
Setelah itu Madika pun langsung mempercepat gerakan-nya saat menghindar.
"pedang halilintar ini terlalu banyak dan juga sangat kuat!.... pedang angin biasa tidak akan bisa menahan serangan pedang halilintar itu.... mungkin sebaik-nya aku gunakan saja senjata salah satu senjata energi milik-ku." batin Madika.
Setelah itu Madika pun langsung mengeluar-kan dua bilah pedang angin dari sebuah lingkaran energi.
pedang angin yang di keluar-kan oleh Madika itu adalah sebuah senjata energi tingkat 8.
"entah ini bisa menandingi senjata pusaka atau tidak, yang jelas akan lebih baik jika ku coba saja!" batin Madika sambil mengambil ancang-ancang untuk menyerang.
Setelah itu Madika pun langsung mulai menangkis seluruh pedang halilintar yang sedang melesat ke arah-nya.
"pedang ini bisa menahan serangan-nya!" batin Madika saat melihat senjata energi milik-nya bisa menahan serangan dari jurus pedang halilintar milik si Niverom.
Kemudian Madika pun segera menebas-kan pedang-nya untuk mencipta-kan hembusan angin bertekanan tinggi.
seketika setelah menebas udara, angin pun berhembus kencang dari arah Madika.
hembusan angin yang sangat kuat itu menghempas-kan banyak pedang halilintar yang bergerak ke arah Madika.
Setelah itu Madika pun langsung mendarat ke tanah, dan dengan cepat ia menebas-kan pedang-nya dengan beberapa variasi tebasan di udara. hal itu pun membuat angin di sekitar langsung berkumpul dan mengelilingi tubuh Madika.
setelah itu Madika pun langsung menebas-kan kedua pedang-nya itu ke arah datang-nya serangan dari ribuan pedang halilintar yang tersisa.
Seketika tebasan itu langsung menghasil-kan ledakan angin yang sangat kuat.
ledakan itu membentuk sebuah gelombang angin bertekanan tinggi yang bergerak meluas dan menghantam seluruh pedang halilintar milik Niverom hingga pedang itu terhempas dengan sangat kuat. bahkan efek dari serangan gelombang angin itu membuat si Niverom terdorong mundur, dan beberapa pedang halilintar milik-nya hampir menusuk diri-nya sendiri.
"kuat sekali!.... bagaimana mungkin bocah ini bisa sekuat itu?!" batin si niverom yang tampak terkejut seolah tidak percaya.
kemudian Niverom itu pun langsung melihat ke bawah tepat di tempat Madika melancar-kan serangan.
__ADS_1
kini di bawah sana tampak kepulan debu tebal bagaikan asap perlahan memudar.
setelah kepulan debu itu lenyap, ia melihat Madika sedang berdiri tegak sambil menatap ke arah-nya.
"seperti-nya bocah ini jauh lebih merepot-kan dari yang ku duga.... apa lagi sekarang ternyata dia sudah berada di tingkat Elite!.... ini benar-benar di luar dugaan dan sulit untuk di percaya!" batin si niverom dengan ekspresi kesal. "bagaimana bisa ia meningkat-kan tingkatan-nya dengan sangat cepat seperti itu?.... apa yang sebenar-nya bocah ini sembunyi-kan?" batin-nya bertanya-tanya.
Sementara itu, Madika yang saat ini sedang menengadah ke atas kini langsung mengangkat kedua pedang-nya ke atas kepala-nya.
"sebaik-nya ku selesai-kan ini secepat mungkin." ucap Madika dalam hati.
Seketika kedua pedang Madika memancar-kan sinar putih yang cukup menyilau-kan mata, dan dari segala arah tampak angin bergerak dan berkumpul di atas pedang yang Madika gunakan itu.
Si Niverom pun langsung celingak-celinguk saat melihat hal itu.
tampak-nya di Niverom sedang memasti-kan sesuatu sebelum mengambil tindakan.
