
Saat ini seluruh siswa akademi Walawatu yang di lindungi oleh guru pemandu langsung memberikan bantuan pada guru itu.
Mereka menggunakan kekuatan mereka masing-masing untuk melapisi penghalang milik guru pemandu itu.
Namun karena tekanan anginnya terlalu kuat, kini penghalang mereka tetap terlihat mulai retak.
Melihat hal itu, kini Natalia pun langsung mengangkat tangan kanannya dan mulai membuat sebuah perisai pelindung yang sangat kuat untuk membantu melapisi penghalang tersebut.
"Perisai naga halilintar!!" Ucap Natalia dengan nada suara yang tegas.
Seketika itu juga dari bawah lantai yang mereka pijaki muncul sebuah mulut naga berwarna biru yang saat ini tampak sedang membuka mulutnya lebar-lebar.
Lalu kepala naga raksasa itu langsung menelan penghalang guru pemandu dan para siswa lainnya.
Dengan demikian, kini penghalang milik mereka sudah di lapisi oleh perisai kepala naga halilintar milik Natalia.
"Terimakasih Natalia!" Ucap guru pemandu sambil menoleh ke samping karena Natalia saat ini berdiri di sampingnya.
"Tidak perlu sungkan! di sini status ku adalah seorang murid, bukan seorang putri kerajaan!" Ucap Natalia dengan ekspresi yang tampak datar.
Di sisi lain, Axel yang melihat jurus milik Karina itu kini langsung kagum dengan kemampuan Natalia.
Berdasarkan informasi yang pernah ia dengar, jurus yang di gunakan Natalia ini adalah salah satu jurus pelindung terkuat dari keluarga kerajaan.
"Gadis ini! Ternyata dia memang putri kerajaan! Tidak ku sangka aku benar-benar sudah membuat masalah dengannya!" pikir Axel.
Sementara itu, amukan angin di luar sana masih belum terhenti sehingga semua yang bertahan saat ini hanya bisa terus memperkuat perisai mereka masing-masing.
Namun tampak kehancuran sudah terjadi di mana-mana.
Sudah sangat banyak bangunan di dekat arena itu yang hancur berantakan dan tersapu rata.
Bahkan para tetua dan ketua sekte kini harus turun ke lantai bawah karena tempat yang mereka tempati sebelumnya sudah hancur dan seluruh puing-puing bangunan itu di bawa terbang oleh gelombang angin itu.
Gelombang angin yang tidak terkendalikan itu bahkan kini sudah membuat penggunanya sendiri terhempas karena serangannya sudah tidak beraturan lagi arahnya.
__ADS_1
Tampak Gupo sedang terhempas dan di seret oleh gelombang angin itu hingga menghantam beberapa tembok hingga tembok-tembok itu hancur.
Efek dari ledakan angin ini sangat kuat sampai-sampai menghancurkan banyak bangunan tempat tinggal para murid sekte yang berada di dekat arena tersebut.
"Ini benar-benar sangat kacau!" Ucap ketua sekte dengan ekspresi kesal.
Beberapa saat kemudian, kini gelombang angin itu telah berhenti dan badai mengerikan pun telah reda.
Terlihat kini beberapa tembok perlahan runtuh dan beberapa bongkahan tembok berserakan di sekitar tempat itu karena tadi banyak bongkahan tembok yang hanya terputar-putar di sekitar arena akibat arah gelombang angin yang tidak menentu.
Sementara itu, Gupo yang sedari tadi terhempas kesana-kemari akibat gelombang angin yang tidak menentu kini terlihat sedang mencoba bangun.
Tubuhnya saat ini tampak penuh dengan luka, selain itu wajahnya kini terlihat memiliki darah yang membalutnya.
Sepertinya kepala Gupo saat ini terluka dan darah pun keluar dari bagian itu serta mengalir hingga ke wajahnya sehingga wajah Gupo kini hampir berlumuran dengan darah.
"Tchi! Sialan! Tidak ku sangka akan seperti ini jadinya!" Ucap Gupo yang merasa sangat kesal.
Lanjutnya lagi sambil mencoba mencari keberadaan Madika.
"Siapa yang kau sebut terluka?" Tanya Madika yang baru keluar dari balik bayangan yang ada di belakang Gupo.
