
Saat ini, para ksatria penjaga yang berada di dalam domain milik Madika kini mulai melancar-kan serangan mereka ke berbagai arah.
Sementara itu, Madika terus mengecoh mereka dengan cara menggerak-kan angin hingga menimbul-kan suara di beberapa tempat dan dengan arah tertentu sehingga para ksatria penjaga itu langsung melesat-kan serangan mereka ke asal suara yang mereka dengar itu.
"mereka benar-benar tak bisa melawan-ku di tempat ini." batin Madika sambil tersenyum tipis.
Lalu Madika yang berada di tempat yang terpisah dari mereka semua kini mulai menutup mata-nya dan sedikit menunduk-kan kepala-nya.
ia saat ini mencoba untuk menggerak-kan jurus-nya itu mengguna-kan pikiran-nya.
Tak butuh waktu lama, kini hanya dengan mengguna-kan pikiran-nya, Madika pun bisa mengguna-kan seluruh angin badai yang ada di wilayah domain-nya itu untuk menyerang para ksatria penjaga itu.
Sementara itu, para ksatria penjaga yang saat ini menyerang dengan sembarangan tiba-tiba terkena serangan tebasan angin yang datang entah dari mana.
Mereka semua langsung terkejut saat tiba-tiba dari belakang mereka melesat sebuah lengkungan angin yang sangat tajam dan langsung menghantam tubuh mereka hingga mengeluar-kan darah.
Jika seandai-nya mereka hanya-lah manusia biasa, maka sudah di pasti-kan tubuh mereka akan terpotong menjadi dua saat di hantam oleh lengkungan angin yang sangat tajam itu.
Kini salah satu dari mereka pun langsung menoleh ke belakang.
"sialan!.... berani-nya main belakang!" bentak salah satu Ksatria penjaga yang berada di tempat yang terpisah-pisah itu.
"orang ini benar-benar semakin menyebal-kan saja!" ucap salah satu ksatria penjaga lain-nya.
Tak lama setelah itu, hal yang sama pun terjadi lagi.
sebuah serangan tebasan angin melesat ke arah mereka.
dan langsung mengenai mereka semua hingga tubuh mereka sekali lagi tersayat dan mengeluar-kan banyak darah.
Serangan lengkungan angin itu kini tidak hanya sampai di situ saja.
__ADS_1
saat ini para ksatria penjaga itu di perhadap-kan dengan serangan lengkungan angin yang terus berdatangan dari berbagai arah.
Beberapa dari ksatria penjaga yang tak punya insting kuat kini tidak bisa bertahan lama.
mereka langsung tumbang begitu saja karena sudah banyak mengalami luka serta kehilangan banyak darah.
Meski-pun mereka sudah tumbang, namun Madika masih terus menyerang mereka yang tumbang itu mengguna-kan lengkungan angin untuk memasti-kan bahwa mereka benar-benar sudah mati.
Sementara itu, beberapa ksatria penjaga lain-nya yang masih bisa bertahan hingga 3 menit lama-nya kini sudah di penuhi oleh luka di sekujur tubuh-nya.
Meski-pun sudah banyak mendapat-kan luka, namun mereka masih bisa berdiri, bahkan mereka masih sempat-sempatnya menangkis serangan tebasan angin Madika mengguna-kan senjata energi milik mereka.
"meski-pun kalian berjuang mati-matian, akan tetapi akhir kalian akan tetap sama!.... yaitu mati di tangan-ku!" ucap Madika yang kini suara-nya terdengar lagi oleh para ksatria penjaga yang masih bertahan itu.
"sialan.... orang ini benar-benar menikmati siksaan yang kita rasa-kan saat ini!" ucap salah satu ksatria penjaga dengan ekspresi kesal di wajah-nya.
Setelah bertahan dalam tiga menit, kini Madika terus menghujani para ksatria penjaga itu dengan serangan tebasan angin-nya.