"seperti-nya bocah ini akan melancar-kan jurus yang kuat!.... alangkah baik-nya aku tetap waspada dan tidak mengambil tindakan secara terburu-buru!" batin Niverom itu sambil mengamati dengan cepat.
hembusan angin-angin itu tampak membuat banyak pepohonan bergerak acak dan banyak dedaunan yang beterbangan dengan tidak teratur bagaikan hujan yang sedang berjatuhan.
Sementara itu, saat ini kelompok Bu Meri yang sedang bertarung dengan siswa dari akademi Parompe kini mulai berhenti bertarung lagi setelah melihat gejolak angin yang sangat aneh itu.
"badai apa lagi kali ini?
"barusan awan dan petir, sekarang angin yang berhembus secara acak?"
Berbagai pertanyaan timbul lagi di kepala para siswa serta guru-guru mereka.
"seperti-nya ada dua orang kuat yang sedang bertarung saat ini!" ucap seorang guru dari akademi Parompe.
Di sisi lain, saat ini siswa dari akademi Walawatu tampak sudah tak sanggup lagi melawan para siswa dari akademi Parompe.
__ADS_1
hal itu bisa di lihat setelah beberapa saat bertarung kini hanya tiga orang saja siswa yang masih bisa berdiri.
Namum dari tiga orang itu hanya ada satu yang bisa berdiri dengan benar, dan dua lain-nya tampak seperti orang yang sedang mabuk karena sudah merasa sulit untuk menyeimbang-kan badan saat berdiri.
"hentikan pertarungan bod0h ini!!" teriak Bu Meri dengan nada membentak.
"heh?.... hentikan?.... bukan-kah sejak awal siswa-mu lah yang menyerang lebih dulu?.... lagi pula ini pertarungan antar siswa, jadi biar-kan para siswa sendiri yang menyelesaikan-nya." ucap salah satu guru dari akademi Parompe dengan ekspresi yang tampak angkuh dan arogan.
"hahahaha..... apa hanya segini saja kemampuan siswa akademi Walawatu?.... hahahaha payah sekali!" ucap salah satu siswa dengan wajah yang tampak meremeh-kan.
"diam kau botak sial@n!" bentak salah satu siswa yang saat ini tampak oleng dan tak bisa berdiri dengan baik.
"apa kata-mu?!" bentak siswa yang di panggil botak itu.
"kau memang botak sial@n!!.... jangan menghindar dari kenyataan itu!.... dasar botak!" teriak siswa itu lagi.
"diam kau bajing@n!" balas si botak sambil menggerak-kan tangan-nya seolah sedang melancar-kan tinju dari arah bawah ke atas.
seketika itu pula muncul sebuah tongkat angin dari bawah kaki si botak dan dengan cepat tongkat angin itu melesat ke arah siswa oleng itu.
serangan tongkat angin yang sangat cepat itu pun akhir-nya mengenai dagi si oleng dan membuat si oleng terhempas sangat jauh serta menabrak sebatang pohon besar hingga batang pohon itu tampak retak.
"hahahaha lemah sekali.... kalian semua hanyalah siswa yang payah!" teriak si botak dengan penuh semangat.
"ternyata kemampuan kalian semua hanya-lah ampas.... jika nanti-nya akan di laksana-kan pertarungan antar akademi, aku yakin aku bisa mengalah-kan kalian semua... bahkan jika semua turun tangan melawan-ku aku tidak akan terkalah-kan!" teriak-nya lagi.
Tak lama setelah itu, kini siswa Bu Meri dan siswa akademi Parompe yang sedang bertarung itu pun di datangi oleh kelompok Niverom yang beranggota-kan sepuluh orang. sembilan di antara-nya berada di tingkat Alima dan satu di antara-nya berada di tingkat Aono.
"KEJUTAAANNN!!!"
~DUAAAAARRR~
__ADS_1
Teriak seorang Niverom di sertai dengan ledakan api yang sangat kuat di tengah-tengah para siswa yang sedang bertarung tersebut.