
Kindo tampak sangat marah melihat kemunculan Madika yang tiba-tiba datang dan menyerangnya secara mendadak.
Bukan hanya itu saja, ia kini sangat marah karena di matanya Madika saat ini adalah seorang pelaku yang sok-sokan jadi korban.
"Kau pikir setelah membunuh saudaraku kau bisa hidup dengan tenang hah?!... Jangan bermimpi sialan!" bentak Kindo mengumpat Madika.
"Kau bicara apa hah?" Ucap Madika dengan tenang namun terdengar oleh mereka semua. "Coba pikirkan baik-baik, jika saat itu aku tak melawan adikmu yang ingin membunuhku, maka sudah pasti aku yang akan jadi korban... Selain itu kau malah mencoba membunuhku dengan bersekongkol bersama gadis pengkhianat itu... Sekarang aku bertanya, siapa yang sebenarnya korban di sini?" Tanya Madika dengan ekspresi tenang dan datar.
"Diam kau! T4i!" bentak Kindo yang kemudian langsung memunculkan sebuah pedang petir yang cukup besar di tangannya.
"Kalian semua!... Cepat buat penghalang di tempat ini agar aku bisa bebas bertarung dan menghabisi bocah ini!" Teriak Kindo sambil menoleh ke arah para juniornya yang sedang berdiri di atas atap.
"Siap!" Jawab mereka serentak.
Lalu mereka pun langsung mulai menggerakkan tangan mereka.
Lalu mereka pun mendorong kedua tangan mereka ke depan dan seketika itu juga terlihat ada energi di sertai percikan petir muncul dari telapak tangan mereka.
Energi dan percikan petir itu kini mulai membentuk sebuah penghalang setengah lingkaran berukuran raksasa yang mengurung Madika dan Kindo di dalamnya.
"Sekarang Mari kita bertarung dengan sungguh-sungguh!" Ucap Kindo dengan penuh percaya diri.
Saat ini Kindo mau tak mau harus terlihat kuat dan percaya diri.
Biar bagaimanapun juga, ia merupakan salah satu dari sepuluh pemuda terkuat di klan ini.
Jika ia membiarkan dirinya terlihat Lemah, maka itu akan merusak reputasi dirinya sendiri.
"Kau yakin ingin bersungguh-sungguh?" Tanya Madika dengan ekspresi datar.
"Tidak usah banyak bicara!... Maju sini!" Bentak Kindo yang kemudian melesat ke arah Madika.
"Lah, dia yang menyuruh maju malah dia yang maju." Ucap Madika dalam hati.
Lalu Madika pun langsung memunculkan pedang ganda miliknya dan dengan segera ia menahan tebasan pedang Kindo.
Satu tebasan berhasil di blokir oleh Madika dan dengan segera Madika langsung memutar tubuhnya sambil melakukan tebasan menggunakan pedang yang satunya lagi.
Tebasan pedang madika hampir mengenai leher Kindo, namun dengan cepat Kindo menundukkan badannya sambil memutar tubuhnya dengan posisi membelakangi Madika dan kemudian langsung menendang Madika.
Madika terkena tendangan itu.
Tendangan yang di perkuat dengan energi Saga dan elemen petir itu membuat Madika terdorong cukup kuat hingga hampir menabrak dinding penghalang yang tampak penuh dengan kilatan-kilatan petir yang menyambar-nyambar di sekitarnya.
__ADS_1
"Luar biasa!"
"Hajar dia kak Kindo!"
"Jangan beri dia ampun!"
Para junior itu kini bersorak untuk Kindo, sementara untuk Madika yang di ketahui sebagai dalang dari kematian Kinto kini di caci maki oleh mereka.
Bahkan para gadis sebelumnya yang memuji Madika kini mengatakan hal-hal buruk terhadap Madika.
"Hahaha... Rupanya kau orang yang cukup populer ya... Benar-benar di luar dugaan." Ucap Madika setelah melihat para junior yang memberi sorak pada Kindo.
"Sudah ku bilang tak usah banyak bicara!" ucap Kindo dengan suara yang terdengar kesal sambil mengangkat pedangnya di udara.
Tampak di atas pedang Kindo kini terlihat sosok seekor naga petir yang sangat besar kini melayang sambil menatap tajam ke arah Madika.
