Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Tongkat Yang Di Rebut


__ADS_3

Saat ini Madika tampak tergeletak tidak berdaya di atas lantai.


sementara itu kaki Gupo saat ini tampak masih menginjak kepala Madika dan membuat kepala Madika membentur lantai hingga banyak darah yang kini mengalir dari kepala Madika.


Sementara itu, Delisa saat ini hanya menatap Madika dengan ekspresi datar.


dalam hati-nya saat ini ia merasa senang karena sudah berhasil membunuh orang yang ia anggap sebagai penyebab dari semua masalah ini.


namun, ia juga saat ini merasa sedikit bersalah karena diri-nya juga tahu bahwa yang Madika lakukan itu tidak sepenuh-nya salah.


selain itu, selama perjalanan mereka beberapa hari sebelum-nya, Delisa bisa merasakan rasa aman saat bersama Madika karena Madika selalu melindungi-nya.


"hah.... benar-benar merepot-kan!" ucap Gupo sambil memutar-mutar tongkat di tangan-nya saat ini dan kemudian menyingkir-kan kaki-nya dari kepala Madika.


"hei.... siapa nama-mu yang sebenar-nya?" tanya Gupo pada Delisa karena sejak melakukan kerjasama, Delisa tidak menyebut-kan nama-nya pada Gupo dan Kindo.


Delisa hanya mengguna-kan nama samaran, dan nama itu adalah nama seorang lelaki dan karena saat itu ia pakai alat pengubah suara, jadi Kindo dan Gupo pun mengira bahwa ia lelaki sungguhan.


"nama-ku Delisa.... Delisa Nem...." Delisa yang sedang memperkenal-kan diri seketika langsung ragu untuk melanjut-kan ucapan-nya.


entah kenapa tiba-tiba ia merasa ragu untuk mengguna-kan nama keluarga Nemosu.


hal itu di karena-kan diri-nya tiba-tiba teringat akan paman-nya sendiri yang merupakan saudara kandung ayah-nya yang tega memperko$a Salisa ibu Delisa.


Sementara itu, Gupo kini hanya memiring-kan kepala-nya dengan ekspresi meminta kejelasan karena ucapan Delisa terhenti di tengah jalan.


"hmm??" gumam Gupo.


"Delisa ya.... nama yang bagus." ucap Kindo yang baru saja tiba di samping Gupo.


"terimakasih." balas Delisa.

__ADS_1


Setelah Kindo menyela pembicaraan, kini Gupo pun berhenti untuk mempertanya-kan nama keluarga Delisa.


Setelah itu, kini Gupo pun langsung mengajak Delisa untuk ikut bersama dengan-nya karena saat ini ia akan segera kembali ke sekte Balumba sementara rekan-rekan ia perintah-kan untuk tetap melakukan perburuan harta Karun di tempat ini.


Sebelum-nya, saat mereka memutus-kan untuk melakukan kerjasama, Delisa sudah mengaju-kan satu syarat pada Gupo, yaitu rekomendasi untuk masuk ke sekte Balumba dan menjadi salah satu murid di sekte tersebut.


Gupo pun menyetujui syarat itu, namun itu baru bisa di lakukan apa bila mereka berhasil mengambil tongkat milik Madika serta membunuh Madika.


jika hal itu berhasil, maka Delisa akan mendapat rekomendasi dari Gupo, namun, jika gagal maka perjanjian mereka di batalkan.


"akhir-nya tongkat ini bisa ku dapat-kan.... jika ku serah-kan tongkat ini pada ketua sekte, maka hadiah yang di janji-kan itu akan menjadi milik-ku." ucap Gupo dalam hati.


Saat ini, di sekte Balumba terdapat satu pecahan tongkat kaisar rotan api lain-nya, tongkat itu sudah di waris-kan secara turun-temurun kepada setiap ketua sekte baru yang memimpin sekte tersebut.


hal itu pun membuat informasi rinci tentang tongkat itu hanya di ketahui oleh pemimpin sekte saja sementara yang lain-nya sama sekali tidak tahu apa-apa.


