
Ketika Madika sudah siap untuk mati, tiba-tiba terbesit sebuah pemikiran di kepala Madika.
"apakah aku harus menyerah sekarang?.... bukankah terlalu cepat jika menyerah sekarang?..... tidak akan!! kalau hal seperti ini saja membuat-ku putus asa! maka sampai kapan-pun dendam-ku tidak akan terbalaskan!!"
pikiran itu muncul dengan sangat cepat di dalam kepala Madika.
tiba-tiba Madika membuka mata-nya dengan cepat. lalu ia menyilang-kan kedua tangan-nya di depan dada.
seketika perisai angin langsung membungkus seluruh tubuh-nya.
Dua pedang es menghantam perisai angin Madika, dan di susul dengan tiga bola api yang menghantam dan meledak ketika menghantam perisai angin.
perisai angin milik Madika seketika hancur berkeping-keping.
Madika terlempar ke belakang dan menabrak sebuah pohon karena tekanan angin yang di hasilkan oleh ledakan itu cukup kuat.
Madika kini tergeletak di tanah.
ia berusaha berdiri.
kaki-nya mulai gemetar. banyak darah yang keluar dari bagian-bagian tubuh-nya yang terluka.
beberapa goresan terlihat di wajah-nya. darah mengalir di sekitar wajah-nya itu.
ia bernafas dengan terengah-engah.
"sudah ku duga perisai-ku pasti bisa di tembus oleh mereka! tapi untung-lah aku masih bisa bertahan!" batin Madika.
Melihat Madika yang terpojok-kan, kini Tepaonjo, Lili, dan Langu langsung mendekati Madika dan mengepung-nya di tiga arah mata angin.
lalu Tepaonjo mengangkat tangan kanan-nya dan mengarahkan-nya kepada Madika.
__ADS_1
"sekarang sudah berakhir Madika! sebaik-nya kau berhenti melakukan perlawanan!" ucap Tepaonjo dengan tenang.
"kau tidak akan bisa lari lagi sekarang!" tegas Langu yang kini tampak pasang kuda-kuda bertarung dan seketika tiga buah pedang es muncul di udara tepat di atas Langu.
"seperti-nya aku terlalu tinggi menilai-mu.... padahal sebelum-nya ku pikir kau itu benar-benar kuat karena bisa mengalahkan Natalia.... tapi seperti-nya kau tidak sepenuh-nya kuat seperti yang ku pikirkan..... mungkin saat itu kau hanya beruntung saja, tapi kali ini kau kehilangan keberuntungan-mu." ucap lili sambil menciptakan api yang bentuk serta panjang-nya seperti pisau namun di kedua ujung-nya tampak runcing.
Madika yang mendengar ucapan mereka kini terlihat tersenyum tipis.
"hahahaha..... menyerah? jangan bercanda." ucap Madika sambil tertawa.
"begitu ya...." balas Tepaonjo dengan ekspresi datar karena diri-nya tahu bahwa Madika tidak akan menyerah sampai ia benar-benar di bunuh oleh mereka.
"kalau begitu kau mati saja." ucap-nya lagi dengan ekspresi yang tetap datar sambil melancarkan serangan angin.
"hahahaha apa kalian yakin bisa mengalahkan-ku?" ucap Madika dengan ekspresi bersemangat.
"apa kalian tahu, kalau orang yang saat ini bertarung dengan kalian tidak-lah menggunakan alat Polinjanyawa?" ucap Madika dengan santai-nya.
"hahahaha jangan berbicara sesuatu yang tidak masuk akal seperti itu..... lagi pula tidak mungkin guru meloloskan kau mengikuti latihan ini jika tidak menggunakan Polinjanyawa." ucap Tepaonjo yang tampak sedikit ragu untuk menyerang Madika.
ya benar, saat ini Tepaonjo sedikit ragu untuk menyerang.
meskipun diri-nya tahu bahwa sembilan puluh persen dari perkataan Madika itu adalah bohong, tapi dia tetap tidak bisa mengabaikan sepuluh persen kemungkinan bahwa ucapan itu benar.
hal itu tentu membuat-nya ragu untuk menyerang karena jika ia membunuh Madika di sini, itu arti-nya dia benar-benar sudah membunuh Madika.
