
Saat ini Madika berdiri tepat membelakangi Aurel yang hampir membuka baju-nya. namun karena Madika segera menyuruh-nya berhenti, kini Aurel pun langsung berhenti dan langsung menoleh ke arah Madika tanpa memutar tubuh-nya.
"candaan-mu itu tidak lucu." ucap Aurel yang kini merasa sedikit lega karena ternyata Madika tidak berniat melakukan hal yang aneh-aneh pada diri-nya.
Sejak awal Madika memang tidak berniat macam-macam pada Aurel, ia hanya berniat menjahili Aurel ketika ia melihat sikap Aurel yang tampak ketakutan melihat diri-nya.
hal itu lah yang membuat Madika ingin menjahili Aurel dan Ingin melihat reaksi Aurel saat di jahili oleh-nya.
"berdiri-lah.... dan pakai kembali baju-mu itu." ucap Madika tanpa menoleh ke arah Aurel.
Lalu Aurel pun langsung berdiri seperti yang di perintah-kan oleh Madika.
setelah itu ia langsung mengenakan kembali baju yang sebelum-nya ia buka.
Setelah itu Aurel pun langsung memutar tubuh-nya menghadap ke arah Madika.
"terimakasih sudah memaaf-kan ku." ucap Aurel yang kini benar-benar merasa lega.
"hmm..." Madika hanya bergumam.
Setelah itu Madika pun langsung mengayun-kan tangan kiri-nya seolah sedang menyingkir-kan sesuatu, dan seketika itu, juga kini singgasana harimau api milik Madika yang saat ini berada tepat di depan Askila langsung lenyap.
Askila yang melihat singgasana itu lenyap kini langsung menoleh ke arah tuan-nya yang saat ini ia belakangi, dan setelah melihat tidak terjadi apa-apa antara Madika dan Aurel, kini Askila pun berjalan mendekati mereka berdua.
Setelah mengembalikan singgasana itu ke ruang penyimpanan, kini Madika mengangkat tangan kanan-nya ke samping sambil membuka telapak tangan-nya.
"kembali!" ucap Madika.
Seketika itu juga tongkat kaisar rotan api milik Madika yang tertancap di tanah langsung terbang dan menghampiri Madika.
Kini tongkat itu pun langsung hinggap di tangan kanan Madika.
__ADS_1
saat tongkat itu hinggap di tangan kanan Madika, kini Madika pun langsung memutar-mutar tongkat itu dan setelah memutar-nya ia menghentak-kan salah satu ujung tongkat itu ke tanah.
setelah tongkat itu di hentak-kan ke tanah, kini tongkat itu pun menghilang karena Madika telah menyimpan-nya di ruang penyimpanan milik-nya.
"ayo Askila, kita pergi dari sini." ucap Madika dengan nada suara yang datar tanpa menoleh sedikit-pun ke belakang.
Askila yang mendengar ajakan tuan-nya itu kini langsung patuh dan mengikuti tuan-nya dari belakang.
"baik tuan." jawab Askila dengan patuh sambil berjalan mengikuti Madika.
Kini Madika dan Askila pun langsung berjalan menjauh dari Aurel.
Aurel yang melihat kepergian mereka berdua kini tampak sedang terdiam, ia seolah sedang memikir-kan sesuatu.
Tak lama setelah itu, Aurel pun langsung berlari ke arah Madika dan Askila.
"hei, boleh aku ikut dengan kalian?!" teriak Aurel sambil berlari ke arah Madika dan Askila.
"hei, ke mana tujuan kalian saat ini?" tanya Aurel saat diri-nya kini berdiri di belakang Askila dan Madika.
"kami ingin pergi ke hutan Rikombo." jawab Madika dengan nada yang datar dan tidak menoleh sedikit pun ke arah Aurel yang ada di belakang-nya.
"hutan Rikombo ya.... hmm...." ucap Aurel sambil memegang dagu-nya seolah sedang berpikir. setelah itu ia melanjut-kan perkataan-nya.
"apa jangan-jangan kalian juga ingin pergi ke reruntuhan kuno itu?" tanya Aurel memasti-kan.
