Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Madika vs Joe


__ADS_3

Setelah Joe berhasil memenangkan pertarungan mode battle royale itu, kini pemimpin pertarungan memberikan waktu setengah jam bagi Joe untuk beristirahat dan memulihkan energi Saga yang ia miliki.


Dalam waktu setengah jam ini, Joe akan beristirahat dan memulihkan kondisi Saga-nya.


Di saat jeda waktu setengah jam itu di umum-kan, kini banyak siswa yang sebelum-nya duduk di bangku penonton langsung keluar dan mencari makanan maupun hanya sekedar mencari udara segar.


begitu pula dengan Madika, saat ini ia tampak sedang berjalan bersama Ariel di taman akademi.


dengan langkah santai kedua-nya berjalan sambil melihat-lihat sekitar taman itu.


saat ini, tampak Ariel yang sedang berjalan mengikuti Madika dari belakang sesekali menyentuh tumpukan bunga yang tampak indah itu.


Sesaat kemudian Ariel pun berhenti di salah satu kumpulan bunga berwarna merah.


lalu ia langsung jongkok di depan bunga itu sambil menyentuh bunga itu dengan lembut.


"apa kau punya rencana untuk pertarungan-mu dengan Joe?" tanya Ariel tanpa menoleh pada Madika.


Madika yang mendengar pertanyaan itu kini langsung berhenti melangkah.


ia lalu menoleh ke belakang tanpa memutar tubuh-nya.


"ehmm.... soal rencana tentu aku punya, hanya saja terkadang situasi pertarungan seringkali berubah dan tidak sesuai dengan dugaan kita." jawab Madika.


"begitu ya...." ucap Ariel dengan ekspresi lesu.


"hah...." Ariel menghela nafas. lalu di petik-nya salah satu bunga yang berwarna merah di depan-nya itu.


setelah itu ia pun berdiri dan berjalan perlahan menghampiri Madika.


"Joe itu bukan-lah orang yang bisa di remeh-kan.... dari hasil pertarungan yang ia tunjuk-kan barusan, kita bisa tahu seberapa kuat dia itu." ucap Ariel menjelaskan.

__ADS_1


Mendengar ucapan Ariel, Madika pun langsung memutar tubuh-nya ke arah Ariel yang sedang berjalan pelan mendekati-nya.


"apa kau menghawatirkan-ku?" tanya Madika sambil tersenyum ramah.


"ehmm.... bisa di bilang begitu." jawab Ariel yang tampak malu-malu dan wajah-nya tampak memerah.


"tidak perlu khawatir, kalaupun aku kalah aku tidak akan mati, kan hanya menggunakan tubuh kedua, bukan tubuh asli." balas Madika sambil menepuk pelan bahu Ariel yang kini sudah berdiri berhadapan dengan-nya.


Mendengar ucapan Madika itu, kini Ariel tampak seperti sedang merasa tak di pahami oleh Madika.


"hah...." Ariel menghela nafas dengan ekspresi lesu. "ya sudah-lah, terserah kau saja." ucap Ariel.


Setelah berkata seperti itu, Ariel pun langsung menyelipkan bunga tang ia petik tadi ke atas telinga Madika.


Madika yang melihat tindakan Ariel tampak seperti orang bingung dan bertanya-tanya apa yang sedang Ariel pikirkan?.


Tak lama setelah menyelipkan bunga itu, Ariel pun langsung tertawa seolah mengejek Madika.


Madika yang melihat tindakan Ariel itu kini hanya bisa diam sambil tersenyum dan menggelengkan kepala-nya.


lalu ia mengangkat tangan kanan-nya ke atas kepala Ariel dan mengelus kepala Ariel dengan lembut.


Setengah jam kini telah berlalu.


saat ini tampak di stadion arena pertarungan susah di penuhi oleh banyak siswa yang sudah tak sabar ingin melihat pertarungan selanjut-nya.


Tak lama setelah itu, kini guru yang memimpin pertandingan tersebut mulai memberikan instruksi serta informasi tentang pertarungan yang akan di laksanakan kali ini.


[baiklah semua-nya.... aku yakin kalian semua sudah tidak sabar ingin melihat pertarungan yang seru lagi.... kali ini yang akan berhadapan di arena adalah Joe Subroto dari kelas 2 petir, tingkat atas level 15.... dan petarung yang satu-nya adalah Madika Tumbawani dari kelas 1 angin, tingkat atas level 2.] ucap si pemimpin pertandingan memperkenalkan dua petarung yang saat ini sedang memasuki area pertarungan.