Bisa di pasti-kan, kemungkinan para pemimpin sekte itu tahu bahwa pecahan tongkat kaisar rotan api itu jumlah-nya ada empat dan tongkat itu bisa di satu-kan.


Tidak ada yang tahu apa tujuan para pemimpin sekte itu sampai menyembunyi-kan informasi pecahan tongkat itu dengan sangat rapat. oleh karena itu, kini banyak orang yang hanya menerka-nerka tentang informasi yang hanya sedikit yang mereka miliki saat ini.


Kini Gupo pun langsung menyuruh semua rekan-nya untuk melanjut-kan perburuan, sementara itu, ia dan Delisa kini langsung beranjak dari ruangan itu dan meninggal-kan Kindo dan para rekan-nya di sana.


"ayo Delisa.... kita pergi dari sini." ucap Gupo mengajak Delisa untuk pergi dari tempat itu.


"uhmm..." gumam Delisa yang kemudian langsung beranjak dari tempat ia berdiri dan kemudian langsung mengikuti Gupo dari belakang.


Sementara itu, Kindo yang saat ini masih berdiri di hadapan Madika yang masih terkapar di lantai kini langsung menatap Madika dengan kesal.


Lalu Kindo pun langsung menendang kepala Madika dengan sangat kuat dan hal itu pun membuat Madika terseret hingga jarak lima meter dari tempat sebelum-nya.


"dasar bocah sialan!.... mampus kau!... ini akibat-nya jika kau cari masalah dengan kami!!" bentak Kindo yang saat ini menggerutu kesal dan penuh amarah.

__ADS_1


Setelah itu ia pun berjalan ke arah Madika yang saat ini sudah tak berdaya.


Madika saat ini terus mencoba mengfokus-kan energi Saga-nya untuk menahan jantung-nya agar tetap memompa darah dan tetap bekerja dengan baik.


Sementara itu, Kindo yang saat ini sudah berada dekat dengan Madika kini langsung meludah ke arah Madika.


"tchuii!"


Ludah Kindo kini menempel di rambut Madika. namun Madika tetap diam saja, ia bahkan mencoba untuk pura-pura mati agar Kindo dan para rekan-nya segera pergi dari sana.


Setelah itu, kini rekan-rekan Kindo datang menghampiri Kindo yang sedang berdiri di depan tubuh Madika yang masih tergeletak itu.


"apa dia sudah mati?" tanya salah satu rekan Kindo.


"masih belum.... tapi seperti-nya ia sudah tidak punya harapan lagi..... energi Saga milik-nya semakin melemah, sementara jantung-nya saat ini sudah bocor.... dia hanya akan menunggu waktu kematian-nya di sini." jawab Kindo yang bisa melihat keadaan Madika saat ini.


Memang benar, saat ini Madika mengguna-kan sangat banyak energi untuk meregenerasi sel-sel yang ada pada jantung-nya, dan hal itu pun membuat energi Saga-nya jadi sangat boros.


"hmm.... kalau begitu kita pergi saja.... jika di sini terus kita hanya akan buang-buang waktu." ucap pria lain-nya menyaran-kan.


"kau benar, ayo pergi dari sini." balas Kindo menanggapi perkataan rekan-nya itu.


Setelah berkata seperti itu, kini Kindo pun langsung beranjak dari tempat berdiri-nya.


sementara itu para rekan-nya yang berdiri berkumpul kini langsung membuka-kan jalan bagi Kindo.


Sebelum para rekan Kindo beranjak dari tempat itu, kini para rekan Kindo juga ikut meludahi Madika dan mengeluar-kan kata-kata kotor untuk mengolok-olok Madika.


Setelah itu kini mereka semua pun pergi dari ruangan itu dan meninggal-kan Madika seorang diri di tempat itu.


__ADS_1


__ADS_2