
Ketika ksatria dua itu terus menyerang Niverom dua secara bertubi-tubi. kini tampak Niverom dua makin kerepotan dan kesal melihat serangan ksatria dua yang terus melesat ke arah-nya.
sementara itu, Niverom dua yang sedari tadi di serang kini terlihat tubuh-nya mengalami beberapa luka yang cukup parah sehingga darah-nya banyak yang keluar.
Tak lama setelah itu, tiba-tiba sebuah petir menyambar dari atas dan langsung menyambar ksatria dua yang sedari tadi fokus menyerang Niverom dua.
petir itu menyambar tepat di atas kepala ksatria dua dan membuat ksatria dua tak bisa berkutik.
Sementara itu, Niverom dua yang saat ini hampir tertusuk oleh pedang es tampak terkejut karena pedang es itu mendadak hilang dari hadapan-nya.
ia kemudian melihat ke arah ksatria dua dan ia terkejut melihat ksatria dua itu kini sedang tersambar oleh petir.
"dia benar-benar orang yang ceroboh." ucap Niverom satu yang tiba-tiba berada di belakang Niverom dua.
Niverom dua yang mendengar ucapan itu langsung menoleh ke belakang dan mendapati Niverom satu yang sedang berjalan santai ke arah-nya.
"apa maksud ucapan-mu?" tanya Niverom dua.
"orang itu terlalu memfokuskan serangan-nya kepada-mu karena ia menganggap-mu sebagai ancaman besar karena hanya kau yang berani menerobos seperti itu.... akibat-nya ia malah melemahkan serangan yang di arahkan kepada-ku dan malah memperkuat serangan yang di arahkan kepada-mu.... hasil-nya, aku jadi lebih mudah dan lebih leluasa untuk menyerang balik diri-nya." jelas Niverom satu.
"begitu ya." balas Niverom dua dengan singkat.
Setelah itu kedua Niverom itu langsung melesat ke arah ksatria dua yang saat ini sedang tertunduk lesu karena serangan barusan.
ia kemudian menatap ksatria satu.
"maaf.... aku tak bisa lagi melakukan lebih dari ini!"ucap ksatria dua dengan ekspresi pasrah.
Sementara itu, ksatria satu yang mendengar ucapan itu langsung paham dan kini tampak pasrah dengan keadaan.
"seperti-nya kita akan berakhir di sini." ucap ksatria satu sambil menatap dua Niverom yang kini berdiri di hadapan mereka.
__ADS_1
"baiklah.... karena aku tidak suka basa-basi jadi aku akan segera membunuh kalian berdua!" ucap Niverom satu sambil mengangkat tangan kanan-nya dan mengarahkan tangan kanan-nya kepada dua ksatria itu.
seketika di tangan kanan Niverom itu muncul sebuah bola bercahaya yang tercipta dari petir. di sekitar bola itu terlihat ada percikan-percikan petir yang merambat di udara.
"matilah!" ucap Niverom satu sambil melancarkan serangan-nya itu.
Ketika kedua ksatria melihat bola petir itu melesat ke arah mereka, kedua-nya pun langsung memejamkan mata dan bersiap untuk mati.
namun tak di sangka-sangka bola petir yang melesat ke arah mereka kini menghantam perisai angin yang terbentuk di depan mereka.
mereka berdua yang merasa bahwa ada yang menahan serangan bola petir itu kini langsung membuka mata-nya dan melihat bahwa benar ada sebuah perisai angin yang melindungi mereka.
kedua-nya pun terkejut melihat perisai angin itu.
"maaf aku datang terlambat ke tempat ini." ucap Madika yang saat ini sedang berjalan santai dari arah belakang ksatria itu.
Mendengar suara Madika, kedua ksatria itu pun langsung menoleh ke belakang dan mendapati sosok pemuda tampan yang sedang berjalan ke arah mereka.
"maaf saja paman, aku datang ke sini karena ingin membantu kalian." ucap Madika dengan jujur.
namun perkataan Madika tak di dengarkan oleh kedua ksatria itu.
justru kedua ksatria itu kini terlihat berusaha untuk berdiri meskipun mereka sudah sangat kelelahan dan sudah kehabisan Saga.
