
Saat ini Madika terus berjalan menyusuri terowongan gua yang di arah-kan oleh suara pria misterius itu.
hingga akhir-nya Madika pun melihat cahaya kemerahan di ujung terowongan itu.
Madika yang merasa penasaran kini langsung berlari ke arah cahaya kemerahan itu.
hingga akhir-nya ia pun tiba di ujung terowongan itu dan kini melihat banyak lava panas di mana-mana.
saat ini diri-nya telah berada di pusat gunung tersebut, yakni tempat yang penuh lava panas yang tampak meletup-letup.
Madika pun sedikit terkejut melihat pemandangan lava yang mengerikan itu.
ia sejenak terdiam dan tak berkata apa-apa.
hingga akhir-nya suara misterius yang sebelum-nya kembali terdengar di telinga Madika.
"hahahaha.... akhir-nya kau bisa menemukan tempat ini." ucap suara misterius itu sambil tertawa.
Mendengar suara itu, kini Madika pun langsung mengedar-kan pandangan-nya ke segala arah. hingga akhir-nya muncul sosok pria tua yang sedang melayang di udara tepat di tengah-tengah lahar panas itu.
Madika sedikit terkejut melihat pria tua itu yang tampak melayang di udara.
lalu pria tua itu berjalan di udara dan mendekati Madika.
"selamat datang di tempat-ku." ucap pria tua itu setelah berada dekat dengan Madika. setelah itu pria tua itu pun memperkenal-kan diri-nya.
"perkenal-kan, aku adalah penguasa dunia bawah tanah, nama-ku Mawata." ucap pria tua itu memperkenal-kan diri-nya.
"nama-ku Madika." ucap Madika membalas perkenalan itu dengan singkat. lanjut-nya, "tuan Mawata, apa-kah anda tahu cara untuk keluar dari dunia bawah tanah ini?" tanya Madika tanpa basa-basi langsung ke inti-nya.
Melihat hal itu tuan Mawata pun hanya tertawa sambil mengelus janggut-nya.
"anak muda, kenapa kau sangat terburu-buru seperti itu?.... tenang saja, saat ini gadis kecil itu baik-baik saja di rumah pohon yang kalian buat." ucap tuan Mawata.
__ADS_1
Mendengar ucapan tuan Mawata yang mengatakan hal tentang Natalia kini membuat Madika langsung terkejut.
ia langsung berpikir 'apakah mungkin pria ini bisa mengamati dunia di luar gunung ini?' pikir Madika.
"apa maksud anda tentang gadis di rumah pohon?" tanya Madika yang sedang berpura-pura tidak tahu dengan niatan menguji tentang dugaan-nya terhadap tuan Mawata.
"hahahaha tidak perlu berpura-pura seperti itu, lagi pula selama kau dan gadis itu berada di pulau ini dan melaku-kan petualangan dan penjelajahan bersama, saat itu aku selalu mengawasi kalian berdua dari tempat ini." ucap Mawata menjelas-kan.
Mendengar penjelasan itu, Madika pun mulai sedikit percaya pada Mawata.
ia kemudian tampak sedikit merenung dan memikir-kan sesuatu. hingga akhir-nya ia langsung mengangkat wajah-nya dan menatap Mawata.
"sebenar-nya saat ini aku sangat penasaran dengan tempat ini.... apakah hanya di tempat ini saja aku bisa mengguna-kan energi Saga?" tanya Madika ingin memastikan.
"ya itu benar." jawab Mawata dengan cepat.
"di dunia bawah tanah ini, terdapat sangat banyak hewan monster yang dulu-nya sangat kuat dan berpengaruh, mereka semua awal-nya memiliki kekuatan yang luar biasa, namun, sejak kedatangan-ku ke tempat ini, aku pun menyerap semua energi milik mereka hingga tidak tersisa sedikit-pun, dan tempat ini-lah yang menjadi pusat dari seluruh energi yang di serap itu." ucap tuan Mawata menjelas-kan.
"pusat? itu berarti saat aku dan teman-ku jatuh ke tempat ini, semua energi kami langsung kau serap begitu?" ucap Madika yang terlihat mulai kesal.
"sial@n!!..... gara-gara kau kami hampir mati!" ucap Madika sambil mengibas-kan tangan-nya di udara.