Ketika Madika memasuki arena pertarungan, tampak saat ini banyak gadis yang memberikan dukungan dan menyoraki nama-nya.

__ADS_1


Madika yang mendengar sorakan itu hanya bisa tersenyum ramah ke arah mereka yang menyoraki diri-nya.


Melihat senyuman Madika, tampak beberapa gadis yang menyoraki-nya itu terlihat tersipu malu menatap senyum-nya.


"Natalia.... bagaimana pendapat-mu tentang anak itu?" tanya tuan Samon yang saat ini sedang duduk di kursi khusus-nya di tempat itu.


Saat ini Natalia sedang berada di tempat yang sama dengan kakek-nya. ia datang ke tempat itu karena ada sedikit hal yang mereka bicarakan saat istirahat setengah jam yang lalu.


"sebenar-nya anak itu tidak begitu kuat.... hanya saja dia sangat terampil dalam menggunakan teknik dan trik untuk bertarung.... apa lagi jika berada di hutan, ia sangat pandai memanfaatkan wilayah sekitar-nya untuk di jadikan tameng maupun pedang." jawab Natalia.


"hmmm...." tuan Samon bergumam sambil mengelus janggut kesayangan-nya. "jika menurut-mu dia memang tidak terlalu kuat, lantas mengapa saat ujian masuk kau kalah dari-nya?" tanya tuan Samon.


Mendengar pertanyaan itu, Natalia pun seketika terlihat malas memberi penjelasan.


namun karena ia menghargai kakek-nya itu, ia pun menjelaskan hal itu pada kakek-nya.


"sebenar-nya kekalahan-ku itu karena kecerobohan-ku sendiri.... aku terlalu meremehkan dia karena level-nya cukup jauh di bawah level-ku.... aku pun akhir-nya tidak waspada, dan di tambah lagi dia itu sangat pandai bersembunyi sehingga energi-nya tak bisa terdeteksi, hal itu pun membuat-ku mengira bahwa aku telah mengalahkan-nya.... namun nyata-nya tidak, dan akhir-nya dia menyergap-ku dan mengalah-kan ku." jelas Natalia panjang lebar.


"jika yang kau katakan itu benar, lalu bagaimana dengan sekarang? apa kau yakin bisa mengalahkan Madika?" tanya tuan Samon setelah mendengar penjelasan dari cucu-nya itu.


"tentu saja bisa." jawab Natalia dengan cepat dan penuh percaya diri. lanjut-nya, "pertarungan di hutan dan di arena sangat-lah berbeda.... di hutan ia bisa memanfaat-kan wilayah sekitar-nya untuk bersembunyi dan menyergap, namun di arena pertarungan seperti ini, ke mana dia mau bersembunyi?" ucap Natalia dengan percaya diri.


Mendengar perkataan Natalia itu, kini tuan Samon pun tampak sedikit menyipitkan mata-nya dan tersenyum tipis.


"jika yang kau katakan itu benar, maka aku sangat yakin bahwa anak itu pasti sudah banyak mengalami pertarungan yang sesungguh-nya, hal itu-lah yang membuat ia bisa menutupi kelemahan-nya dalam pertarungan yang sesungguh-nya." jelas tuan Samon.


"maksud kakek dengan pertarungan yang sebenar-nya melawan para Niverom?" tanya Natalia dengan ekspresi kurang yakin.


"hmm...." gumam kakek-nya sambil mengangguk pelan. "mungkin saja dia sudah pernah menghadapi para Niverom secara langsung, dan bahkan mungkin bukan hanya sekali dua kali ia melakukan perburuan melawan Niverom seorang diri." ucap tuan Samon. lalu tuan Samon menoleh ke arah Natalia. "selama ini kau juga pernah ikut melakukan perburuan Niverom, hanya saja beda-nya kau selalu di lindungi oleh orang-orang ku.... hal itu lah yang membuat pemahaman bertarung-mu berbeda dengan dia." jelas tuan Samon.


"hah...." Natalia menghela nafas sambil buang muka dengan ekspresi malas. "kakek terlalu memuji anak itu.... lihat saja nanti, aku pasti akan mengalahkan-nya." ucap Natalia dengan ekspresi acuh.

__ADS_1


__ADS_2