Seketika Gupo terkejut dan dengan refleks Gupo bergerak menjauh dari tempat Madika berdiri saat ini.
"Apa apaan itu?!" Ucap Gupo yang tampak sangat terkejut karena Madika ternyata tidak terluka sama sekali.
"Bagaimana bisa seperti ini?! Harusnya kau juga terluka parah sialan!!" Bentak Gupo setelah mendarat sambil menunjuk Madika dengan kasar.
Sementara itu, para tetua, ketua sekte dan orang-orang yang saat ini berhasil bertahan dari gempuran badai itu kini langsung terkejut melihat jurus yang di gunakan oleh Madika barusan karena Madika tiba-tiba muncul dari balik bayangan dengan sangat cepat.
"Bocah ini?!"
"Bagaimana bisa dia melakukan itu?!"
"Siapa dia sebenarnya?!"
__ADS_1
"Inikah alasan klan petir bisa kalah darinya?!"
Keempat tetua klan langsung memberi komentar karena mereka benar-benar sangat terkejut melihat hal itu.
"Selain bisa menggunakan jurus tingkat dewa, ia juga bahkan bisa menggunakan jurus yang misterius itu!" Ucap si ketua sekte dengan ekspresi bertanya-tanya dan merasa bingung dengan keadaan mereka saat ini.
Di kepala semua orang kini di penuhi tanda tanya tentang siapa Madika yang sebenarnya.
Sementara itu Natalia yang melihat kejadian barusan kini hanya bisa terdiam dan menatap Madika dengan ekspresi kagum di wajahnya.
Di sisi lain, si Axel yang dari kejauhan bisa melihat ekspresi Natalia yang tampak mengagumi Madika itu kini langsung merasa kesal.
Ia kemudian menoleh ke arah Madika yang saat ini sedang berdiri berhadapan dengan Gupo.
"Hanya jurus kecil begitu saja!! Memangnya pria itu bisa menang jika melawanku hah?!" pikir Axel sambil menatap Madika dengan tatapan angkuh.
"orang itu saat ini masih beruntung karena hanya Gupo yang turun tangan, tapi setelah ini aku sendirilah yang akan turun tangan dan menghancurkan bocah itu! Dengan begitu Natalia pasti akan kecewa padanya dan aku pun bisa mendapat pengakuan dari Natalia!! Hahaha!" Ucap Axel dalam hati sambil tertawa.
"Bocah sialan! Beraninya kau menghinaku seperti itu!!" Bentak Gupo yang tampak sangat marah pada Madika karena sebelumnya Madika sempat mengucapkan kata-kata yang membuat Gupo merasa di rendahkan.
"Itu bukanlah menghina, toh aku hanya bicara apa adanya!" Jawab Madika dengan santainya Sambil menyimpan kembali pedang ganda miliknya itu.
"Sialan! Meskipun aku tak tahu bagaimana kau melakukan trik barusan! Namun kali ini aku pasti akan benar-benar membunuhmu!!" Bentak Gupo.
"begitu ya... Kalau begitu sekarang aku ingin bertanya padamu! Apa kau ingin tahu bagaimana aku bisa hidup kembali dan bisa berada di sini?" Tanya Madika sambil tersenyum tipis namun terkesan seolah meremehkan Gupo.
"Aku sudah tidak peduli lag!...."
JLEEBBB!!
Seketika sebuah tangan menembus bagian dada Gupo dari arah belakang hingga tembus ke depan, dan di depan dada itu tampak tangan yang menusuk dada Gupo dari belakang itu kini sedang memegang sebuah jantung yang saat ini masih terlihat berdetak-detak.
"Jika kau benar-benar ingin tahu, maka bagaimana kalau kau mati dulu, mungkin setelah itu kau akan tahu bagaimana cara untuk hidup lagi!" Ucap Madika yang saat ini sudah berada di belakang Gupo dan menusuk tubuh Gupo menggunakan tangannya.
Setelah itu Madika pun langsung menghancurkan jantung Gupo yang saat ini berada di genggamannya dan hal itu pun membuat Gupo tak berdaya lagi dan akhirnya menarik nafas terakhir tanpa memejamkan matanya.
__ADS_1