
Saat ini, para rekan Kinto langsung memohon dan meminta ampun pada Madika.
tampak mereka kini seperti orang yang sedang mendewa-dewakan Madika.
mereka terus memohon, namun hanya ada satu orang yang berkeras hati untuk tidak memohon pada Madika.
Di sisi lain, Madika saat ini sebenar-nya tidak berniat untuk membunuh para rekan Kinto itu, namun ia merasa akan sangat berbahaya jika diri-nya tidak segera melenyap-kan mereka semua karena akan jadi masalah di kemudian hari.
"huh..... ini benar-benar pilihan yang sangat sulit." ucap Madika dalam hati.
Madika memang merasa sulit untuk memutus-kan hal itu karena diri-nya merasa sedikit tak tega membunuh orang yang sudah memohon-mohon ampun sampai seperti itu.
akan tetapi, jika mereka di biarkan hidup, maka kemungkinan mereka akan membeber-kan masalah ini dan hal itu akan membuat Madika jadi buronan klan serta sektor Balumba.
"ini akan sangat merepot-kan!" pikir Madika.
Namun setelah berpikir sesaat, kini Madika pun membulat-kan tekad-nya. sama seperti di setiap pertarungan sebelum-nya, Madika selalu yakin dengan tindakan yang di ambil-nya. jadi kali ini ia akan melakukan hal yang sama.
"membebas-kan mereka adalah hal yang naif!... akan lebih baik jika orang-orang seperti mereka ini segera di habisi agar tak membuat masalah ke depan-nya." batin Madika.
"Askila!" ucap Madika dengan tegas.
"siap tuan!" balas Askila dengan cepat sambil membusung-kan dada-nya yang menanda-kan bahwa ia siap melakukan sesuatu yang di ingin-kan oleh tuan-nya.
"apa kau masih punya sisa energi Nosa yang cukup?" tanya Madika melalui telepati-nya.
"ya tuan... memang-nya kenapa?" tanya Askila.
Setelah itu Madika pun langsung memutus-kan telepati-nya dengan Askila tanpa menjawab Askila sama sekali.
kemudian Madika pun menatap seluruh rekan Kinto dengan ekspresi datar lalu berkata.
"Askila..... bebaskan mereka." ucap Madika dengan nada suara yang terdengar datar.
__ADS_1
Mendengar ucapan Madika, seketika itu juga para rekan Kinto pun langsung merasa senang dan kembali tersenyum karena mereka berpikir bahwa Madika benar-benar akan membebas-kan mereka semua.
Setelah melihat wajah bahagia dari para rekan Kinto, kini Madika melanjut-kan kembali ucapan-nya.
"ayo Askila, bebaskan mereka dari kehidupan di dunia ini sekarang juga!" ucap Madika memberi perintah.
Seketika itu juga ekspresi bahagia para rekan Kinto langsung menghilang, dan kini terganti-kan dengan ekspresi plonga-plongo layak-nya orang yang tidak memiliki jiwa.
Tak butuh lama, kini beberapa pedang petir milik Askila pun langsung melesat ke arah para rekan Kinto dan langsung menusuk jantung mereka semua hingga tembus.
"ternyata kita kena prank!" ucap salah satu rekan Kinto yang sebelum-nya sangat bahagia seperti orang yang hendak merayakan syukuran besar-besaran.
Kini para rekan Kinto pun langsung terbaring lemas dan akhir-nya mereka semua pun langsung menghembus-kan nafas terakhir mereka.
Sementara itu, Madika yang melihat hal itu kini langsung berbalik arah.
ia kemudian langsung berjalan mendekati Askila.
"apa kau baik-baik saja?" tanya Madika pada Askila.
"bagus-lah.... kalau begitu untuk sekarang kau kembali ke tempat persembunyian-mu untuk memulih-kan kembali energi-mu." ucap Madika sambil mengayun-kan tangan-nya ke samping dan seketika sebuah lingkaran energi terbuka tepat di samping Madika dengan posisi menghadap ke arah Askila.
"baik tuan.... jika anda butuh sesuatu anda hanya perlu memanggil-ku saja." ucap Askila dengan patuh.
"ya.... aku akan meminta bantuan-mu jika aku ada perlu." jawab Madika.
