
Saat ini Simpo tampak memunculkan surat dari sang raja di tangan kanannya.
Setelah itu ia pun langsung memberikan gulungan surat itu kepada Madika.
Lalu Madika pun langsung meraih gulungan surat itu dan langsung membukanya.
Sebelum ia membacanya, ia pertama-tama mencoba mengecek keaslian dari gulungan surat itu dengan melihat materai yang ada di pojok kanan bawah surat itu dan kini ia melihat ada materai emas di surat itu.
Setelah memastikan keaslian surat itu, barulah Madika mulai membaca isinya.
Begitu Madika membaca isi surat tersebut, mata Madika langsung terbelalak melihat informasi yang di berikan melalui surat tersebut.
"Sepertinya kita harus bergegas sekarang!" Ucap Madika.
"Bergegas untuk apa?" Tanya tetua Barugo.
"Berdasarkan isi surat ini di katakan bahwa hampir seluruh wilayah kerajaan sedang di serang oleh sekelompok Niverom yang sangat kuat.... Mereka menyerang beberapa kota dan desa-desa yang berdekatan dengan hutan... Selain itu, saat ini seluruh prajurit saga dari kerajaan susah di kerahkan untuk mengatasi penyerangan dari para Niverom itu, namun karena jumlah prajurit Saga dari kerajaan tidak cukup banyak, jadi kerajaan pun mememinta bantuan pada sekte kita untuk membantu menangani masalah ini!" Ucap Madika menjelaskan secara singkat.
"Ya... Itu benar!... Saat ini sudah banyak wilayah kekuasaan kerajaan Doroko yang di serang oleh para Niverom yang jumlahnya sangat banyak itu, dan korban jiwa sudah mulai berjatuhan... Oleh karena itu kami di utus untuk menyampaikan pesan dari yang mulia raja Ando Bangareso." Sanggah Simpo.
"Begitu rupanya." Ucap Wilasopu sambil mengelus-elus janggutnya.
"Tidak perlu banyak basa-basi lagi!... Tujuan kita saat ini sudah ada di depan mata!" Ucap Madika dengan tegas dan langsung berdiri dari duduknya.
"Perintahkan seluruh anggota sekte Balumba sekarang juga dan segera bersiap-siap untuk melakukan misi bersama dengan para ksatria dari pihak kerajaan!... Kita harus melindungi umat manusia!" Ucap Madika dengan tegas sambil mengibaskan tangannya ke samping.
"Siap tuan!!" Ucap keempat tetua serta mantan ketua sekte dengan patuh.
Setelah itu, kini empat tetua sekte serta mantan ketua sekte itu langsung berdiri dan beranjak keluar dari ruangan itu untuk memberi perintah pada yang lainnya agar segera mengumpulkan semua anggota yang saat ini masih bisa bergerak.
Namun baru saja ke empat tetua sekte itu keluar dari tempat itu dan hendak melakukan tugasnya, tiba-tiba mereka di hampiri oleh salah satu murid dari sekte itu.
"Kita di serang!" Ucap murid itu dengan ekspresi yang tampak panik.
"Di serang? Apa jangan-jangan mereka sudah tiba di sini?!" Ucap tetua Barugo yang tampak sedikit terkejut.
"Sekte kita di serang oleh sekelompok Niverom yang jumlahnya sangat banyak, mereka semua berada di tingkat Papitu, sementara lima di antaranya berada di tingkat Wawalu dan yang tiga di antaranya berada di tingkat Sasio!" Ucap murid itu memberi penjelasan singkat.
Mendengar penjelasan itu, kini ke empat tetua sekte Balumba pun semakin terkejut.
Mereka semua sadar bahwa tingkatan terendah dari para Niverom itu bahkan jauh lebih kuat dari para murid di sekte ini, dan jika jumlah mereka memang sangat banyak, bisa-bisa korban yang akan berjatuhan juga akan semakin banyak pula, apa lagi di sana juga ada tiga Niverom tingkat Sasio yang memiliki kemampuan yang setara dengan tingkat Elite.
