
Saat ini Nia dan Madika tampak tidur bersebelahan dengan jarak yang sangat dekat.
namun kedua-nya sama-sama menghadap ke langit-langit.
Madika menghadap ke langit-langit karena diri-nya sedang tidak sadar-kan diri, sementara Nia menghadap ke langit-langit karena diri-nya merasa grogi dan malu-malu jika harus menoleh ke arah Madika karena wajah Madika sangat berdekatan dengan wajah-nya saat ini.
Jantung Nia terus berdegup kencang, ia merasa sangat grogi saat ini sampai-sampai ia kesulitan untuk tertidur.
********
Malam telah berlalu, pagi pun mulai mengganti-kan gelap-nya malam.
Nia kini perlahan membuka mata-nya, dan tanpa sadar ia kini sedang memeluk Madika layak-nya sedang memeluk sebuah boneka.
Seketika Nia pun langsung terkejut dan berguling ke belakang hingga ia terjatuh dari ranjang-nya.
"huaaaah!!"
Nia sedikit menjerit hingga akhir-nya terjatuh dari ranjang.
Tak butuh waktu lama, Nia pun kini bangkit kembali dan berdiri memandangi Madika.
"ya ampun..... apa yang sudah ku lakukan?.... seperti-nya semalam aku benar-benar tidak sadar sampai-sampai aku memeluk Madika seperti itu." batin Nia yang saat ini wajah-nya sedang memerah.
"itu tidak penting sekarang!" ucap Nia dalam hati sambil menepuk kecil pipi-nya mengguna-kan kedua tangan-nya.
"saat ini aku harus menemui ayah dan menjelas-kan semua kejadian yang sebenar-nya serta menghilang-kan semua kesalahpahaman ini." ucap Nia yang kemudian berjalan ke arah pintu.
Saat Nia memegang ganggang pintu dan kemudian menekan-nya ke bawah, kini Nia pun tahu bahwa pintu itu saat ini sudah tidak di kunci lagi karena pintu itu kini sudah bisa terbuka hanya dengan menurun-kan ganggang-nya saja.
Sebelum Nia pergi, kini Nia langsung menoleh ke arah Madika dengan pandangan mata yang terlihat sedikit ada rasa khawatir dan simpati.
"semoga kau segera sadar Madika." ucap Nia yang kemudian langsung menutup pintu kamar itu dan segera pergi mencari ayah-nya untuk menjelas-kan kesalahpahaman yang terjadi tadi malam.
>SKIP<
Saat ini Nia telah berhasil melurus-kan kembali semua kesalahpahaman yang terjadi semalam, dan saat Nia memberi penjelasan di saat mereka sudah tidak mabuk, kini mereka semua pun bisa menerima penjelasan Nia dengan otak yang waras sehingga tidak ada kesulitan sedikit-pun yang di alami Nia saat memberi penjelasan pada mereka.
__ADS_1
Kini hari pun berganti malam, dan malam ini Nia mendatangi Madika di kamar-nya.
ia melihat bahwa Madika masih belum sadar-kan diri sementara hari ulang tahun Nia akan di raya-kan besok dan hari ini sudah banyak pelayan di kediaman keluarga Nakawao yang sudah menyiap-kan acara perayaan tersebut.
"jika terus seperti ini rasa-nya aku agak kecewa Madika." ucap Nia yang saat ini duduk di kursi yang berada di samping Madika sambil menggenggam tangan Madika.
Tampak wajah Nia terlihat sedikit menunjuk-kan ekspresi kesedihan, namun ia tak bisa egois karena saat ini Madika sedang dalam kondisi yang tidak sehat, bahkan Nia sendiri pun tahu itu serta ia juga masih mengkhawatirkan Madika.
Perasaan kecewa dan sedih Nia kini bercampur aduk dengan perasaan khawatir dan simpati pada apa yang di alami Madika saat ini.
Lalu Nia pun menggenggam tangan kanan Madika mengguna-kan kedua telapak tangan-nya.
ia membungkus tangan Madika mengguna-kan kedua tangan-nya itu sehingga ia tampak seperti orang yang sedang berdoa.
"di hari ulang tahun-ku kali ini, aku hanya ingin kau segera sembuh dan bisa melakukan aktivitas dengan baik, Madika." ucap Nia dengan nada suara yang lembut.