Setelah itu kini Askila pun langsung masuk ke dalam lingkaran energi itu untuk beristirahat di dalam sana.
Setelah Askila masuk ke dalam sana, kini Madika pun langsung menutup lingkaran energi itu dan kemudian melanjut-kan perjalanan-nya saat ini.
"mungkin sebaik-nya aku segera mengguna-kan tongkat kaisar rotan api untuk mendeteksi keberadaan pecahan tongkat itu agar aku bisa lebih cepat lagi menemukan-nya." batin Madika yang kini terus berjalan ke depan.
setelah itu kini Madika mengangkat tangan kanan-nya ke samping dengan posisi telapak tangan terbuka.
__ADS_1
lalu seketika itu juga sebuah tongkat muncul di tangan kanan-nya itu dan Madika pun langsung menggenggam tongkat itu sembari memutar-nya hingga berakhir dengan posisi miring di belakang tubuh-nya.
Sementara itu, di belakang Madika tampak sekelompok kupu-kupu dengan bermacam-macam warni kini beterbangan di sekitaran mayat Kinto dan rekan-rekannya.
Di sisi lain, tampak seorang pengendali sekelompok kupu-kupu itu sedang menunjuk-kan sebuah rekaman langsung dari apa yang di lihat oleh kupu-kupu itu.
Orang itu sama sekali tak di kenali, namun bisa di pasti-kan orang itu adalah salah satu orang yang bekerjasama dengan klan petir dan sekte Balumba.
pasal-nya orang itu saat ini sedang menunjuk-kan hasil rekaman langsung dari sekelompok kupu-kupu milik-nya itu kepada sekelompok sekte Balumba dan kelompok dari klan petir.
"apa ini benar-benar sedang terjadi saat ini?!" tanya seorang pemuda yang merupakan sosok nomor dua di sekte Balumba.
"ya benar!.... ini semua adalah kejadian yang di lihat oleh hewan peliharaan-ku saat ini." jawab orang itu yang saat ini mengguna-kan alat pengubah suara.
Orang yang saat ini selalu memata-matai Madika mengguna-kan kupu-kupu itu adalah sosok yang misterius.
ia tampak mengenakan sebuah topeng serta sebuah alat pengubah suara.
ia juga selalu mengguna-kan sebuah jubah hitam panjang yang menutupi seluruh tubuh-nya dan di sertai sebuah Hoodie yang selalu menutupi kepala-nya.
"orang itu benar-benar berani mencari masalah dengan sekte Balumba!.... ini tak boleh di biar-kan!... sekte kita tak boleh sampai di remeh-kan oleh orang luar sampai seperti ini!" ucap pria nomor dua itu dengan tegas dan tampak masih kesal setelah menyaksi-kan kematian Kinto dan Udin.
"anda benar tuan Gupo!..... kita tak boleh tinggal diam saja sementara orang itu menginjak-injak saudara kita!" timpal salah satu rekan Gupo dengan tegas.
"orang itu!!" Kindo dari klan Petir pun kini langsung berkata dengan nada tinggi dan penuh emosi.
"berani-nya dia dan hewan peliharaan murahan-nya itu membunuh adik-ku!!" bentak Kindo dengan ekspresi yang penuh amarah sambil mengepal-kan tangan-nya dengan sangat kuat serta mengeluar-kan aura membunuh.
Sementara itu, aura membunuh itu kini membuat beberapa bawahan Kindo tampak merinding.
"tuan Kindo.... apa sebaik-nya kita bergerak sekarang mumpung orang itu masih ada di sini?" tanya salah satu rekan Kindo yang mengikuti-nya.
"tent....!!!"
__ADS_1
Kindo belum selesai menjawab pertanyaan rekan-nya itu, namun kini Gupo langsung mengangkat tangan-nya ke depan wajah Kindo untuk memberi aba-aba pada Kindo untuk tidak bergerak lebih dulu.
"untuk saat ini kita perhatikan dulu tindakan bocah itu.... aku sedikit curiga melihat tongkat yang ada di tangan-nya saat ini." ucap Gupo dengan ekspresi meneliti dan terus memandangi tongkat yang ada di tangan Madika.