
Ketika Mindo menantang Madika, tampak siswa-siswa lain yang ada di sekitar selasar itu kini terlihat terkejut dan mulai saling berbisik.
"hei.... itu kan Mindo, si anak bangsawan yang memiliki pengaruh di akademi ini."
"ya kau benar.... dan seperti-nya anak yang menarik perhatian saat penerimaan siswa baru itu sudah melakukan sesuatu yang membuat Mindo kesal."
"sejujur-nya aku penasaran, jika mereka benar-benar akan bertarung, kira-kira siapa yang akan menang?"
"benar juga.... soal-nya ada kabar itu loh.... yang kata-nya dia berhasil mengalahkan Natalia."
"ahh.... iya benar juga.... aku juga penasaran, apakan dia itu benar-benar kuat atau mungkin kemenangan-nya melawan Natalia hanya suatu kebetulan saja."
Berbagai bisikan mulai terdengar, para siswa di tempat itu terlihat penasaran dan sangat antusias menunggu jawaban Madika yang saat ini tengah berdiri menghadap Mindo yang sedang menantang-nya.
Tak lama setelah itu Madika pun mulai membuka mulut-nya.
"maaf, aku sangat lapar sekarang.... aku ingin makan." ucap Madika dengan tenang di sertai ekspresi wajah yang tampak suram.
"lupakan soal makan!.... kau harus melawan-ku." ucap Mindo sambil berseringai.
lalu mindo mengangkat tangan kanan-nya sambil memunculkan tombak es di tangan kanan-nya itu.
"lagi pula saat ini banyak yang penasaran dengan kebenaran dari cerita Natalia yang sangat tidak jelas alur-nya itu."
Apa yang di katakan oleh Mindo saat ini adalah benar, hal itu di karenakan penjelasan Natalia tentang kekalahan-nya sangatlah singkat dan tidak jelas.
bahkan saat diri-nya di tanyai lagi soal kekalahan-nya itu, ia malah diam dan tak mau menjelaskan apa-apa.
hal itu tentu-nya membuat banyak orang yang sudah mengenal dan mengetahui kemampuan Natalia tentu jadi penasaran dan ingin tahu, sebenar-nya sehebat apa orang yang mengalahkan Natalia si putri sadis pengendali petir api.
"meskipun kau memaksa-ku bertarung sekarang, aku tetap tak mau karena saat ini aku sedang lapar!" ucap Madika menegaskan.
Mendengar penolakan dari Madika, kini para siswa yang berada di sekitar mereka langsung mengerumuni mereka berdua sambil menyuarakan kata 'bertarung' secara terus menerus.
"bertarung!!"
__ADS_1
"bertarung!!"
"ayo bertarung!!"
teriak para siswa yang ada di sekitar mereka.
Suara para siswa yang menyuarakan kata 'bertarung' itu kini terdengar hingga jarak yang cukup jauh dan langsung mengundang banyak perhatian.
kini kerumunan itu makin bertambah dan Selasar itu kini di penuhi oleh siswa-siswa yang ingin melihat pertarungan.
Setelah melihat kerumunan itu, kini Madika pun mulai berpikir untuk menerima tantangan Mindo.
hal itu ia lakukan di karenakan ia tahu bahwa masalah ini tidak akan selesai begitu saja, apa lagi saat ini sudah banyak yang berdatangan dan tentu-nya itu membuat Madika merasa sedikit resah dan ingin segera mengakhiri permasalahan ini.
"baiklah.... aku terima tantangan-mu." ucap Madika dengan ekspresi serius.
Mendengar jawaban Madika, kini para siswa yang mengerumuni mereka langsung bersorak girang karena mereka merasa puas sudah berhasil mendesak Madika untuk bertarung.
sementara itu, Mindo yang mendengar jawaban Madika kini langsung berseringai licik.
"ckckckckck..... akan ku habisi si bed€bah bod0h ini.... dengan begitu, maka aku lah yang akan menjadi yang terkuat!" batin Mindo.
