Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Kelompok Niverom


__ADS_3

Setelah mendengar perintah dari Madika untuk berkumpul di satu titik yang sudah di tentukan, kini ketujuh anggota kelompok itu langsung berkumpul di tempat yang di maksud.


lalu Madika pun meminta mereka untuk melakukan perburuan secara berkelompok.


Kini ketujuh anggota Madika pun Madika arah-kan ke tempat yang aman dan terhindar dari kelompok dari akademi lain-nya sehingga anggota kelompok-nya itu bisa berburu dengan bebas tanpa harus saling menyenggol dengan siswa dari akademi lain.


"nah dengan begini aku bisa meminimalisir pertarungan yang tidak berarti antara siswa akademi Walawatu dan siswa akademi lain-nya." batin Madika sambil terus memantau pertarungan ketujuh anggota-nya itu.


Kini ketujuh anggota Madika itu menyerang monster secara bergantian, setelah satu orang mendapat-kan buruan, maka buruan berikut-nya akan di berikan pada satu anggota lain-nya.


"perkembangan mereka mungkin akan sedikit lebih cepat ketimbang para siswa yang mengikuti Bu Meri.... lagi pula yang mengikuti Bu Meri rasa-nya terlalu banyak, di tambah lagi ada beberapa siswa egois di dalam-nya.... bisa jadi beberapa siswa lain-nya tidak akan mendapat-kan energi netral dengan maksimal." batin Madika saat melihat kerja sama tim di kelompok-nya tampak cukup baik.


Setelah beberapa saat kemudian, kini salah satu kloning Askila melapor-kan situasi yang sedang ia pantau saat ini.


"tuan, kelompok Bu Meri saat ini sedang di hadang oleh para siswa dari akademi lain!" ucap kloning itu.


"apa?!" seketika Madika sedikit terkejut.


"tunjuk-kan pada-ku!" perintah Madika.


"baik tuan." jawab Askila patuh.


lalu Askila pun menggerak-kan tangan-nya, seketika salah satu layar yang berada di samping Madika langsung bergerak ke depan Madika dan ukuran-nya langsung di perbesar.


Saat Madika melihat layar itu, kini Madika pun tau akademi yang mana yang sedang menghalau kelompok Bu Meri.


"ternyata akademi Parompe!.... apa yang mereka ingin-kan?!" ucap Madika yang tampak sedikit kesal.


"untuk saat ini kita pantau dulu.... namun jika terjadi pertikaian, mungkin kita bisa turun tangan untuk membantu." ucap Askila menyaran-kan.


"uhm.... kau benar!.... tidak perlu buru-buru mengambil tindakan." timpal Madika.


Saat ini di tempat kelompok Bu Meri, tampak di sebuah pohon yang cukup jauh terlihat kloning Askila kecil sedang memantau kelompok Bu Meri dan siswa akademi Parompe.


sementara itu, saat ini terlihat siswa akademi Parompe sedang memanas-manasi siswa dari akademi Walawatu.

__ADS_1


mereka tampak mengolok-olok siswa yang saat ini bersama Bu Meri.


Bu Meri yang mendengar olok-kan mereka kini hanya bisa diam karena tidak mau mencari masalah.


"anak-anak, jangan mudah terpancing dengan ucapan mereka.... saat ini kita kalah jumlah!" ucap Bu Meri.


Apa yang di kata-kan oleh Bu Meri memang benar, saat ini kelompok mereka kalah jumlah dari akademi Parompe.


mulai dari jumlah siswa maupun jumlah guru pendamping, semua-nya kalah jumlah.


di kelompok akademi Parompe ada dua guru dengan tingkat profesional, sementara Bu Meri hanya seorang diri, bahkan siswa dari kelompok akademi Parompe tampak berjumlah lebih dari dua puluh orang, sementara siswa yang bersama Bu Meri tidak sampai dua puluh orang.


"orang-orang lemah seperti kalian sebaik-nya berpindah tempat dari sini jika tidak ingin di hajar!"


"ya benar!.... kami-lah yang akan berburu di sini!.... jadi kalian cari tempat lain saja.... bila perlu jauh-jauh dari sini!"