"tapi gara-gara aku juga kalian masih bisa hidup." balas tuan Mawata dengan santai-nya.
"hentikan omong kosong-mu itu orang tua!" ucap Madika yang mulai membentak tuan Mawata.
Mendengar bentakan Madika itu, tuan Mawata pun kini pasang ekspresi serius, ia menatap Madika dengan tatapan-nya yang tajam dan mengintimidasi.
sementara itu Madika pun langsung membalas tatapan tuan Mawata.
"anak muda, coba-lah berpikir dengan bijak sebelum berbicara.... memang benar kau hampir kehilangan nyawa karena tak bisa mengguna-kan energi saga-mu, namun coba pikir-kan baik-baik, apa kau pikir dengan kekuatan-mu saat ini kau bisa mengalah-kan hewan-hewan monster di luar sana jika energi mereka juga tidak ku serap?" ucap tuan Mawata memberi gambaran sambil menasehati Madika.
Mendengar nasihat itu Madika pun langsung tersentak kaget.
__ADS_1
ia memang sebelum-nya tidak terpikir-kan hal itu, bahkan diri-nya sama sekali tak terpikir-kan apa-kah hewan-hewan monster yang selama ini ia kalah-kan mengguna-kan senjata seada-nya memang benar-benar hewan monster yang lemah?.
hal itu pun membuat Madika terdiam dan langsung merenung-kan ucapan tuan Mawata itu.
Beberapa saat kemudian, Madika pun sedikit membungkuk-kan badan-nya sambil menangkup-kan tangan-nya.
"maaf, aku terlalu cepat mengambil kesimpulan, ku harap anda tidak tersinggung dengan perkataan-ku yang sebelum-nya." ucap Madika yang tampak menyesali perbuatan-nya barusan.
"hahahaha.... tidak masalah, tapi lain kali kau harus berhati-hati sebelum menyimpul-kan sesuatu." ucap tuan Mawata sambil mengelus janggut-nya. lanjut-nya, "aku tak suka jika pewaris kekuatan-ku nanti-nya adalah sosok orang yang arogan dan tak tahu cara-nya berterimakasih pada orang yang sudah berbuat baik pada-nya."
Mendengar kata pewaris, Madika pun langsung pasang ekspresi bingung sambil sedikit memiring-kan kepala-nya.
"pewaris?" tanya Madika memasti-kan.
"hahahaha...." tuan Mawata tertawa. "aku lupa memberi tahu-mu ya.... kau adalah calon pewaris kekuatan-ku yang ke sepuluh." ucap tuan Mawata sambil mengelus janggut-nya.
"calon pewaris?.... yang ke sepuluh?.... itu berarti sudah ada orang lain yang menjadi calon pewaris sebelum-nya." ucap Madika dalam hati.
"hoi Madika! ambil kesempatan ini! jangan di sia-siakan!" ucap tuan Risiwuku memberi Madika perintah.
"guru, kau terdengar sedikit bersemangat tentang hal ini." ucap Madika merespon perkataan guru-nya.
"orang ini tampak-nya sedang mencari pewaris, dia bahkan menilai diri-mu sebagai salah satu orang yang cocok untuk mewarisi kekuatan-nya!.... ini adalah kesempatan-mu untuk memperkuat diri dan mempercepat kenaikan tingkat!" ucap tuan Risiwuku memberi dorongan pada Madika.
"baik guru, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini!" ucap Madika yang tampak bersemangat.
"mewarisi kekuatan anda?" tanya Madika pada Mawata untuk memasti-kan maksud dari ucapan tuan Mawata.
"ya, benar sekali." jawab tuan Mawata sambil mengangguk.
setelah itu tuan Mawata memutar tubuh-nya dan membelakangi Madika.
"akan tetapi untuk bisa menjadi pewaris-ku, kau harus melewati beberapa ujian dari-ku." ucap tuan Mawata memberi syarat pada Madika.
__ADS_1
"ujian?.... boleh aku tahu seperti apa ujian itu?" Madika bertanya lagi untuk mencari tahu tentang ujian itu.
lalu tuan Mawata pun langsung memutar tubuh-nya menghadap Madika dan mulai menjelas-kan tentang ujian yang harus madika lalui untuk bisa mewarisi kekuatan dari tuan Mawata.