
Saat ini Natalia dan Diana sudah mencapai batasan mereka masing-masing.
Kedua-nya kini sudah tak sanggup lagi melanjut-kan pertarungan.
Sementara itu karena sebelum-nya Natalia meluap-kan emosi-nya dan mengata-ngatai Niverom yang menyerang mereka kini Niverom itu pun memuncul-kan ribuan jarum petir di udara.
Natalia yang melihat ribuan jarum petir itu kini langsung merasa putus asa, hal itu di karena-kan Natalia kini sudah tak punya kekuatan lagi untuk melawan.
Energi Saga-nya sudah hampir terkuras habis di pertarungan ini, sementara para Niverom itu tampak masih santai-santai saja menghadapi mereka berdua.
"Matilah!!" Teriak Niverom itu sambil mengayun-kan tangan-nya ke arah Natalia dan Diana.
Seketika itu juga kini ribuan jarum petir itu langsung melesat cepat bagai-kan cahaya ke arah Natalia dan Diana.
"Berakhir sudah!" Pikir Natalia sambil memejam-kan mata-nya.
Begitu Natalia memejam-kan mata-nya, kini ribuan jarum petir itu sudah berada sangat dekat dengan Natalia dan Diana.
Namun di saat-saat yang sangat genting itu kini Madika sudah tiba di tempat itu, dan dengan cepat melesat dan berhenti tepat di depan Natalia dan Diana.
"Pilar tanah!!" Teriak Madika sambil menancap-kan pedang pusaka raja monster semut milik-nya.
Seketika itu juga kini pilar tanah yang sangat tebal langsung menjulang dari bawah tanah dan membentuk sebuah dinding penghalang yang kini mengelilingi mereka bertiga.
Natalia yang saat ini mendengar suara teriakan Madika kini langsung terkejut dan segera membuka mata-nya lebar-lebar.
"Madika?!" Ucap Natalia dengan refleks sambil menatap punggung Madika yang saat ini sedang berdiri di depan-nya.
Sementara itu Diana yang sedang terbaring kini langsung berusaha untuk duduk dan memperhati-kan Madika dan Natalia yang ada di depan-nya saat ini.
"Maaf aku datang terlambat." Ucap Madika tanpa menoleh sama sekali.
Mendengar ucapan Madika itu, kini Natalia pun jadi merasa sedikit lega dengan kedatangan Madika di tempat ini.
Seketika itu juga seluruh tubuh Natalia yang sebelum-nya di paksa untuk terus berdiri langsung tubuh karena ia sudah merasa sedikit lega dan merasa bahwa saat ini ia sudah berada di tempat yang aman karena saat ini sudah ada sosok Madika di hadapan-nya.
Hal itu pun kini membuat Natalia langsung roboh dan dia pun langsung terduduk dengan posisi kedua kaki menekuk ke samping serta kedua tangan yang sedang menopang tubuh-nya agar tidak jatuh ke depan.
Lalu Natalia pun kini langsung menetes-kan air mata.
"Aku sudah menunggu-mu!... Kenapa kau lama sekali!" Ucap Natalia sambil menangis dan kemudian mengelap air mata-nya mengguna-kan tangan kiri-nya.
Mendengar suara tangisan Natalia itu, kini Madika pun langsung memutar tubuh-nya dan menghadap ke arah Natalia.
Setelah itu ia melangkah mendekati Natalia dan kemudian ia pun langsung mengelus lembut wajah Natalia yang saat ini masih menatap diri-nya.
"Aku benar-benar minta maaf Natalia, Sebelum-nya sekte Balumba juga di serang oleh para Niverom, jadi-nya aku pun harus mengurusi para Niverom itu dulu dan setelah itu baru-lah aku ke tempat ini karena mendapat-kan informasi bahwa para Niverom ini sedang menyerang banyak wilayah di kerajaan Doroko ini." Ucap Madika memberi sedikit penjelasan.
