
Setelah terkena Sambaran petir itu, tubuh Madika pun jadi mati rasa. ia kesulitan untuk menggerak-kan setiap bagian dari anggota tubuh-nya.
Sementara itu, Niverom yang melihat Madika sudah tak bisa bergerak lagi kini tampak langsung bersemangat dan dengan cepat melesat ke arah Madika.
saat ia berada di dekat Madika, ia langsung mengayun-kan tombak-nya ke leher Madika.
saat bagian tajam tombak itu menghantam leher Madika, Niverom itu pun langsung tersenyum licik.
namun saat diri-nya menyadari bahwa kepala Madika masih belum putus dari tubuh-nya, ia pun terkejut dan langsung mundur menjaga jarak seraya mengamati apa yang terjadi barusan.
Ketika Niverom itu mengamati, tiba-tiba mata-nya terbelalak saat melihat ada perisai angin kecil yang melapisi leher Madika yang ia tebas menggunakan tombak-nya barusan.
"ba-bagaimana bisa?" ucap Niverom itu dengan ekspresi terkejut.
Baru saja berkata seperti itu, tiba-tiba terdengar suara jentikan jari, dan di saat yang bersamaan langsung tercipta hembusan angin yang sangat kuat dan menekan.
hembusan angin itu pun langsung menghempas-kan Niverom itu hingga menabrak beberapa pohon hingga pohon-pohon itu hancur.
Saat menghantam pohon yang terakhir, pohon itu tak hancur, dan malah Niverom itu yang langsung memuntahkan darah dari mulut-nya.
lalu perlahan Niverom itu mengangkat wajah-nya dan melihat ke arah Madika yang berdiri jauh dari-nya.
"ba-bagaimana mungkin dia bisa melakukan ini hanya dengan jentikan jari saja?.... apa jangan-jangan saat leher-nya ku tebas tadi ia juga melakukan trik yang sama?" batin Niverom sambil pasang ekspresi kesal bercampur ekspresi meringis menahan sakit. "setahu-ku yang bisa menggunakan teknik seperti itu hanyalah pengguna energi yang sudah mencapai tingkat Master ke atas!.... tapi bagaimana bisa bocah tingkat atas bisa melakukan hal itu?!" batin-nya bertanya-tanya.
Tak lama setelah itu Madika pun tampak berjalan santai mendekati Niverom itu.
tanpa suara sedikitpun ia terus berjalan.
saat ia berjalan angin mulai berhembus dengan kencang.
angin yang berhembus itu benar-benar bukan angin biasa, hal itu di karenakan angin itu membuat orang-orang merasa ketakutan saat melihat dan bersentuhan dengan-nya. angin itu seolah membawa suasana horor bagi orang-orang yang di targetkan-nya.
__ADS_1
hal itu juga berlaku bagi Niverom yang saat ini melawan Madika.
Niverom itu tampak mendadak berkeringat dingin dan terlihat takut dengan suasana yang terjadi di tempat itu. di tambah lagi langkah kaki Madika yang entah kenapa bisa terdengar oleh Niverom itu.
Saat Madika sudah berada di dekat Niverom itu, si Niverom pun makin ketakutan, apalagi saat ini seluruh tubuh-nya mengalami lumpuh akibat serangan angin barusan.
hal itu membuat-nya tak bisa bertindak.
namun dengan memberanikan diri si Niverom itu langsung mengayun-kan tangan-nya ke arah Madika. namun naas tangan-nya tiba-tiba terpotong menjadi tiga bagian, di tambah lagi potongan tangan-nya itu terlihat sangat rapi seperti di potong menggunakan benda yang sangat tajam.
"AARRGGHH!!!!" teriak Niverom itu sambil memegang satu tangan-nya yang terpotong itu.
darah-nya terus mengalir dan membasahi tanah di sekitar-nya.
baru saja selesai berteriak kesakitan, tiba-tiba kedua kaki serta tangan-nya yang satu lagi langsung lepas dari tubuh-nya karena terpotong.
sekali lagi si Niverom berteriak kesakitan dan bahkan saat ini Niverom itu sampai mengeluarkan air mata tanpa ia sadari.