"Serang!!" Teriak Kindo sambil mengayunkan pedangnya ke arah Madika.
Seketika itu juga kini naga petir milik Kindo langsung melesat cepat ke arah Madika.
"Dia sepertinya benar-benar serius ingin membunuhku sekarang!" Ucap Madika dalam hati saat melihat naga petir yang sangat besar itu terbang ke arahnya.
Madika bukannya takut melawan Kindo, hanya saja Madika membutuhkan alasan untuk melawan Kindo.
"Kali ini aku juga akan serius melawanmu!" Ucap Madika dengan tegas sambil menunggu naga itu akan menerkam dirinya.
Kini naga petir itu langsung menghantam Madika tepat di tempat Madika berdiri.
Hantaman kepala naga petir itu menghasilkan ledakan yang sangat kuat sampai-sampai penghalang yang di buat para junior itu langsung retak akibat tekanan energi yang di hasilkan oleh ledakan tersebut.
"Hahahaha... Mati kau sial@n!" Teriak Kindo sambil tertawa dan mengumpat Madika.
Sementara itu, para junior Kindo kini hanya bisa menatap takjub kejadian itu.
mereka kini benar-benar bisa melihat kekuatan yang luar bisa sari senior mereka itu.
"Luar biasa!"
"Memang pantas Masuk sebagai daftar terkuat!"
Sementara para junior itu sedang memuji Kindo.
Tiba-tiba mereka semua di kejutkan oleh suara Madika yang kini muncul dari bayangan milik Kindo.
__ADS_1
Madika kini berdiri di belakang Kindo dan berkata.
"Siapa yang mati?" Ucap Madika dengan santainya.
Mendengar suara Madika, Kindo pun langsung menebaskan pedangnya ke belakang.
"sialan!... Kenapa kau masih hidup juga!" Teriak Kindo sambil menebas Madika.
"Itu karena seranganmu sangat lemah bagai kapas." Jawab Madika dengan ekspresi datar dan dengan suara yang bisa di dengar oleh seluruh junior yang sedang memperbaiki kembali penghalang milik mereka.
"Jurusmu itu hanya menang gaya saja, tapi aslinya lebih lemah dari jurus naga petir yang ku kenali!" Timpalnya sambil mengingat sosok Natalia dengan elemen petir apinya yang sangat ganas dan menakutkan itu.
Mendengar ucapan Madika, Kindo pun merasa semakin di remehkan.
Namun yang paling membuatnya kesal saat ini karena Madika membahas hal itu di depan para juniornya.
Hal itu tentu membuat Kindo merasa bahwa harga dirinya sedang di rendahkan di depan para juniornya.
Rasa kesal pun tak terbendung. Kini Kindo langsung melepaskan sebuah jurus mematikan untuk melawan Madika.
"Kau benar-benar ingin mati ya hah?!!... kalau begitu, biar ku antar kau kepada kematian itu!!" Teriak Kindo sambil melenyapkan pedangnya
Lalu Kindo pun mundur dan menjaga jarak dari Madika.
Ia kemudian mengangkat kedua tangannya tegak lurus di atas kepalanya dengan posisi telapak tangan terbuka dan menghadap ke atas.
"HUAAAAAA!!!"
Kindo berteriak dengan suara keras, dan tampak petir dalam jumlah yang sangat banyak kini menyelimuti tubuh Kindo.
Petir-petir itu tampak merambat dengan diameter luasnya mencapai enam meter.
"Kali ini kau tidak akan mungkin bisa menghindar!!... Sekalipun ini akan menguras hampir semua energiku, tapi aku kan tetap melakukannya!" ucap Kindo membulatkan keputusannya.
Kini Kindo pun perlahan menurunkan tangan kirinya sambil menghembuskan nafas panas dari dalam tubuhnya.
Sementara itu tangan kanannya masih berada di atas dan menghadap ke langit.
Setelah itu tampak seluruh petir yang menyelimuti Kindo langsung bergerak naik ke atas hingga mencapai telapak tangan kanan Kindo.
Seketika Awan di tempat itu langsung berubah menjadi mendung seperti akan terjadi badai besar.
Tampak di dalam awan gelap itu terlihat sangat banyak petir-petir yang menyambar.
__ADS_1