Natalia yang mendengar ucapan Madika kini hanya diam dan sesekali mengusap air mata-nya mengguna-kan tangan kiri-nya sendiri.
__ADS_1
Sementara itu, Madika yang melihat Natalia kini hanya diam saja dan tidak merespon perkataan-nya sebelum-nya kini langsung mengambil inisiatif.
Kini Madika pun perlahan merangkul tubuh Natalia dan kemudian memeluk-nya dengan mesra.
Saat Natalia merasakan pelukan Madika, kini Natalia pun segera merespon pelukan Madika, ia pun kini membalas pelukan Madika.
Natalia pun kini memeluk Madika dengan sangat erat dan meluap-kan semua kerinduan-nya selama ini.
Ia bahkan kini membenam-kan wajah-nya ke dada Madika dan langsung menetes-kan kembali air mata-nya namun tidak lagi mengeluar-kan suara tangisan karena kini ia benar-benar sudah merasa tenang berada di pelukan Madika.
Sementara itu, Diana yang melihat mereka berdua kini hanya bisa tersenyum tipis melihat kedua-nya yang kini sudah kembali seperti sebelum-sebelumnya.
"Akhir-nya mereka berusa bisa kembali bersama." Ucap Diana dalam hati.
Suasana yang terasa sedikit tenang di dalam pilar-pilar tanah yang sangat tebal itu kini berangsur-angsur berakhir karena saat ini tampak dinding dari pilar tanah itu sudah mulai retak karena ada-nya serangan yang di lancar-kan secara terus-menerus dari luar pilar tersebut.
Madika pun segera melihat kondisi pilar tanah milik-nya saat ini.
"Seperti-nya pilar tanah ini tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi!" Ucap Madika sambil mengedar-kan pandangan-nya.
"Apa kau bisa menghadapi mereka?" Tanya Natalia sambil menatap Madika dengan ekspresi yang tampak sedikit khawatir.
"Tenang saja, mereka akan segera ku habisi!... Aku akan membalas perbuatan mereka karena telah berani melukai diri-mu." Ucap Madika yang kemudian dengan spontan mencium kening Natalia.
Setelah berkata seperti itu, kini Madika pun langsung berdiri dan ia menggendong natalia di depan-nya.
Sementara itu, Natalia yang sedang di gendong itu kini tak bisa berkata-kata lagi di hadapan Madika.
Ia kini hanya bisa menatap Madika dengan mata yang terbelalak dan di pikiran-nya saat ini masih terus terngiang-ngiang bayangan saat Madika mencium kening-nya barusan.
"Dia mencium-ku?" Pikir Natalia yang wajah-nya kini jadi merah merona.
Setelah itu Madika yang sudah berada di dekat Diana kini langsung menurun-kan Natalia tepat di samping Diana.
"Baik-lah, kalian berdua di sini saja!... Aku akan melindungi kalian dengan semua kekuatan yang ku miliki!" Ucap Madika.
Setelah berkata seperti itu, kini Madika pun langsung mengangkat tenaga kanan-nya ke samping, dan seketika itu muncul-lah sebuah lingkaran energi.
Dari lingkaran energi itu kini sosok Askila kecil yang sangat imut muncul dari lingkaran energi.
Natalia dan Diana yang melihat Askila kecil kini langsung terlihat gemas pada Askila.
"Waahh... imut sekali!" Ucap Natalia sambil menarik Askila yang saat ini sedang berjalan mendekati diri-nya.
"Hei! Jangan tarik-tarik tubuh-ku bocah!" Ucap Askila dengan ekspresi kesal tapi malah terlihat imut dengan wajah dan tubuh mungil-nya itu.
"Peliharaan-mu imut sekali!... Boleh aku bawa pulang?" Tanya Diana bergurau.
"Tidak boleh, dia memang tampak imut tapi asli-nya kejam seperti iblis!" Ucap Madika.
__ADS_1
Setelah berkata seperti itu, kini Madika pun langsung menatap ke arah Askila.