"kalian hanya kelompok pecundang! lihat-lah, level kalian semua bah-kan berada di bawah kami.... jadi sebaik-nya pergi atau kalian kami hancur-kan!"


Berbagai ocehan dari siswa akademi Parompe terus di utarakan pada siswa yang bersama Bu Meri.


sementara itu, dua orang guru pendamping siswa dari akademi Parompe tampak diam saja dan membiar-kan siswa-nya bertindak seenak jidat.


hal itulah yang membuat mereka diam saja sejak tadi.


Tak lama setelah itu, karena sudah terlalu banyak kata-kata kasar yang di lontar-kan oleh siswa dari akademi Parompe, kini salah satu siswa laki-laki yang ada di kelompok Bu Meri langsung berteriak dengan penuh emosi.


ia langsung memuncul-kan sebuah pedang api di tangan-nya.


lalu dengan cepat ia melesat ke arah sekelompok siswa akademi Parompe.


"mati saja kau sial@n!!" teriak siswa itu sambil menebas salah satu siswa akademi Parompe.


Namun saat siswa akademi Parompe di tebas, tampak tebasan murid Bu Meri itu tidak mengenai siswa akademi Parompe karena ada sebuah perisai elemen angin yang menahan serangan dari murid Bu Meri.


Melihat hal itu, kini situasi jadi semakin panas. hal itu pun mengundang amarah dari para siswa akademi Parompe.

__ADS_1


akhir-nya kini pertarungan antar siswa pun tak dapat di hindar-kan.


Siswa dari akademi Parompe kini mulai melakukan penyerangan pada siswa akademi Walawatu.


sementara itu, Bu Meri yang berusaha menghenti-kan para siswa-nya kini tampak tak berkutik karena para siswa itu tak lagi mendengar-kan diri-nya.


Melihat hal itu, kini Madika pun berinisiatif untuk pergi membantu Bu Meri dan mengatasi masalah tersebut.


"hah.... seperti-nya ini akan sedikit merepot-kan." ucap Madika sambil menghela nafas dengan ekspresi malas.


Setelah itu Madika pun langsung berdiri dari duduk-nya. kemudian ia melambai-kan tangan-nya ke samping.


seketika singgasana yang ia duduki sebelum-nya kini masuk kembali ke sebuah lingkaran energi yang muncul di bawah tanah tepat di bawah singgasana itu.


"baiklah, saat-nya beraksi!" ucap Madika dengan ekspresi yang tampak sedikit bersemangat.


Setelah berkata seperti itu, kini Madika pun langsung melompat ke sebuah pohon.


ia kemudian melompat ke pohon lain-nya dengan cepat.


*******


Saat ini, di sebuah gua yang tampak sangat gelap terlihat sekelompok Niverom yang sedang berkumpul.


salah satu Niverom tampak sedang duduk di atas batu yang cukup tinggi, sementara beberapa Niverom lain-nya tampak berdiri di bawah Niverom itu.


tak lama setelah itu, tampak dari jalan masuk ke gua muncul seorang Niverom lain-nya.


Niverom yang baru saja tiba itu kini berjalan masuk ke dalam gua tempat Niverom lain-nya berkumpul.


Setelah Niverom yang baru tiba itu berada di dalam gua dan menghadap si pemimpin, yakni Niverom yang duduk di atas batu yang cukup tinggi, kini Niverom yang baru datang itu pun langsung melapor-kan hasil pengamatan-nya.


"tidak salah lagi!.... dia-lah yang kita cari-cari selama ini!" ucap Niverom itu melapor-kan.


"hmm..... lapor-kan situasi-nya saat ini!" perintah si pemimpin dengan tegas.

__ADS_1


"target saat ini sedang bergerak sendirian, akan lebih baik jika kita segera menyerang sebelum ia bergabung dengan yang lain-nya!" ucap si pelapor.


"begitu ya.... tidak perlu khawatir..... meski-pun dia bersama dengan kawan-kawannya, bukan berarti kelompok kita tak bisa melawan-nya!" ucap si ketua dengan percaya diri. "hahahaha..... hari ini dendam akan terbalas-kan!"


__ADS_2