri untuk melawan monster semut yang jumlah-nya kira-kira masih ada 1500-an.


Madika pun kini dengan tenang mengayun-kan tangan kanan-nya ke samping, dan di saat itu juga kini sebuah singgasana muncul tepat di belakang-nya.


Singgasana itu tampak sangat indah dan cukup mewah, hal itu pun bahkan kini berhasil menarik perhatian Aurel karena diri-nya merasa bahwa singgasana itu bukan-lah sebuah singgasana pada umum-nya.


hal itu di karena-kan saat ini ia merasa-kan sebuah aura senjata pusaka dari singgasana itu.


terlebih lagi saat ini ia melihat ada dua ekor harimau api yang sedang duduk di samping singgasana tersebut.


Madika kini berdiri menghadap ke arah dua harimau api itu dan kemudian langsung memberi perintah pada kedua harimau api itu untuk menyerang para monster semut yang sedang mencoba menyerang mereka saat ini.


"ayo, hajar semua monster semut di tempat ini!" ucap Madika memberi perintah.


"siap tuan." ucap kedua harimau api itu dengan serentak dan kemudian langsung melakukan apa yang di perintah-kan oleh Madika.


Sementara itu, saat ini, para monster semut itu ternyata telah mengganti formasi mereka.


mereka yang sebelum-nya mencoba menyerang Madika dari dekat kini mencoba untuk melakukan serangan dari jarak jauh.


Tampak beberapa monster semut langsung melesat-kan tanah runcing ke arah Madika.


tidak hanya itu saja, saat ini juga ada beberapa monster semut lain-nya memuncul-kan tanah runcing yang menjulang ke atas dan menusuk apa saja yang ada di jalur-nya.


tanah runcing yang menjulang ke atas itu tampak bergerak ke arah Madika juga, dan selain itu, ada pula sekelompok pasukan monster semut itu yang kini sedang menyiap-kan serangan yang sangat kuat yakni sebuah pedang tanah yang sangat besar.


bisa di bilang pedang itu adalah pedang raksasa yang saat ini melayang di atas sekelompok monster semut itu.


Yang lebih parah-nya lagi, jumlah kelompok yang membuat pedang raksasa itu tidak hanya satu kelompok saja. kira-kira ada empat ratus lebih kelompok yang mengguna-kan jurus pedang raksasa itu.

__ADS_1


Seketika Madika pun langsung menelan ludah kasar saat melihat para semut itu sedang menyiap-kan jurus mereka yang sangat banyak itu.


__ADS_2