Madika yang mendengar ucapan Aurel kini tampak sedikit terkejut, begitu pula dengan Askila.
lalu Madika pun segera mengguna-kan telepati untuk berbicara dengan Askila.
"hei Askila, sebaik-nya sekarang kita berpura-pura tidak tahu dulu tentang reruntuhan kuno itu agar gadis ini tak menanya-kan hal yang macam-macam." ucap Madika memberi perintah pada Askila.
__ADS_1
"baik tuan, aku mengerti." jawab Askila patuh.
"gadis ini, jika dia memang mengetahui sesuatu tentang reruntuhan kuno itu, maka besar kemungkinan ia juga tahu tentang pecahan tongkat kaisar rotan api itu.... meski-pun diri-nya tidak tahu pasti bahwa itu adalah pecahan tongkat kaisar rotan api, namun ia pasti tahu kalau tongkat itu pernah jadi rebutan bahkan ada kemungkinan bahwa tongkat itu adalah sebuah pusaka rahasia.... selain itu, jika gadis ini mengetahui bahwa tujuan kami memang ke reruntuhan kuno itu, maka ia pasti akan segera mengetahui tujuan-ku untuk mendapat-kan tongkat itu.... gadis ini adalah orang asing bagi-ku, aku harus tetap waspada dan berhati-hati dalam bertindak." ucap Madika dalam hati.
Sementara itu, Askila yang sudah di beritahu-kan oleh Madika untuk berpura-pura tidak tahu kini langsung bertanya pada gadis itu.
niat Askila saat ini adalah untuk mencari tahu apa saja yang di ketahui oleh Aurel tentang reruntuhan kuno itu.
"hei bocah, apa maksud-mu dengan reruntuhan kuno di hutan Rikombo?" tanya Askila sambil menoleh ke belakang, tepat ke arah Aurel.
"ehh?.... apa kalian tidak tahu?" ucap Aurel yang tampak sedikit terkejut.
"ya.... aku baru mendengar hal itu." jawab Askila sambil mengangguk sekali.
"aku juga baru tahu." timpal Madika dengan nada suara yang terdengar datar.
"heh?.... lalu kalau kalian tidak tahu, mengapa kalian ke hutan Rikombo?.... bukan-kah hutan itu sangat jauh dari sini?.... jika alasan kalian hanya untuk berburu hewan monster maka kalian bisa berburu di hutan yang ada di kerajaan ini saja kan?" ucap Aurel yang kembali bertanya dengan penuh selidik.
"hmm..... kami ke hutan Rikombo karena mendapat panggilan dari seorang teman, dia bilang salah satu teman kami hilang di sana, jadi kami akan pergi ke sana untuk membantu-nya mencari teman kami itu." ucap Madika dengan tenang menyusun alasan sehingga kebohongan-nya itu terkesan sangat natural sehingga siapa pun yang mendengar ucapan-nya pasti tidak akan bisa mengira bahwa ia sedang berbohong saat ini.
"hmm.... begitu ya.... apa jangan-jangan teman kalian itu pergi ke reruntuhan kuno dan malah mendapat masalah dengan orang-orang lain yang ada di sana?" ucap Aurel yang kembali memegang dagu-nya seolah sedang berpikir.
"entah-lah, kami juga tak di beri tahu secara terperinci.... hanya itu saja informasi yang kami terima dari-nya." jawab Madika lagi.
Kini Aurel terus melanjut-kan pertanyaan demi pertanyaan serta mulai berbicara cukup banyak hal dengan Madika.
sementara itu, Madika kini terus melontar-kan kata-kata yang penuh dengan kebohongan tanpa terlihat seperti sedang mencari-cari alasan.
ia sangat lancar mengarang cerita bohong tanpa tersendat-sendat saat berbicara.
Sementara itu, Askila yang melihat Madika yang terus berbohong dengan lancar itu kini hanya bisa menatap Madika dengan tatapan malas.
__ADS_1
"dia mengarang cerita penuh kebohongan itu dengan sangat lancar.... benar-benar di luar nalar." ucap Askila dalam hati.