Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Melawan Rekan Sendiri


__ADS_3

Saat ini Madika sedang berhadapan dengan Jos, Liga dan dua orang rekan mereka sebelum-nya.


Kemudian Jos yang saat ini di penuhi dengan emosi yang tidak terkendali langsung melesat-kan sebuah tombak es raksasa ke arah Madika.


Melihat hal itu, Madika pun dengan cepat langsung mengeluar-kan sayap-nya.


dengan segera Madika pun langsung terbang ke samping meski-pun wajah-nya saat ini sempat tergores ujung tombak.


"sial.... aku hampir mati!" batin Madika setelah masih sempat menghindari serangan Jos itu.


Baru saja berhasil menghindar, puluhan pedang angin melesat ke arah Madika.


puluhan pedang angin itu merupa-kan serangan yang di lancar-kan oleh Liga.


"lebih baik kau jujur saja Madika!" ucap Liga dengan tegas dan tampak kesal pada Madika.


Madika pun langsung mengeluar-kan pedang ganda-nya.


ia dengan segera menebas seluruh pedang angin yang melesat ke arah-nya.


dengan gerakan yang sangat lincah dan bernapas variasi gerakan menebas sambil memutar tubuh di udara kini Madika pun bisa menangkis dan mematah-kan serangan pedang angin itu.


"dengar-kan penjelasan-ku dulu!.... kalian semua jangan cepat termakan emosi dan di buta-kan oleh fitnah mereka!" ucap Madika sambil berteriak dan berusaha menenang-kan mereka berempat.


Sementara itu, ksatria penjaga sebelum-nya saat ini tampak diam saja, ia terlihat sedang tidak ingin ikut campur dalam masalah itu.


ia malah sedang tersenyum puas melihat Liga dan rekan-nya yang lain kini memusuhi Madika.


********


"apa ksatria penjaga itu sudah menjalan-kan tugas-nya?" tanya Karu pada salah satu ksatria penjaga lain-nya yang saat ini datang memberi laporan di ruangan Karu sebelum-nya.


"iya tuan.... aku telah menyuruh-nya untuk melakukan tugas dengan benar, baru saja aku juga menerima pesan dari-nya bahwa saat ini Liga dan yang lain-nya sedang bertarung melawan bocah yang bernama Madika itu." ucap ksatria penjaga itu menjelas-kan.


"jangan sebut nama bocah sampah itu di depan-ku!" ucap Karu yang kini langsung kesal saat mendengar ksatria penjaga itu menyebut-kan nama Madika.

__ADS_1


"maaf tuan.... hamba tidak bermaksud...."


"sudahlah!.... kali ini ku maaf-kan, tapi sekali lagi kau melakukan-nya maka akan ku sumbat mulut-mu pakai batu!!" bentak Karu.


Setelah itu Karu langsung memutar tubuh-nya menghadap ke jendela ruangan itu dan membelakangi si ksatria penjaga.


"pergilah, jalan-kan tugas-mu yang berikut-nya." ucap Karu memberi perintah.


"baik tuan." jawab ksatria penjaga itu dengan patuh sambil mengangguk.


Setelah itu si ksatria penjaga yang sebelum-nya berlutut kini langsung berdiri dan kemudian beranjak dari ruangan itu.


******


Saat ini, ksatria penjaga yang telah membuka-kan alat penekan Saga di tubuh Liga dan yang lain-nya kini langsung menjauh dari tempat pertarungan Madika dan yang lain-nya.


Ksatria itu berniat untuk terus memantau pertarungan mereka dari jarak yang cukup jauh.


ksatria penjaga itu adalah salah satu antek-antek Karu Nemosu.


ia memang sengaja di tugas-kan untuk mengaku sebagai salah satu dari ksatria yang berada di pihak Liga, dan ia di tugas-kan pula untuk membuka alat penekan Saga di tubuh Liga dan yang lain-nya agar mereka bisa mencari dan menghajar Madika.


sebenar-nya ia sudah mendapat-kan informasi dari mata-mata rahasia-nya tentang penyerangan yang akan di lakukan oleh Liga dan kawan-kawanya malam ini.


