
Saat ini Sugiono tampak tertawa puas setelah diri-nya tak bisa mendeteksi keberadaan Madika di tengah-tengah kepulan asap tebal yang di hasilkan oleh ledakan besar dari panah api milik-nya.
"ku pikir ini akan lebih sulit, tapi ternyata justru sebalik-nya.... seperti-nya aku terlalu memandang tinggi bocah kelas satu itu." ucap Sugiono dengan ekspresi yang sedikit merendahkan Madika.
"apa kau yakin benar-benar semudah itu mengalahkan-ku?"
Sebuah suara yang tiba-tiba muncul itu mengejutkan Sugiono.
Sugiono tentu-nya tidak bodoh. ia benar-benar mengenal bahwa yang berkata barusan adalah Madika karena ia bisa mengenali suara Madika dengan baik setelah berbicara dengan-nya walau hanya sejenak.
Di sisi lain, kepulan asap yang barusan menutupi tempat Madika berdiri kini terlihat sedang di bersihkan oleh hembusan angin yang cukup kuat.
angin itu di hasilkan oleh salah satu teknik milik Madika.
"seperti-nya kau terlalu percaya diri sampai-sampai mendeklarasikan kemenangan sebelum benar-benar memastikan kebenaran-nya." ucap Madika sambil berseringai seolah sedang mengejek Sugiono.
"ba.... bagaimana bisa!.... barusan aku sama sekali tidak merasakan keberadaan-nya!" ucap Sugiono tergagap-gagap karena tidak percaya akan apa yang di lihat-nya saat ini.
setelah berkata seperti itu, kini Sugiono dengan cepat langsung menyebarkan kesadaran-nya menggunakan Saga untuk mendeteksi.
namun setelah melakukan hal itu, kini ia terkejut lagi karena saat ini Madika sudah bisa di deteksi menggunakan teknik pendeteksian itu.
"ba.... bagaimana kau melakukan hal itu sial@n?!" ucap Sugiono yang mendadak kesal sambil menunjuk Madika dengan kasar.
Madika yang mendapati pertanyaan itu hanya memiringkan kepala-nya dengan ekspresi bingung.
"melakukan apa?" tanya Madika.
__ADS_1
"bagaimana kau selamat dari serangan-ku barusan?!.... dan yang terpenting bagaimana bisa kau menyembunyikan keberadaan-mu!!..... aku belum pernah dengar teknik yang bisa menyembunyikan keberadaan seseorang!" ucap Sugiono dengan kasar dan berteriak-teriak.
Mendengar pertanyaan yang terperinci dari Sugiono, kini Madika pun langsung menghela nafas .
ia tampak seolah sedang malas untuk menjelaskan.
namun, saat Madika menoleh ke segala arah, Madika pun menyadari bahwa tak ada satu-pun yang paham apa yang baru saja terjadi.
semua-nya terlihat terkejut dengan ekspresi plonga-plongo, bahkan kepala akademi dan tuan Samon tampak sedang bingung serta terlihat seolah sangat menginginkan penjelasan dari Madika.
"hah....." Madika menghela nafas dengan ekspresi lelah. "bahkan tuan Samon pun ternyata belum memahami dan mengetahui apa yang ku lakukan sebelum-nya.... seperti-nya pengetahuan tentang teknik menghilangkan keberadaan dari teknik pendeteksian benar-benar belum banyak yang mengetahui-nya.... benar-benar hanya sepelintir orang saja yang mengetahui-nya." ucap Madika dalam hati sambil memegang kepala-nya menggunakan jari tunjuk dan jari tengah.
"biar ku beritahu-kan pada-mu.... sebenar-nya sejak awal aku sudah menduga bahwa panah api yang kau gunakan itu bukanlah panah api biasa.... karena itu, saat aku menghindari anak panah itu, aku sudah menempatkan sedikit Saga-ku ke anak panah itu untuk mendeteksi pergerakan anak panah-mu itu.... biasa-nya kita tak bisa menempatkan Saga pada tubuh pengguna Saga lain-nya karena akan sangat mudah di sadari oleh si pengguna..... akan tetapi bagaimana jika yang di tempati Saga itu adalah sebuah elemen yang di hasilkan oleh Saga?." jelas Madika.
