
Kini Rukadu benar-benar berhasil di atasi dengan mudah oleh tiga tetua bawahan Madika itu.
Bahkan Madika sendiri pun sampai terkejut di buat-nya karena sebelum-nya Madika tidak melihat mereka bergerak hingga seperti itu.
"Waduh!... Jadi waktu itu kalau seandai-nya mereka bertiga sudah serius sejak awal saat melawan-ku, maka sudah bisa di pasti-kan aku akan mati dengan cepat di tangan mereka!" Pikir Madika saat mengingat diri-nya yang hanya di permain-kan oleh tiga tetua itu saat menyerang klan petir.
"Uhuk-uhuk!!"
Rukadu terbatuk-batuk dan dari mulut-nya keluar darah segar yang kini jatuh ke tanah.
"Si... Sial! Kalian main curang! Menyerang-ku tiba-tiba dari belakang dan mengeroyok-ku!" Ucap Rukadu di sela batuk-nya.
"Curang? Curang apa-nya? Apa kau pikir kita sedang berlomba hah? Ini pertarungan nyata! Nyawa-lah taruhan-nya! Jika kau menganggap remeh hal ini! Itu arti-nya kau masih belum pantas di sebut sebagai ksatria Saga!" Ucap Madika dengan tegas.
Setelah Madika selesai berkata seperti itu, kini Lingka pun langsung menarik pedang-nya dengan kasar dan membuat tubuh Rukadu tersentak.
Sesudah itu dengan cepat Lingka pun langsung menebas perut Rukadu mengguna-kan pedang-nya itu dan kini tubuh Rukadu pun langsung terbelah menjadi dua bagian.
Kini bagian bawah perut Rukadu langsung jatuh begitu saja ke tanah, sementara bagian atas perut-nya masih tergantung-gantung karena saat ini leher-nya masih di cekik oleh Rionda.
Setelah itu kini Rionda pun menoleh ke arah pertarungan yang tampak cukup kacau di tempat bawahan Karu serta bawahan Madika yang berada di tingkat grand master itu.
Rata-rata dari mereka semua kini sedang bertarung mengguna-kan senjata elemen mereka masing-masing.
Sesekali mereka melesat-kan serangan jarak jauh jika situasi memungkin-kan dan tidak ada rekan lain-nya di dekat.
Mereka saat ini kurang mengguna-kan serangan jarak jauh karena serangan itu memiliki potensi yang membahaya-kan kawan sendiri apa lagi saat ini mereka bertarung secara berkelompok dan tampak sulit untuk berpencar kerena bawahan bayangan milik Madika saat ini terus mendesak mereka agar tetap saling berdekatan di area itu.
Rionda yang melihat pertarungan itu kini langsung melempar sebagian tubuh Rukadu ke tengah-tengah mereka yang sedang bertarung.
__ADS_1
BRUAAAKKK!!!
Seketika setengah tubuh Rukadu itu pun menghantam kepala botak dari salah satu bawahan Rukadu itu sendiri.
Anggota Rukadu yang kepala-nya terhantam tubuh Rukadu itu kini sedikit terdorong dan terkejut.
Ia kemudian menoleh ke tanah karena kini sesuatu yang menabrak kepala-nya itu telah jatuh ke tanah.
Begitu si anggota berkepala botak itu melihat ke tanah, ia pun terkejut setelah melihat Rukadu yang kini sudah tidak bernyawa lagi.
Melihat hal itu si anggota berkepala botak itu pun langsung terlihat tak bersemangat lagi untuk bertarung. Ia kini langsung putus asa dan merasa bahwa akan sia-sia semua pertarungan ini karena pada akhir-nya mereka semua akan mati di tangan budak bayangan milik Madika.
Hingga akhir-nya salah satu budak bayangan Madika pun langsung menebas-kan pedang-nya ke leher pria berkepala botak itu.
SLAAASSSHH
Kepala si botak itu pun terlepas dari tubuh-nya dan jatuh bergelinding di atas tanah yang penuh dengan darah.
Lalu para budak bayangan milik Madika kini terus maju dan menghabisi para anggota Rukadu.
Sementara itu tampak ada tiga orang anggota Rukadu yang berencana untuk kabur setelah melihat sudah banyak korban. Apa lagi saat ini si ketua kelompok mereka yakni Rukadu sudah tak bernyawa lagi.
"Sebaik-nya kita segera kabur dari sini dan melapor-kan masalah ini pada ketua sekte!"
"Seperti-nya hanya itu satu-satunya jalan keluar kita saat ini!... Kembali ke sekte lalu meminta bantuan!"
"Kau benar! Kalau begitu ayo kita pergi sekarang juga!"
Setelah berkata seperti itu, kini ketiga pria itu pun langsung melompat ke atas pohon dan mencoba kabur dari tempat pertarungan itu.
__ADS_1
Namun, baru belum sempat melewati 2 pohon saat melesat, kini mereka bertiga pun sudah di hadang oleh sepuluh budak bayangan milik Madika.
"Sial! Mereka terlalu cepat mengejar kita!" Ucap salah satu dari anggota Rukadu itu dengan ekspresi wajah yang tampak sangat kesal.
"Mau bagaimana lagi! Mereka ini jelas-jelas berasal dari klan petir, klan yang di kenal dengan kemampuan bergerak yang sangat cepat dan lincah di banding klan-klan lain-nya!" Timpal salah satu dari anggota Rukadu yang lain-nya.
"Itu benar! Karena-nya sekarang kita jadi tak punya pilihan untuk kabur!" Sanggah pria yang lain-nya.
"Kau benar! Sia-sia saja kita mencoba kabur kalau seperti ini!"
"Sudah-lah! Kalau memang begitu maka lebih baik kita bertarung!! Mati kalau mati!!" Teriak salah satu anggota Rukadu itu sambil memuncul-kan pedang api di tangan-nya.
Lalu ia pun langsung melesat dan menghampiri sepuluh budak bayangan yang juga berada di tingkat grand master sama seperti diri-nya.
Hanya butuh beberapa menit saja, kini semua bawahan Rukadu telah tewas di tangan para budak bayangan milik Madika.
Madika yang melihat hal itu kini hanya bisa tersenyum tipis.
Dalam hati ia berpikir, jika seandai-nya orang-orang itu tak berniat menyerang diri-nya dan membunuh diri-nya, mungkin ia akan membiar-kan orang-orang ini tetap hidup, namun karena orang-orang ini, yakni Rukadu dan para bawahan-nya ngotot ingin melawan Madika dan ingin membunuh Madika, maka Madika pun tak segan-segan untuk melakukan hal yang sama pada mereka.
Setelah itu kini Madika turun ke bawah, dan saat kaki-nya menyentuh tanah ia langsung menghilang-kan sayap angin milik-nya itu.
Seketika para budak bayangan milik Madika itu pun langsung segera berkumpul di depan Madika dan menunduk-kan kepala-nya serta berlutut saat melihat kedatangan Madika.
Sementara itu kini Akina, Lingka, dan Rionda juga langsung terbang ke depan Madika dan kemudian langsung berlutut di hadapan Madika.
"Terima-lah hormat dari kami tuan!" Ucap para budak bayangan itu dengan serentak.
"Uhm..." Madika hanya bergumam dan mengangguk sekali.
__ADS_1
Setelah itu ia pun langsung mengayun-kan tangan kanan-nya dengan santai ke samping.
Setelah itu kini para budak bayangan itu pun langsung berubah menjadi aura hitam dan langsung masuk ke dalam bayangan yang ada di bawah kaki mereka masing-masing.