"Kalau begitu kau segera masuk ke dalam dan beritahukan hal ini pada ketua sekte!" Ucap Nakarapu memberi perintah.
"Ketua sekte?" Ucap murid itu sambil memiringkan kepalanya serta pasang ekspresi bertanya-tanya.
__ADS_1
"Tidak usah banyak tanya!... Segera masuk saja dan sampaikan pada ketua sekte yang baru bahwa kita sedang di serang sekarang!" Ucap Barugo mendesak murid itu.
"Baiklah, aku akan segera ke sana!" Ucap murid itu yang kemudian langsung pergi ke dalam bangunan itu.
Melihat kepergian si murid, kini keempat tetua sekte serta si mantan ketua sekte langsung melesat menjauh dari tempat itu.
Mereka saat ini sedang menuju ke tempat terjadinya pertarungan tersebut.
"Niverom sialan!... Kenapa mereka datang di saat seperti ini?!" Ucap tetua Barugo dengan ekspresi kesal di wajahnya.
Setelah beberapa saat mereka melesat, kini mereka berlima pun tiba di tempat para anggota sekte yang sedang bertarung dengan para Niverom yang datang menyerang mereka.
Mereka yang saat ini sedang terbang melayang mengguna-kan pedang kini mulai mengedarkan pandangannya ke berbagai arah dan melihat-lihat kondisi pertarungan saat ini.
Mereka melihat situasi saat ini benar-benar sangat berbahaya.
Sekelompok besar Niverom itu telah membuat para murid serta guru-guru di sekte itu tampak kewalahan dan makin kesulitan untuk melawan.
Tidak hanya itu saja, ternyata di antara para Niverom itu tidak hanya tiga orang yang berada di tingkat Sasio, karena ternyata Niverom yang berada di tingkat Sasio jumlahnya ada enam orang.
Setelah memastikan keadaan itu, kini mereka berlima pun langsung ikut campur dalam pertarungan itu.
Mereka berlima kini langsung melesat dan menghadapi masing-masing satu Niverom yang sudah berada di tingkat Sasio itu.
"Matilah kau!" Ucap tetua Barugo dengan suara yang keras sambil melesatkan tinju petir ke arah salah satu Niverom yang saat ini sedang menyerang salah satu guru dari sekte Balumba itu.
Namun Niverom itu terlambat bereaksi atas tindakan tetua Barugo dan hal itu pun membuat serangan tinju petir dari tetua Barugo langsung menghantam wajah Niverom itu.
DUAAARRRR!!
Seketika terjadi ledakan energi saat tinju petir itu menghantam wajah Niverom, dan bersamaan dengan ledakan energi itu kini si Niverom langsung terhempas sangat kuat hingga menghantam tanah dan menabrak beberapa Niverom lainnya yang sedang bertarung dengan para guru dari sekte Balumba.
Semua orang yang melihat si Niverom tingkat Sasio itu kini langsung terdiam sejenak dan menunda pertarungan mereka secara refleks.
"Mundur!" Ucap salah satu guru dari sekte Balumba memberi aba-aba untuk menjauh dari tempat si Niverom tingkat Sasio itu.
Mereka pun langsung melesat menjauh dari tempat itu, dan baru saja mereka menjauh dari situ, kini sosok tetua Barugo dengan tubuh yang berlapis halilintar kini melesat ke arah Niverom itu dengan sangat cepat.
DUAAARRRR!!
JHERRSSS!!
Sekali lagi ledakan terjadi saat tetua Barugo menghantam ke arah Niverom yang saat ini berada di tanah.
Ledakan itu membuat tanah di sekitarnya langsung hancur berkeping-keping dan bersamaan dengan ledakan itu tampak badai petir yang cukup banyak dan mengerikan langsung memenuhi area ledakan tersebut.