Singkat cerita, kini Madika dan Mindo sudah berada di arena pertarungan, kedua-nya berdiri saling berhadapan.
para siswa lain-nya tampak sedang menonton mereka sambil mengeluarkan berbagai argumen serta melakukan prediksi sesuai pola pikir mereka.
banyak dari mereka yang menjagokan Mindo karena Mindo juga merupakan salah satu siswa yang sudah di akui oleh para guru serta orang-orang yang mengetahui tentang diri-nya.
Sementara Madika, ia sama sekali tidak mendapat dukungan yang banyak dari siswa-siswa lain-nya karena diri-nya memang belum di kenal.
namun ada satu gadis yang siap mendukung-nya, bahkan gadis itu tidak ragu-ragu untuk berteriak menyemangati Madika.
gadis itu adalah Ariel Rifana.
Ariel saat ini terlihat cukup percaya diri untuk mendukung Madika karena diri-nya telah mendengar tentang Madika dari paman-nya.
__ADS_1
"jangan kecewakan aku! aku percaya pada-mu!!" ucap Ariel dengan suara keras.
"yang benar saja.... bahkan Ariel pun mendukung-nya.... apa dia itu benar-benar kuat?" ucap beberapa orang bertanya-tanya.
"sebelum-nya paman berkata, 'jangan jadikan Madika sebagai musuh-mu jika kau ingin berumur panjang'.... kata-kata itu ia ucap-kan dengan nada dan raut wajah yang tampak serius.... aku yakin, jika paman saja berkata seperti itu, berarti Madika memang orang yang hebat." batin Ariel sambil tersenyum penuh semangat menatap Madika.
Sementara itu, Mindo saat ini terlihat sedang berdiri sambil pasang kuda-kuda bertarung-nya.
ia saat ini terlihat sudah siap menyerang kapan saja.
namun di sisi lain Madika tampak tenang dan ia tidak menggunakan kuda-kuda bertarung yang tampak mencolok.
ia saat ini terlihat sangat santai sampai-sampai ia tidak mau mengeluarkan tangan-nya dari dalam saku celana-nya.
"saat ini Bunggu sedang tidak bersama-ku, jadi sebaik-nya aku langsung menggunakan teknik terkuat-ku dan menghabisi orang ini dalam satu serangan." batin Madika.
Saat ini Bunggu sedang berada di dalam gua yang Madika datangi tadi malam. hal itu di karenakan Madika memerintahkan Bunggu untuk menjaga tempat itu agar hanya Madika saja-lah yang bisa keluar masuk di tempat itu untuk mengambil emas.
"kau meremehkan-ku ya hah?!" ucap Mindo yang tampak kesal karena Madika yang tidak mau mengeluarkan tangan-nya dari saku celana. ia merasa di remeh-kan oleh tingkah Madika itu.
"Seperti-nya kau benar-benar cari mati!!" teriak Mindo sambil mengayun tangan kanan-nya ke arah Madika, dan seketika muncul es runcing yang lebih besar dari ukuran es runcing biasa-nya. jumlah es runcing yang muncul itu pun sangat banyak dan berjejer sangat rapat sehingga terlihat seperti tembok yang penuh duri.
Es runcing dalam jumlah yang banyak itu pun kini melesat ke arah Madika dengan cepat.
jangkauan es runcing itu juga cukup luas dan bisa di pastikan serangan itu akan langsung menghantam Madika.
Namun saat es runcing itu berada di dekat Madika, Madika pun langsung mengerahkan kekuatan angin terkuat-nya.
Madika dengan cepat mengayun tangan-nya ke depan, dan seketika terjadi ledakan yang sangat kuat. ledakan itu menghancurkan es yang menyerang Madika.
Tak lama setelah ledakan itu, tiba-tiba sebuah badai angin yang cukup kuat menerjang area pertarungan.
Para siswa yang menonton pertarungan itu langsung terkejut saat melihat badai angin itu.
mereka semua langsung terbelalak dengan mulut yang menganga.
__ADS_1
"dia bisa menghancurkan es itu!"
ucap beberapa siswa yang tampak terkejut saat menonton.