Hingga akhir-nya saat sudah mencapai waktu 7 menit lama-nya, kini seluruh ksatria penjaga itu sudah tumbang.
hanya saja sudah tak sanggup lagi melawan karena energi Saga mereka sudah terkuras sangat banyak serta tubuh mereka sudah di penuhi oleh luka-luka yang sangat parah.
Mereka pun kini hanya bisa pasrah dengan situasi mereka saat ini, dan salah satu Ksatria penjaga lain-nya kini merasa bahwa ini adalah balasan bagi diri-nya karena telah menguliti seorang pria yang di tahan semalam.
"seperti-nya ini adalah karma karena selama ini aku sudah banyak menyiksa orang lain." ucap ksatria penjaga itu.
Ksatria penjaga yang berkata seperti itu adalah ksatria penjaga yang semalam menguliti salah satu rekan Liga yang di gantung di samping Vera, dan hari ini mereka di tugas-kan untuk menangkap Nia serta melakukan hal yang sama pada Nia.
Setelah itu, Madika yang melihat mereka semua sudah sekarat kini langsung mengakhiri hidup mereka.
ia dengan segera melancar-kan serangan selanjut-nya dan serangan tebasan angin yang terakhir itu kini langsung memotong tubuh mereka menjadi dua dan mereka semua pun langsung mati di tempat.
__ADS_1
Setelah kematian para ksatria penjaga itu, kini Madika pun langsung mengakhiri mode wilayah domain milik-nya.
Sesaat setelah domain itu menghilang, kini Emi dan Nia pun tersadar bahwa mereka kini sudah berada di tempat sebelum-nya, yakni berada di halaman kantor asosiasi ksatria Saga.
Melihat hal itu, kini mereka pun tahu bahwa semua sudah berakhir.
mereka berdua pun mulai melirik ke berbagai arah, dan mereka kini bisa melihat bahwa para ksatria penjaga itu kini telah terbunuh dengan cara yang mengenas-kan yakni tubuh yang terpotong-potomg.
Ada yang terpotong menjadi dua, bahkan ada pula yang lebih dari dua.
Lalu Emi dan Nia pun langsung mencari keberadaan pria misterius sebelum-nya, yakni Madika.
Mereka mulai celingak-celinguk untuk mencari keberadaan Madika, namun mereka sama sekali tak menemukan-nya.
bahkan teknik pendeteksian mereka pun kini tidak dapat menemukan keberadaan orang lain di tempat itu selain mereka berdua.
Karena sudah tak bisa menemukan keberadaan pria misterius itu, kini Emi pun langsung membebas-kan Nia dari dalam kurungan itu.
setelah itu mereka berdua pun memutus-kan untuk segera pergi dari tempat itu.
"sebaik-nya untuk sekarang kita harus bersembunyi di suatu tempat agar tak ada yang menemukan diri-mu." ucap Emi sambil menarik tangan Nia.
Nia pun langsung mengikuti Emi.
entah Emi mau membawa diri-nya ke mana ia sudah tak peduli karena ia yakin dan percaya pada sahabat baik-nya itu bahwa sahabat-nya itu pasti akan melakukan yang terbaik pada diri-nya.
"terimakasih Emi." ucap Nia dalam hati-nya.
Sementara itu, Madika yang saat ini sedang bersembunyi di sebuah gang sempit yang tidak jauh dari kantor asosiasi itu kini hanya menatap kepergian Nia dan Emi dengan ekspresi lega karena diri-nya masih sempat menolong Emi di saat-saat terakhir.
"tadi itu hampir saja." batin Madika mengingat kejadian saat Emi hampir tertusuk oleh tombak ksatria penjaga itu.
__ADS_1
Setelah itu Madika pun kembali mengaktif-kan aliran Saga di tubuh-nya karena sebelum-nya ia menghentikan peredaran Saga-nya agar teknik pendeteksian tak dapat menemukan posisi-nya.
Setelah mengaktif-kan kembali penyebaran Saga-nya, kini Madika pun langsung pergi dari tempat itu.