__ADS_1
"Kuat sekali!" Ucap salah satu guru yang saat ini terdorong dengan sangat kuat oleh hentakan energi dari hasil ledakan tersebut.
Meskipun serangan itu sangat kuat, namun sayangnya Niverom itu sama sekali tidak terluka.
Tampak dari tengah-tengah kepulan asap hasil ledakan itu terlihat sosok Niverom yang sedang berdiri tegak, dan tak lama setelah itu kini asap tebal itu langsung lenyap di terbangkan angin dan akhirnya sosok Niverom tingkat Sasio itu pun kini bisa terlihat jelas.
"Sial!... Seranganku bahkan tak bisa melukai-nya!" Ucap tetua Barugo dengan ekspresi kesal di wajahnya Saat melihat si Niverom tampak masih baik-baik saja.
"Apa hanya segitu saja kemampuanmu?" Ucap Niverom itu sambil menatap tetua Barugo dengan ekspresi yang tampak meremehkan Barugo.
Sementara itu, saat ini tampak Madika, Wilasopu, Simpo, dan Lompu kini sudah berada di luar gedung sebelumnya setelah mereka di beritahukan tentang informasi penyerangan para Niverom itu.
"Sebaiknya kita segera berangkat sekarang!" Ucap Wilasopu yang kemudian langsung memuncul-kan pedangnya untuk di gunakan terbang.
Kedua utusan kerajaan itu pun juga segera memunculkan pedang mereka dan dengan segera mereka bertiga melesat dengan cepat ke tempat pertarungan itu.
Sementara itu, Madika saat ini sedang bersama dengan murid yang datang membawa informasi itu.
"Untuk saat ini sebaiknya kau mencari tempat yang aman dulu!... Masalah ini biar aku yang menanganinya sendiri!" ucap Madika sambil memegang bahu murid sekte itu.
"Tapi...."
"Tenang saja." sela Madika dengan cepat memotong perkataan si murid.
Lalu Madika pun langsung memuncul-kan sayap anginnya.
"Untuk saat ini, jika kau memang masih ingin melakukan sesuatu, maka cobalah untuk membujuk murid lainnya agar segera mundur dan berlindung di tempat yang aman!" Ucap Madika yang kemudian langsung melesat tanpa menunggu jawaban dari murid itu.
Sementara itu, dua urusan kerajaan yang saat ini sedang melesat ke tempat pertarungan kini sedang membicarakan Madika karena mereka merasa bahwa Madika hanyalah orang lemah yang entah bagaimana bisa menjadi seorang ketua sekte yang baru.
"Hei!... Apa si ketua sekte yang baru itu tidak akan ikut?" Tanya Simpo dengan ekspresi meremehkan.
"Hahaha... mana berani bocah itu menghadapi Niverom!... Paling dia hanya anak manja yang mendapat jabatan karena orangtua atau kerabat!" jawab Lompu yang nada merendahkan Madika.
Baru saja berkata seperti itu, tiba-tiba mereka berdua langsung di kejutkan oleh sosok Madika yang tiba-tiba lewat di samping mereka dengan kecepatan yang luar biasa yang bahkan lebih cepat dari lesatan pedang mereka.
WHUUUSSSS!!
Angin berhembus sangat kuat saat Madika lewat di samping mereka dan hal itu membuat keduanya sempat hilang keseimbangan di atas pedangnya.
Meraka berdua pun langsung mencoba kembali menyeimbangkan tubuhnya dan terbang dengan stabil dan saat mereka terbang dengan stabil, mereka pun langsung melihat sosok Madika yang sudah berada jauh di depan mereka dengan sebuah sayap angin yang sangat elegan.
Melihat sayap angin itu, seketika keduanya jadi semakin terkejut dengan mulut yang menganga dan mata yang terbelalak menatap Madika dari belakang.
"Bocah itu!..."
__ADS_1
"Bagaimana bisa dia menggunakan jurus langka seperti itu?!" Ucap mereka berdua dengan ekspresi bertanya-tanya.