"Kau jaga mereka berdua! Siap-kan perisai petir-mu sekarang juga karena tempat ini akan segera hancur karena serangan dari luar!" Ucap Madika memberi perintah.
"Siap tuan!" Ucap Askila sambil mengangkat satu kaki depan-nya ke atas kepala seolah sedang memberi hormat layak-nya memberi hormat pada bendera.
Tak lama setelah itu, kini pilar tanah milik Madika itu pun benar-benar hancur, namun karena saat ini Askila telah mengaktif-kan perisai petir-nya, kini semua pun sudah aman.
Setelah pilar-pilar tanah itu hancur, kini Madika pun segera melesat dengan cepat menghampiri para Niverom yang menyerang pilar tersebut.
Para Niverom itu ternyata menyerang pilar tanah Madika mengguna-kan serangan pedang api dalam jumlah banyak.
Dan saat Madika melihat ada sisa-sisa pedang api yang kini melesat ke arah-nya, Madika pun dengan segera memuncul-kan pusaka ratu monster semut yang melekat di punggung-nya.
Pusaka itu adalah pusaka berbentuk kaki dari ratu monster semut.
Bentuk-nya cukup unik dan memiliki ketahanan dan kekuatan yang luar biasa kuat.
Dengan keenam kaki semut yang muncul di punggung-nya itu, kini Madika menangkis semua pedang api yang melesat ke arah-nya itu sambil terbang dan berputar-putar di udara.
Hingga akhir-nya kini Madika pun langsung muncul di antara beberapa Niverom.
Dengan segera Madika menebas para Niverom itu dengan sangat cepat.
Pergerakan Madika tidak berhenti di situ saja, dengan kecepatan yang sangat luar biasa Madika kini terus melesat maju ke depan dan mencoba menghajar semua Niverom tingkat Papitu yang menghalangi jalan-nya.
"Matilah kalian semua!!" Ucap Madika dengan suara keras sambil terus bergerak maju dengan kecepatan tinggi.
Satu persatu Niverom kini di bantai oleh Madika.
Dengan berbagai jurus Madika terus menghajar dan membunuh semua Niverom itu.
Bahkan kini Madika juga sudah mengguna-kan jurus ribuan pasukan monster semut untuk membantu-nya membantai semua Niverom yang ada saat ini.
Meski-pun saat ini energi Nosa yang ada di senjata pusaka milik-nya itu sudah banyak terkuras karena sudah mengeluar-kan banyak jurus secara terus-menerus, namun Madika tetap terus mengguna-kan jurus-nya agar bisa membantai semua Niverom itu.
Namun belum selesai Madika membantai para Niverom di tingkat Papitu, kini Madika sudah di hadang oleh lima niverom tingkat Sasio, yakni Niverom yang tingkatan-nya setara dengan tingkat Epic.
"Wah wah wah... Bocah ini benar-benar sangat bersemangat ya." ucap salah satu Niverom tingkat Sasio itu sambil menatap Madika dengan tatapan penuh intimidasi.
"Apa perlu kita bunuh sekarang?" Balas Niverom dua sambil menatap Madika dengan angkuh.
"Hahaha... Jangan langsung di bunuh lah... Kita main-main dulu sampai puas!... Kita siksa dulu dia dan buat dia sampai merasa putus asa dan ingin segera mati saja karena merasakan siksaan dari kita!" Sanggah Niverom tiga memberi saran.
"Kau benar!... Lagi pula bocah seperti ini jika tidak di kasi paham maka ia pasti akan semakin melunjak!" Sambung Niverom empat.
Madika yang mendengar ucapan mereka kini hanya bisa menggeleng-kan kepala-nya sambil tertawa kecil seolah sedang tertawa mengejek pada kelima Niverom itu.
"Haha... Kalian ini terlalu banyak bicara!... Apa kalian pikir kalian itu pantas untuk melawan-ku?" Tanya Madika sambil menghenti-kan senyuman-nya dan langsung menatap ke lima Niverom itu dengan tatapan mengintimidasi.
__ADS_1