Hal itu pun membuat Karu langsung bersiap dan mulai menyusun rencana untuk menakluk-kan kelompok Liga tanpa harus turun tangan langsung.


dia hanya akan menonton sambil menunggu waktu yang tepat untuk membantai mereka semua sampai ke akar-akarnya.


Sementara itu, Madika kini kembali di serang dengan berbagai macam serangan, mulai dari serangan jarak jauh, mau-pun serangan jarak dekat.


Tampak seorang wanita pengguna petir langsung bergerak cepat sambil mengeluar-kan sebuah tombak petir di tangan-nya.


Wanita itu langsung melesat ke arah Madika setelah beberapa kali bergerak zig-zag di atas tanah.


"terima ini dasar pengkhianat sial@n!!" teriak wanita itu setiba-nya ia di hadapan Madika.

__ADS_1


lalu wanita itu dengan cepat mengangkat tongkat-nya ke atas kepala-nya.


Seketika tongkat itu langsung memancar-kan petir yang langsung merobek udara di sekitar dan menyambar hingga menembus awan.


Lalu wanita itu pun langsung mengayun-kan tongkat-nya ke arah Madika yang ada di depan-nya.


"mereka ini benar-benar sudah tak bisa di ajak bicara lagi!" batin Madika yang melihat ekspresi wanita itu yang saat ini tampak sangat emosi.


Lalu Madika pun langsung membentuk sebuah perisai pertahanan yang merupa-kan jurus yang berasal dari tuan Mawata.


Kini sebuah perisai angin yang besar pun langsung muncul di hadapan Madika ketika Madika menjulur-kan tangan-nya ke depan dengan posisi telapak tangan terbuka.


Perisai itu pun kini langsung di hantam serangan tombak petir milik wanita itu.


bahkan petir yang sebelum-nya menyambar menembus awan kini langsung turun dan menyambar perisai angin Madika.


Sambaran petir itu pun langsung mencipta-kan ledakan yang cukup kuat.


gelombang angin di sekitar mereka bergerak meluas dan menghantam segala yang ada di sekitar mereka.


banyak daun dari pepohonan yang ada di hutan kota itu langsung rontok dan berhamburan, sementara beberapa tong sampah serta benda-benda lain-nya ikut terhempas dengan sangat kuat.


Sementara itu, Liga, Jos, dan satu pria lain-nya kini terdorong oleh tekanan dari gelombang angin itu.


"serangan-nya ternyata bisa sekuat ini!" ucap Liga dalam hati.


"tapi bocah itu ternyata hebat juga!... dia bisa bertahan hanya dengan satu perisai itu saja!" ujar Jos yang kini semakin kesal pada Madika.


Liga yang mendengar ucapan Jos kini hanya bisa mengangguk mengiya-kan perkataan Jos.


Memang tak bisa di pungkiri, Madika yang saat ini masih berada di tingkat elite tapi diri-nya bisa bertahan dalam pertempuran langsung dengan orang-orang yang bahkan sudah berada di tingkat master dan grand master.


"siapa sebenar-nya bocah sialan ini!" batin Liga sambil menggertak-kan gigi-nya.


ia berusaha memikir-kan berbagai kemungkinan serta kepala-nya kini di penuhi oleh pikiran-pikiran yang seharus-nya tak perlu ia pikir-kan.

__ADS_1


"jangan diam saja!" ucap Jos dengan tegas dan membuat Liga langsung tersadar dari pikiran-nya sendiri.


"ayo kita serang dia lagi mumpung dia sedang berusaha menahan serangan petir itu!" ucap Jos lagi sambil mengeluar-kan sebuah tombak es raksasa di atas kepala-nya.


__ADS_2