
Saat ini Natalia kembali mengobrol dengan Axel. Sementara Diena kini terus berjalan membelakangi mereka berdua sambil menghela nafas panjang seperti menyesali sesuatu.
"Hah... Betapa kasihan-nya dirimu Madika." Ucap Diena sambil menghela nafas.
"Perasaan seseorang memang benar-benar sangat rapuh dan mudah hancur. Namun, saat mereka menemu-kan seseorang yang bisa mengisi hati mereka, maka mereka akan kembali baik-baik saja bersama dengan orang baru yang telah mengisi hati yang sebelum-nya hancur itu." ucap Diana dalam hati sambil berlalu dari tempat itu.
"Semoga saja Madika tidak menyimpan perasaan apa-apa pada Natalia. Tapi, jika ia menyimpan perasaan pada Natalia, maka...."
*****
"Waduh!... perasan-ku tidak enak!... Apa jangan-jangan ada yang sedang membicara-kan keburukan-ku?" Ucap Madika dalam hati yang saat ini masih terus melanjut-kan semedi-nya.
******
Saat ini, di ruangan tempat si kakek tua bernama Wilasopu tampak terjadi sedikit ledakan energi yang luar biasa yang kini memenuhi ruangan itu.
Ledakan itu terjadi akibat proses penyatuan pecahan tongkat kaisar rotan api yang berakhir gagal.
"Sial!... Kenapa gagal lagi?!" Ucap kakek tua itu.
"Uhuk-uhuk!!"
Kakek tua itu sekali lagi terbatuk dan mengeluar-kan darah dari dalam mulut-nya.
"Huh... Kalau sudah seperti ini sebaik-nya aku coba sekali lagi sebelum berhenti!" ucap si kakek tua itu sambil memutar kedua tangan-nya.
Lalu ia kembali mencoba menyatu-kan pecahan tongkat itu.
"Kali ini harus-nya berhasil!... Aku sudah mengingat semua di mana letak kesalahan-ku, jadi kali ini aku akan melakukan semua-nya dengan benar!" Ucap si kakek tua itu sambil mengangkat kedua tangan-nya dan mulai mengalir-kan Saga-nya untuk menyatu-kan pecahan tongkat itu.
Dengan berbagai pengulangan serta kegagalan yang terus berulang kali terjadi sebelum-nya, kini si kakek tua itu sudah mengetahui di mana saja letak kesalahan yang ia lakukan sehingga kini ia pun mulai lancar melakukan proses penyatuan ini.
Dengan wajah yang sedikit di tekuk dan berkerut kakek tua itu terus mempertahan-kan kondisi baik dari proses penyatuan ini.
__ADS_1
Hingga akhir-nya pecahan tongkat kaisar rotan api itu pun kini berhasil di satu-kan oleh si kakek tua itu.
Tongkat yang sudah di satukan itu segera memancar-kan cahaya bagai-kan cahaya api yang sangat panas.
Ketika melihat tongkat itu berhasil di satu-kan, sang kakek pun langsung mengulas senyum bahagia di wajah-nya.
Ia tampak begitu senang setelah berhasil menyatu-kan pecahan tongkat tersebut.
"Akhir-nya!!... Akhir-nya perjuangan beberapa hari ini bisa membuah-kan hasil!" Ucap si kakek tua itu yang kini terlihat sangat antusias dan bersemangat.
"Uhuk-uhuk!!"
Kakek tua itu langsung mengalami batuk darah lagi karena saking bersemangat-nya.
"Sial! Luka dalam-ku seperti-nya semakin bertambah!... Sebaik-nya aku segera memulihkan-nya dulu!" Ucap si kakek tua itu sambil melakukan semedi untuk menyembuh-kan luka dalam-nya mengguna-kan energi Saga milik-nya.
*****
Di sebuah gua tampak sosok Madika yang sedang bersemedi memulih-kan energi Saga dalam tubuh-nya.
Lalu ia menoleh ke berbagai arah untuk melihat situasi saat ini.