*******
Pukul 01 : 26 am
kedua-nya tampak begitu tenang, dan bisa di lihat bahwa saat ini Nia sedang terlelap dengan posisi tubuh-nya yang menghadap ke arah Madika. sementara Madika tampak masih seperti sebelum-nya, yakni menghadap ke langit-langit.
Tak lama setelah itu, kini Madika terlihat mulai menggerak-kan kulit mata-nya.
sedetik kemudian ia pun langsung mengkerut-kan kening-nya dan hingga akhir-nya ia pun perlahan membuka mata-nya.
Saat Madika pertama kali membuka mata-nya, ia pun langsung melihat langit-langit kamar yang sangat asing bagi-nya.
ia belum pernah melihat langit-langit kamar yang seperti ini.
Lalu Madika pun perlahan menoleh ke berbagai arah untuk memasti-kan di mana diri-nya berada saat ini.
hingga akhir-nya ia pun menoleh ke samping kanan-nya dan melihat Nia yang saat ini wajah-nya sangat dekat dengan wajah Madika.
Seketika Madika langsung terkejut, bagaimana tidak, saat Madika menoleh, tiba-tiba bibir mereka berdua saling bersenggolan.
meski-pun hanya sedikit saja, namun itu berhasil membuat wajah Madika langsung memerah.
__ADS_1
"sial@n.... baru juga bangun langsung ada ajang uji jantung!" ucap Madika dalam hati dan kemudian menghela nafas panjang.
Kemudian Madika pun bangun dan duduk sebentar.
ia mulai mengedar-kan kembali pandangan-nya ke berbagai arah.
hingga akhir-nya ia pun melihat sebuah jam elektronik yang sedang menunjuk-kan waktu serta tanggal, bulan, dan tahun saat ini.
Saat melihat jam itu serta tanggal hari ini, akhir-nya Madika pun tersadar bahwa ternyata dia sudah tertidur cukup lama.
selain itu, dari tanggal itu pun, kini Madika bisa mengetahui bahwa hari ini adalah hari ulang tahun Nia.
namun Madika masih belum tahu kalau hari ini keluarga Nakawao sudah membuat persiapan dan akan melaksanakan acara ulang tahun serta di rangkai-kan dengan acara ucapan syukur karena beberapa hari lalu Nia telah mengalami hal-hal yang bisa saja membuat-nya terbunuh namun hari ini ia masih di beri kesempatan untuk hidup dan merayakan hari lahir-nya.
Sementara itu, saat Madika melihat tanggal dan dan waktu hari itu, kini Madika pun berniat untuk menjadi orang pertama yang memberi-kan ucapan selamat ulang tahun pada Nia.
"Nia." ucap Madika sambil memegang bahu Nia dan mengguncang tubuh Nia perlahan-lahan.
"uhm...." Nia hanya menggumam, bisa di pasti-kan bahwa saat ini Nia benar-benar sulit untuk bangun karena ini memang bukan jam bangun Nia.
"hei, Nia.... ayo cepat bangun, ada yang ingin ku kata-kan pada-mu." ucap Madika sekali lagi.
namun Nia tetap hanya menggumam dengan suara yang terdengar sangat malas.
entah Nia sadar atau tidak saat bergumam, namun yang jelas-nya ia sama sekali tak bangun saat itu juga.
Hingga akhir-nya Madika pun memikir-kan hal usil dan berniat mengerjai Nia.
"huh.... tidak ada pilihan lain." ucap Madika yang kemudian mendekat-kan bibir-nya ke telinga Nia.
Lalu dengan usil-nya Madika pun langsung meng£mut daun telinga Nia dengan di sertai sedikit gigitan kecil di beberapa bagian tertentu di daun telinga Nia itu.
Nia yang merasa-kan ada sesuatu yang aneh dengan telinga-nya kini perlahan membuka mata-nya, dan betapa terkejut-nya Nia saat ia melihat sosok Madika yang ternyata sudah bangun dan kini sedang menikmati kegiatan meng€mut telinga-nya.
"hiiiiiaaaaaaahhhhhh!!!"
seketika Nia langsung berteriak dan langsung mendorong tubuh Madika dengan kuat sehingga Madika pun langsung jatuh ke lantai.
__ADS_1