
Saat ini Askila dan para kloning-nya tampak sedang berusaha menahan Kinto dan para bawahan-nya, sementara Madika kini sedang membuka segel yang ada pada pintu itu dengan mengguna-kan jurus penghancur segel milik-nya.
Kini Madika pun langsung mengangkat tangan-nya di depan dada dengan posisi telapak tangan terbuka sambil mengarah-kan telapak tangan-nya pada pintu itu.
Seketika kini dari tangan Madika keluar energi Saga yang bergerak ke arah pintu itu.
energi Saga yang keluar itu tampak seperti dua pita yang sedang bergerak melingkar dan membentuk spiral sambil mendekati pintu tersebut.
Tak butuh waktu lama, kini energi Saga Madika itu pun telah menyentuh pintu itu, namun tampak energi Saga itu tidak sepenuh-nya menyentuh pintu itu karena saat ini energi Saga itu tertahan oleh sebuah segel penghalang yang terpasang di pintu itu.
Sementara itu, Kinto yang sempat menoleh ke arah Madika dan melihat energi Saga Madika tertahan di penghalang itu kini langsung tersenyum licik dan meremeh-kan Madika.
"hmmp!..... jangan pikir semudah itu membuka segel reruntuhan kuno bocah!" ucap Kinto dengan ekspresi meremeh-kan dan menatap Madika dengan tatapan sinis.
"bacot lu anjin9!!" ucap Askila sambil melesat-kan sebuah laser petir ke arah Kinto.
hal itu pun membuat Kinto terkejut dan segera menghindari serangan dari Askila.
"jangan coba-coba berpaling dari lawan-mu jika kau tak ingin mati!" bentak Askila yang kemudian mengeluar-kan sepuluh pedang petir di atas tubuh-nya.
"ya ampun.... anjin9 yang satu ini memang benar-benar merepot-kan!' ucap Kinto sambil menatap malas ke arah Askila.
"sudah ku bilang aku bukan anjin9!!" bentak kloning Askila sambil melompat ke arah Kinto dan dengan cepat melancar-kan serangan cakar petir ke arah Kinto.
"hahahaha.... benar-benar tak tahu diri!" balas Kinto sambil menangkis semua serangan cakar petir milik kloning Askila mengguna-kan tombak petir di tangan-nya.
Di sisi lain, Madika yang mengguna-kan Saga-nya itu kini menerus-kan jurus-nya itu.
tak lama kemudian kini energi Saga yang Madika arah-kan ke pintu itu langsung menyebar di penghalang itu, dan tampak energi Saga Madika mulai menempel di segel penghalang itu dan mulai menyebar bagai-kan sebuah akar serabut.
__ADS_1
Saat seluruh energi Madika yang membentuk seperti akar serabut itu susah sepenuh-nya melekat di penghalang itu, kini Madika pun langsung mengepal-kan tangan-nya dengan kuat.
Seketika segel itu pun berhasil di hancur-kan, dan penghalang itu pun kini tampak hancur berkeping-keping bagai-kan kaca yang di hancur di lempari batu.
Melihat hal itu, Kinto pun langsung terkejut dan menatap Madika dengan ekspresi yang tampak tidak percaya.
"ba.... bagaimana bisa?!.... dia kan seorang diri!... bagaimana bisa menghancur-kan segel itu seorang diri?!" ucap Kinto dengan ekspresi terkejut.
Kinto tentu-nya sangat terkejut melihat hal itu karena sejak saat mereka masuk ke tempat ini, mereka membutuh-kan setidak-nya tiga atau empat orang untuk menghancur-kan segel yang ada di setiap pintu ruangan yang mereka masuki.
Namun Madika justru hanya cukup membuka-nya seorang diri dan dengan sangat mudah bisa membuka-nya.
Kini Madika pun langsung mendorong pintu itu mengguna-kan tangan-nya dan saat pintu itu sudah terbuka, kini Madika pun menoleh ke arah Askila dan berbicara pada Askila melalui telepati.
"baiklah, aku mau masuk dulu." ucap Madika berpamitan dan langsung masuk ke dalam ruangan itu tanpa menunggu respon dari askila.
Kini Madika pun mulai masuk ke dalam ruangan itu dan mulai memperhati-kan sekeliling-nya.
Di ruangan itu terdapat beberapa pilar-pilar besar yang berdiri kokoh dan sejajar layak-nya sekelompok prajurit yang sedang membuka-kan jalan bagi seorang raja.
dan di depan Madika saat ini, yakni di ujung jejeran pilar-pilar besar itu tampak sebuah tugu dengan motif yang sangat indah.
Di atas tugu itu tampak ada sebuah kristal berwarna merah darah dan di belakang tugu itu tampak sebuah patung monster gorila yang sedang berdiri tegap menghadap ke pintu masuk.
patung gorila itu tampak memiliki tinggi yang mencapai lima meter, dan ia juga tampak memiliki dua tanduk di kepala-nya serta di mulut-nya terdapat empat gigi runcing yang terlihat menjulur keluar.
Madika yang melihat hal itu kini hanya bergumam sambil terus berjalan mendekati tugu itu.
"aku merasa-kan pancaran energi senjata pusaka dari kristal itu." ucap Madika dalam hati sambil terus melangkah.
__ADS_1
Setelah Madika berada lima puluh meter dari tugu itu, tiba-tiba kristal di tugu itu langsung memancar-kan cahaya merah yang sangat menyilau-kan dan membuat Madika langsung refleks menutup mata-nya mengguna-kan tangan kanan-nya.
"apa lagi yang terjadi kali ini?" ucap Madika dalam hati.
Setelah kristal itu berhenti memancar-kan cahaya, kini Madika pun menurun-kan tangan-nya dan langsung melihat ke arah tugu itu.
Baru saja Madika melihat ke arah tugu itu, tiba-tiba Madika di kejut-kan oleh seekor gorila yang tampak melompat ke arah-nya sambil mengayun-kan sebuah kapak besar ke arah-nya.
gorila itu tampak mengguna-kan sebuah tameng besar di tangan kiri-nya dan sebuah kapak besar di tangan kanan-nya.
Madika yang terkejut melihat hal itu kini langsung melompat ke belakang dengan refleks.
"huwaahh.... bahaya sekali!!" ucap Madika yang kini sedang berada di udara.
Lalu Madika yang masih berada di udara itu kini langsung memuncul-kan puluhan pedang angin di udara, dan dengan cepat ia mengibas-kan tangan kanan-nya ke samping.
seketika itu juga puluhan pedang angin itu langsung melesat ke arah si monster gorila yang sangat besar itu.
Namun saat pedang angin Madika berada dekat dengan si monster gorila, kini si monster gorila itu langsung mengguna-kan tameng besar-nya itu untuk menahan serangan dari pedang angin Madika.
Hal itu pun membuat serangan pedang angin Madika kini langsung menghantam perisai milik si monster gorila itu.
pedang-pedang angin Madika itu pun kini langsung hancur saat menghantam perisai milik monster gorila itu, sementara si monster gorila itu kini tampak baik-baik saja, bahkan perisai milik-nya juga sama sekali tidak tergores sedikit-pun.
"perisai itu seperti-nya akan sangat merepot-kan." ucap Madika dalam hati.
Lalu Madika pun langsung memuncul-kan pedang ganda milik-nya dan dengan segera Madika melesat-kan tebasan angin secara bertubi-tubi ke arah gorila itu.
Sementara si gorila yang melihat hal itu kini langsung melempar-kan kapak besar milik-nya itu ke arah Madika dan kapak besar milik gorila itu tampak menghancur-kan beberapa tebasan angin Madika.
__ADS_1