Ia melihat di jarak kira-kira 6 meter dari tempat ia bersemedi ada Askila yang sedang duduk menjaga Madika.
Saat Askila menyadari bahwa tuan-nya itu telah membuka mata dan selesai bersemedi, kini Askila pun langsung berdiri dan berjalan mendekati tuan-nya.
"Apa sekarang kondisi anda sudah membaik tuan?" Tanya Askila dengan sopan.
"Uhm... Saat ini energi Saga-ku sudah pulih sempurna, hanya tinggal menunggu pusaka mahkota raja kera bayangan saja untuk memulih-kan energi Nosa-nya." Jawab Madika. Lalu ia kembali menimpali-nya. "Tapi tenang saja, tidak akan lama lagi kok, mungkin hanya sekitar 3 jam saja lagi." Ujar Madika sambil tersenyum tipis pada Askila.
Setelah berkata seperti itu, kini Madika pun mulai berpikir untuk mencoba beberapa senjata energi serta satu pedang pusaka yang ia dapat-kan dari klan petir sebelum-nya.
*****
__ADS_1
Dalam pertarungan melawan klan petir beberapa hari sebelum-nya, tepat-nya setengah jam sebelum para ketua klan angin, api, dan es datang ke pemukiman klan petir.
Setelah seluruh pasukan klan petir banyak yang tumbang, akhir-nya sosok ketua klan pun muncul dan langsung menyerang Madika yang saat itu tengah duduk di singgasana harimau api milik-nya.
Si ketua sekte itu datang terlambat karena sebelum-nya ia ikut dalam kunjungan persahabatan di sekte Balumba.
Namun karena ia merasa-kan firasat yang tidak enak, maka ia pun memohon izin untuk segera kembali ke klan petir.
Ia pun akhir-nya memerintah-kan satu tetua yang bersama-nya itu untuk menemani para pemuda mereka untuk mengikuti kegiatan tersebut sehingga ia pun bisa pulang ke klan petir.
"Sialan kau!!" Teriak si ketua klan yang saat ini berada di samping atas Madika sambil menebas leher Madika.
Namun saat ia menebas, pedang-nya berhasil di blokir oleh omega yang berjaga untuk Madika.
Tampak omega berdiri di depan pedang itu dan di atas omega langsung muncul perisai api yang sangat kuat sehingga pedang petir yang di gunakan oleh ketua klan itu pun tak bisa bergerak lebih jauh lagi.
Sementara itu, Madika kini tampak tetap tenang dan santai-santai saja. Ia hanya melirik ke arah si ketua klan yang sudah berada di tingkat Epic level 9 itu.
Ketua klan itu adalah ketua klan yang baru dan wajah-nya masih belum tua-tua amat.
"Berani-nya kau mengacau di klan-ku bocah!!" Bentak ketua klan itu sambil terus menekan pedang-nya dengan sangat kuat.
Seketika itu juga pedang petir milik pria itu pun langsung memancar-kan cahaya yang cukup silau dan dari badan pedang itu menyambar sangat banyak petir.
Petir-petir itu merambat dan bergerak-gerak dengan sangat bebas di udara.
Madika yang melihat pedang itu seketika langsung membelalak-kan mata-nya karena merasa sedikit terkejut.
Sementara itu perisai api yang di buat oleh omega kini mulai retak perlahan-lahan.
Melihat retakan itu, Madika pun segera mengguna-kan sayap angin-nya dan segera menjauh dari singgasana itu.
Saat ini Madika menyadari bahwa omega sama sekali bukan lawan yang bisa mengalah-kan kekuatan pedang pusaka yang ada di tangan si ketua sekte itu.
__ADS_1
Karena itulah Madika segera menjauh.
"Ini tak boleh di biar-kan!" Ucap Madika yang kemudian langsung melesat-kan tebasan angin milik-nya secara beruntun sehingga kini terlihat ada begitu banyak angin yang berbentuk seperti bulan sabit yang kini melesat secara beruntun ke arah ketua klan itu.