Sugiono yang mendengar penjelasan itu hanya bisa memiringkan kepala-nya dengan ekspresi bodoh.
"saat Saga di tempatkan pada sebuah elemen, saat itu penggunaan elemen tidak akan bisa membedakan Saga milik-nya dengan Saga yang ia gunakan untuk mengendalikan elemen yang ia miliki." jelas Madika lagi. "inti-nya, sejak awal aku sudah mengantisipasi serangan panah api-mu itu.... aku bahkan dengan cepat mengaktifkan perisai angin yang hampir tak terlihat saat panah api-mu itu sudah sangat dekat dengan-ku.... meskipun awal-nya aku salah perhitungan karena tidak berpikir bahwa anak panah-mu itu bisa bertambah jumlah, tapi pada akhir-nya aku tetap bisa mengatasi semua-nya karena sejak awal aku sudah mengantisipasi ledakan dari serangan-mu sehingga aku pun menciptakan perisai itu di sekeliling-ku untuk mencegah ledakan itu agar tak mengenai-ku." jelas Madika.
"namun.... untuk trik yang ku gunakan untuk membuat-mu tak bisa mendeteksi keberadaan-ku akan tetap ku rahasiakan karena itu adalah bagian dari teknik spesial." ucap Madika yang tidak ingin membagi-kan teknik yang ia ketahui itu kepada sembarang orang.
"tchi.... tidak ku sangka kau punya trik seperti itu... aku yakin kau pasti sering mengkombinasikan trik itu agar bisa menyergap lawan-mu saat mereka lengah dan berpikir bahwa kau sudah kalah." ucap Sugiono.
"hahahaha tentu saja." ucap Madika sambil tertawa.
"oh iya.... karena aku sudah mematahkan strategi-mu barusan, maka aku ingin bertanya, kira-kira kau bisa mematahkan trik-ku atau tidak?" ucap Madika bertanya sambil menunjuk Sugiono dengan tenang.
"trik?" ucap Sugiono bertanya-tanya dengan ekspresi yang tampak mulai waspada.
__ADS_1
~CLACKK~
Madika menjentik-kan jari-nya, dan di saat yang bersamaan terjadilah ledakan yang sangat kuat di dekat Sugiono.
ledakan itu pun membuat Sugiono terhempas cukup jauh.
baru saja Sugiono berhenti terseret di lantai, tiba-tiba terjadi lagi ledakan yang membuat Sugiono tak sempat mengambil gerakan untuk menghindar maupun mengantisipasi ledakan itu.
Ledakan itu kini terjadi secara berulang-ulang dan terjadi secara beruntun.
di sisi lain, Madika saat ini terus menyiapkan peluru angin. ia terus menyebarkan peluru angin di segala tempat yang mungkin akan di lalui oleh Sugiono saat terhempas oleh ledakan.
Sementara itu, Sugiono yang saat ini terhempas kemana-mana tampak kesal dengan ekspresi wajah meringis menahan kesakitan yang ia rasakan.
"apa-apaan ini?" batin Sugiono. "aku sama sekali tak di beri kesempatan untuk berdiri dengan baik...
lagi pula dari mana saja asal ledakan ini?.... kenapa tiba-tiba terjadi begitu saja?.... bocah kelas satu ini benar-benar punya banyak teknik yang penuh dengan misteri!" batin Sugiono.
Saat ini Sugiono sedang terhempas kemana-mana. saat terhempas di udara, diri-nya sesekali berputar di udara untuk mengambil posisi yang baik untuk berdiri agar bisa menghindari ledakan berikut-nya.
namun baru saja kaki-nya hendak menyentuh lantai, tiba-tiba sebuah ledakan lagi terjadi di dekat-nya dan membuat-nya terhempas ke samping.
Ledakan beruntun terus terjadi dan membuat Sugiono jadi seperti sebuah bola yang sedang di oper-oper oleh para pemain bola.
Sugiono kini berlumuran darah.
dari mulut-nya banyak keluar darah. begitu pun di hidung, mata, bahkan telinga serta kepala-nya.
__ADS_1