
Saat tuan Andreas kembali bertanya, kini tuan Samon pun langsung memberi penjelasan pada putra-nya itu.
ia pun menjelaskan semua-nya tentang Madika. bahkan ia juga menjelas-kan tentang masalah yang sedang Madika hadapi hingga saat ini sehingga Madika harus terus bersembunyi dari keluarga kerajaan.
Di sisi lain, saat ini Madika, Natalia, dan kedua pengawal pribadi tuan Samon tampak menunggu di luar ruangan bersama dua pengawal tuan Andreas.
"sudah ku duga ini akan terjadi." ucap Natalia dengan ekspresi malas. lanjut-nya, "aku yakin ayah tidak akan menerima-mu dengan baik.... bahkan sekali-pun kakek memaksa tetap saja ayah akan bersikeras untuk menolak-mu apa pun yang terjadi." ucap Natalia.
Beberapa saat setelah Natalia berkata seperti itu, kini tuan Samon menggunakan energi Saga-nya untuk berbicara dengan salah satu pengawal pribadi-nya dan menyuruh mereka semua untuk segera masuk ke ruangan tersebut.
"seperti-nya pembicaraan mereka telah selesai.... tuan Samon menyuruh kita untuk segera masuk." ucap salah satu pengawal itu memberi informasi.
kemudian pengawal pribadi tuan Samon pun langsung membuka-kan pintu untuk Natalia.
"silahkan nona." ucap pengawal itu.
"hah.... ya ampun.... ku harap tidak akan ada masalah besar kali ini." ucap Natalia sambil berjalan masuk ke ruangan tersebut.
Saat mereka masuk ke ruangan itu, kini mereka berkumpul di hadapan tuan Samon dan tuan Andreas.
lalu tuan Samon pun memberi kode pada Madika untuk sedikit maju ke depan.
"hei Madika." ucap tuan Samon sambil memberi kode agar Madika sedikit maju ke depan.
Madika yang memahami maksud dari kode yang di berikan tuan Samon kini langsung maju tiga langkah.
Natalia yang melihat hal itu kini hanya bisa menatap Madika dengan ekspresi khawatir mengenai apa yang akan di alami Madika selanjut-nya.
"apa ayah berhasil membujuk kakek?" batin Natalia.
Ketika Madika sudah berada tiga langkah di depan, Madika pun langsung menghentak-kan tubuh-nya.
seketika energi Saga dari tubuh Madika langsung menyebar di udara dan menghasil-kan tekanan yang tidak begitu kuat.
__ADS_1
namun dari energi Saga Madika itu tuan Andreas bisa merasakan jejak aura yang sangat mirip dengan tuan Herma Rosompodapala.
"bocah ini belum bisa memperkuat aura Saga milik-nya.... namun dari energi Saga-nya yang menyebar di udara aku samar-samar bisa merasakan aura yang sama dengan Herman.... seperti-nya penilaian ayah memang tidak salah!... bocah ini adalah Madika! anak dari Herman dan Rina!" ucap tuan Andreas dalam hati.
Lalu tuan Andreas pun kini perlahan berjalan mendekati Madika dengan ekspresi sangar di wajah-nya.
Madika tetap tenang. ia tampak tidak terlalu peduli meski-pun tuan Andreas pasang tampang sangar di hadapan-nya.
sementara itu, Natalia yang melihat ayah-nya mendatangi Madika kini segera menghalangi langkah ayah-nya dengan cepat.
"ayah.... keberadaan Madika di tempat ini juga sudah menjadi keputusan-ku!.... bagi-ku dia sudah cukup pantas untuk menjadi seorang pengawal pribadi-ku." ucap Natalia.
Natalia saat ini berkata seperti itu karena memang Natalia sudah menyetujui hal ini sedari awal. lagi pula Natalia memang bukan orang yang akan menerima sembarang orang sebagai pengawal pribadi-nya. sementara itu, di mata Natalia, Madika adalah sosok yang kemungkinan memiliki masa depan yang besar dan bisa berkembang lebih jauh lagi. ia saat ini telah mengubah pandangan-nya tentang Madika. ia bahkan sudah menganggap Madika sebagai orang yang paling berbakat di seluruh kekaisaran.