"pergilah nak!.... kami akan menahan Niverom ini sampai kau berhasil menjauh." ucap ksatria satu sambil mengibaskan tangan-nya ke samping sebagai tanda bahwa ia akan melindungi Madika.
"tapi ak...." ucapan Madika terhenti.
"cepatlah!.... selagi ada kesempatan.... tidak usah pikirkan kami!.... meskipun kami mati di sini, tapi setidak-nya kami bisa menyelamatkan salah satu generasi penerus negri ini!" ucap ksatria dua tanpa menoleh pada Madika.
Madika yang mendengar ucapan kedua ksatria itu kini tersenyum tipis. ia merasa terharu dengan perjuangan para ksatria itu.
__ADS_1
"ksatria profesional memang beda." ucap Madika yang kini kembali berjalan ke arah kedua ksatria itu. "kalian lebih memilih melindungi orang lain meskipun kalian tahu bahwa kalian sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi untuk menghadapi para Niverom itu.... aku benar-benar terharu dengan perjuangan kalian." ucap Madika sambil berjalan melewati kedua ksatria itu.
Kedua ksatria yang melihat Madika yang berjalan melewati mereka berdua kini langsung terkejut dan mulai panik sendiri.
"hei nak!.... jangan ceroboh!.... aku tak tahu kenapa Siswa tingkat atas seperti-mu bisa sampai ke wilayah terdalam seperti ini.... tapi yang jelas kedua Niverom itu bukanlah tandingan pengguna Saga tingkat atas seperti-mu!" tegas ksatria satu dengan ekspresi panik.
Baru saja ksatria satu mengatakan hal itu, tiba-tiba sebuah pedang api langsung melesat ke arah Madika dengan sangat cepat.
namun dengan refleks yang cepat Madika langsung memutar tubuh-nya sambil mengeluarkan pedang dari sarung-nya seraya menebas pedang api itu menggunakan pedang-nya yang sudah ia perkuat menggunakan elemen angin milik-nya.
Niverom yang melihat refleks Madika langsung terkejut dan memuji kecepatan reaksi Madika terhadap suatu gerak.
"ternyata reaksi-mu lebih cepat dari dugaan-ku.... padahal masih tingkat atas." ucap Niverom itu sambil berseringai licik dan seolah meremehkan Madika.
Sementara itu, Madika yang melihat ekspresi Niverom satu yang menyerang-nya itu kini langsung tampak serius.
ia kemudian berbicara dengan Bunggu melalui perantara Saga.
"Bunggu, kau cukup melindungi-ku saja, untuk bertarung biar aku sendiri yang mengatasi-nya.... aku ingin mengasah teknik bertarung-ku!" ucap Madika.
Tak lama setelah berkata seperti itu, kini Madika langsung melesat dengan cepat dan dengan sangat tiba-tiba. hal itu membuat tanah yang ia pijaki sebelum-nya kini terlihat seolah terjadi ledakan akibat gaya gesek antara kaki-nya dengan tanah.
Niverom satu yang melihat pergerakan Madika yang sangat cepat kini langsung mengeluarkan perisai angin-nya untuk menahan serangan Madika.
namun saat Madika berada di dekat Niverom satu, Madika dengan sekuat tenaga langsung menebas perisai api itu sehingga terjadi sebuah ledakan dahsyat yang membuat kedua Niverom itu terhempas oleh tekanan angin yang sangat kuat di sertai kobaran api yang dihasilkan oleh perisai api milik-nya sendiri.
bukan hanya kedua Niverom itu saja yang terkena dampak ledakan. di belakang Madika tampak kedua ksatria itu terseret ke belakang karena terkena tekanan angin. kedua-nya berusaha menahan tubuh mereka agar tidak ikut terhempas.
sementara itu, kedua-nya kini menatap Madika yang saat ini tampak tidak terseret sedikitpun oleh angin itu.
Melihat hal itu, kedua ksatria profesional itu langsung terbelalak menatap Madika.
__ADS_1
"siapa sebenar-nya anak ini?" batin ksatria satu yang tampak takjub pada Madika.