"ba-bagaimana ini bisa terjadi?!.... siapa kau sebenar-nya?!.... kenapa kau bisa sekuat ini!?" tanya Niverom itu sambil berteriak kesal.
saat ini suara Madika terdengar lebih berat dan tidak seperti suara-nya sebelum-nya.
"mahluk rendahan seperti-mu tak pantas melawan penguasa angin tingkat legendaris!" ucap-nya dengan tenang.
setelah berkata seperti itu, tiba-tiba kepala Niverom itu langsung meledak dan membuat otak-nya berceceran di mana-mana.
Setelah Niverom itu terbunuh, tampaklah energi Nara yang keluar dari tubuh Niverom itu. bentuk energi yang keluar itu tampak seperti asap, namun warna-nya merah seperti darah.
energi Nara yang keluar itu kini masuk dengan sendiri-nya ke tubuh Madika.
Setiap Nara yang keluar dari Niverom yang di bunuh akan masuk ke tubuh si pengguna Saga yang membunuh Niverom itu.
__ADS_1
setelah energi Nara masuk ke tubuh pengguna Saga, energi Nara itu pun akan di ekstra dan di ubah menjadi energi Saga guna meningkatkan level energi Saga itu sendiri.
Setelah semua Nara sudah masuk ke tubuh Madika, tiba tiba Madika tampak tersentak seperti sedang terkejut.
"hoi!.... jangan asal menggunakan tubuh-ku pak tua!.... setidak-nya beri tahu aku jika kau ingin menggunakan-nya!" ucap Madika membentak-bentak karena ternyata sejak beberapa saat setelah terkena Sambaran petir dari bawah tanah, tubuh Madika sudah di ambil alih oleh tuan Risiwuku sehingga saat leher Madika di tebas menggunakan tombak petir, tuan Risiwuku bisa langsung menahan-nya menggunakan perisai angin yang tercipta hanya dengan jentikan jari.
"hoi! apa kau mendengar-ku?!" ucap Madika yang terdengar sedikit kasar.
Meskipun sudah bertanya seperti itu, namun tuan Risiwuku sama sekali tak memberi jawaban, atau lebih tepat-nya bisa di katakan bahwa tuan Risiwuku saat ini tak bisa melakukan kontak dengan Madika karena suatu alasan tertentu yang bahkan tidak di ketahui oleh Madika.
"tchi... apa dia mengabaikan-ku?" batin Madika sambil memegang kepala-nya. "ya sudah-lah kalau begitu!" ucap Madika yang kemudian berjalan menjauh dari tempat itu dan segera kembali ke sungai untuk minum air.
Setelah Madika tiba di sungai, Madika pun langsung minum untuk menyegarkan kembali tenggorokan-nya yang haus.
tak lama setelah itu Madika tiba-tiba merasakan keberadaan seseorang yang datang dari belakang-nya.
lalu Madika pun dengan sigap langsung menoleh ke belakang untuk melihat siapa orang itu.
Tak lama setelah itu muncul-lah seorang pria yang usia-nya berkisar 20 tahunan.
saat pria itu melihat Madika, ia langsung memegang dagu-nya sambil mengkerut-kan kening-nya.
"hei bocah!.... apa hanya kau seorang diri saja yang berada di tempat ini?" tanya pria itu.
"ehm..." gumam Madika sambil mengangguk. "memang-nya ada apa?" tanya Madika kembali.
"tidak ada apa-apa, aku hanya sekedar lewat.... apa kau benar-benar yakin tidak ada orang lain di sekitar-mu barusan?" tanya pria itu lagi karena kurang yakin.
"ehmm.... sebenar-nya tadi memang ada seorang Niverom, tapi Niverom bukan manusia." ucap Madika menjawab.
"Niverom ya...." batin pria itu sambil mengelus-elus dagu-nya perlahan seolah sedang memikirkan sesuatu.
__ADS_1
setelah itu, pria itu menunjuk ke arah tempat pertarungan Madika sebelum-sebelum-nya. "oh iya, apa kau yang membuat kehancuran hutan di sebelah sana?" tanya pria itu.
"ya.... memang-nya kenapa?" jawab Madika yang kemudian bertanya sambil mulai waspada dengan sikap pria itu yang terlalu banyak tanya.