"jika ayah menolak Madika, maka aku juga akan menolak tinggal bersama kalian!" ucap Natalia dengan tegas.
Sementara itu, ayah Natalia yang mendengar ucapan Natalia itu kini hanya mengabai-kan Natalia dan langsung berjalan melewati Natalia begitu saja.
"ehh??"
"ehh??"
Semua yang ada di ruangan itu mendadak langsung terkejut melihat reaksi tuan Andreas yang tiba-tiba berubah sangat ramah pada Madika.
bahkan Natalia yang sedari tadi ingin membela Madika kini hanya bisa menganga melihat hal itu.
"terimakasih tuan." ucap Madika sambil menangkupkan tangan-nya.
"hahahaha tidak perlu formal seperti itu, panggil saja aku paman." ucap tuan Andreas lagi sambil tertawa kecil dan menunjuk-kan ekspresi yang ramah.
"EHHH????"
Sekali lagi Natalia dan empat pengawal pribadi terkejut.
__ADS_1
bahkan rasa terkejut mereka makin sulit di bendung sampai-sampai di wajah mereka terlihat bahwa mereka merasa tidak percaya dengan Apay yang mereka lihat saat ini.
"tampar aku." ucap salah satu pengawal Setian tuan Andreas.
"baik-lah." ucap salah satu pengawal tuan Samon sambil melancarkan tinju ke wajah pengawal tuan Andreas dan membuat pengawal itu terdorong ke belakang. bahkan dari hidung-nya kini mengeluarkan darah.
"jangan di tinju!.... G0BL0K!" ucap pengawal itu sambil memegang pipi-nya yang tampak sedikit lebam.
Melihat perubahan situasi itu, kini mereka semua langsung di persilahkan duduk oleh tuan Samon.
lalu tuan Samon pun mulai membicarakan banyak hal dengan mereka.
tuan Samon juga tidak lupa memberi-kan beberapa nasehat pada Madika. ia juga menyuruh para pengawal pribadi-nya yang sudah berpengalaman untuk memberi-kan arahan pada Madika dalam menjalan-kan tugas-nya sebagai seorang pengawal pribadi.
>SKIP<
Enam bulan kemudian.
Saat ini Madika sedang menjadi bahan pembicaraan siswa-siswa yang ada di kelas satu angin, tak i kelas Madika saat ini.
topik yang mereka bahas dari Madika adalah kecepatan Madika dalam menaikan tingkatan level-nya.
umum-nya, orang-orang biasa butuh waktu paling cepat tiga sampai empat bulan untuk menaik-kan satu level. sementara Madika kini telah menaikan tingkatan level-nya sebanyak empat tingkat level dalam waktu enam bulan.
hal itu pun menjadi bahan pembicaraan orang-orang. di tambah lagi keberadaan-nya sebagai pengawal pribadi Natalia juga membuat banyak siswa laki-laki yang merasa sedikit iri pada Madika.
Bukan hanya Madika saja yang jadi bahan pembicaraan mereka, bahkan Natalia dari kelas api pun kini jadi bahan pembicaraan karena kini ia sudah naik ke kelas dua, dan level-nya kini mencapai level 11.
"hei Madika, bagaimana rasa-nya selalu ikut Natalia berburu di hutan." ucap Tepaonjo sambil mengalungkan tangan-nya di bahu Madika yang sedang duduk di kursi-nya.
"rasa-nya biasa-biasa saja.... tidak ada hal-hal yang istimewa atau-pun unik." jawab Madika dengan ekspresi datar.
"ayolah, jangan dingin seperti itu.... begini-begini aku juga tahu sesuatu loh.... lagi pula banyak yang bertemu dengan kalian di wilayah perburuan.... kata-nya kalian selalu berduaan dan tak memberi ruang pada orang lain untuk ikut serta dengan kalian.... jadi aku pun berpikir.... kira-kira sudah sejauh mana hubungan kalian." ucap Tepaonjo sambil tersenyum tipis menunggu tanggapan Madika.
__ADS_1