Madika yang melihat Tepaonjo yang kini tampak ragu langsung tersenyum tipis.
"untuk hal itu aku bisa jelaskan, karena inti-nya, aku ingin merasakan pertarungan yang sesungguh-nya, sama seperti saat kita mengikuti ujian masuk ke akademi ini! dengan begitu, baru-lah aku akan benar-benar serius menanggapi musuh-ku!" jelas Madika dengan ekspresi yang tampak sedikit bersemangat.
"jadi, saat semua-nya menggunakan alat Polinjanyawa, aku-pun juga menggunakan-nya. akan tetapi, saat hendak masuk ke dalam hutan, aku langsung mematikan alat itu sehingga tubuh kedua-ku lenyap dan sebagai ganti-nya, tubuh-ku yang asli inilah yang kini memasuki hutan dan bertarung secara langsung dengan yang lain-nya." jelas-nya dengan ekspresi serius.
__ADS_1
Mendengar penjelasan itu, tampak mereka bertiga yang mendengarkan kini mulai semakin ragu untuk menyerang.
namun pada akhir-nya, Tepaonjo pun mengambil keputusan.
"hahahaha.... kau benar-benar licik Madika! tapi sayang-nya lawan-mu adalah aku!" ucap Tepaonjo dengan senyum licik di wajah-nya.
"jika kau menggunakan cara itu untuk mengamankan posisi-mu, maka aku hanya perlu menyiksa-mu tanpa membuat-mu terbunuh!.... hingga akhir-nya kau sendiri-lah yang akan menyerah!" ucap Tepaonjo dengan nada suara yang sedikit keras dan di tekan.
lalu Tepaonjo segera melancarkan serangan angin yang yang berbentuk seperti tali yang panjang dengan ujung runcing.
angin berbentuk tali itu jumlah-nya ada dua dan langsung mengarah ke kedua kaki Madika.
tidak hanya angin saja, kini terlihat pula tiga buah pedang yang melesat ke arah kedua tangan Madika, dan di ikuti pula oleh serangan api yang di miliki oleh Lili.
Saat serangan mereka bertiga sudah sangat dekat dengan Madika, Madika pun tersenyum dengan dengan ekspresi seolah sudang mencapai kemenangan.
seketika muncul tiga lapis perisai angin yang menutupi seluruh tubuh Madika, dan di saat yang bersamaan langsung terjadi ledakan yang luar biasa di berbagai tempat, terutama tempat Tepaonjo dan kedua anggota-nya yang sedang menyerang Madika.
ledakan itu terjadi secara beruntun. hal itu pun membuat Tepaonjo, Lili, dan Langu terhempas kesana-kemari sehingga mereka tidak sempat mengaktifkan teknik perisai untuk melindungi diri dari ledakan itu.
Sebenar-nya, sejak awal Madika memang sudah berencana untuk melakukan serangan dadakan ini menggunakan teknik peluru angin milik-nya.
hanya saja waktu untuk mempersiapkan teknik ini memang terbilang cukup lama sehingga Madika berusaha mengulur waktu.
untuk menciptakan peluru angin, pemilik jurus tidak boleh terkena serangan karena itu akan mengganggu proses pembuatan jurus itu.
selain itu, Madika juga kesulitan jika harus mengaktifkan perisai angin sambil mengaktifkan teknik peluru angin.
hal itu pun membuat Madika mau tidak mau harus berbicara omong kosong dan menipu Tepaonjo dan yang lain-nya dengan cara mengarang cerita bahwa diri-nya tidak menggunakan alat Polinjanyawa padahal sebenar-nya ia juga menggunakan alat Polinjanyawa itu.
inti-nya diri-nya hanya ingin mengulur waktu hingga teknik peluru angin milik-nya bisa ia gunakan.
__ADS_1
"hah.... untung masih sempat!" batin Madika sambil menghela nafas.