Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Wiliam Agrison


__ADS_3

Saat ini para siswa tampak sedang terpesona melihat sayap angin milik Madika.


terutama siswa perempuan, saat mereka melihat sayap itu, tiba-tiba pandangan mereka kepada Madika pun jadi seolah tidak bisa lepas.


mereka terus memandangi Madika dengan ekspresi kagum.


sementara itu, Madika yang menyadari kekaguman mereka itu kini hanya diam dan kemudian dengan perlahan Madika terbang ke bawah mendekati mereka semua.


"maaf aku datang terlambat." ucap Madika ketika tiba di depan Bu Meri dan langsung melihat banyak dari siswa Bu Meri yang terluka parah dan bahkan masih ada yang belum sadar-kan diri.


"ini bukan salah-mu Madika, lagi pula kita bergerak secara terpisah, bahkan kemunculan-mu di sini pun rasa-nya bagai-kan sebuah keajaiban." balas Bu Meri sambil memegang pundak Madika.


Mendengar ucapan Bu Meri itu, kini Madika pun hanya bisa menghela nafas dengan ekspresi sedikit bersedih.


Setelah Bu Meri berkata seperti itu, kini siswa laki-laki yang sebelum-nya sangat menolak keberadaan Madika kini langsung berjalan mendekati Madika.


"maaf sebelum-nya aku meragukan-mu.... meski-pun dalam pertarungan tadi kau terlihat hanya bergantung pada benda pusaka-mu itu, tapi aku akan tetap mengakui-mu karena sekarang aku bisa merasa-kan bahwa tingkatan mu bahkan lebih tinggi dari Bu Meri.... jadi tidak ada alasan bagi-ku untuk menolak-mu lagi." ucap pria itu dengan ekspresi tenang, tegas, dan jujur.


"kau bicara terlalu jujur." batin Madika. "memang sih, di pertarungan ini aku lebih mengandal-kan benda pusaka-ku.... lagi pula jika aku turun tangan langsung bisa sangat merepot-kan dan memakan waktu yang lebih lama lagi untuk menyelesai-kan pertarungan ini." batin Madika.


Tak lama setelah itu, kini siswa dan guru dari akademi Parompe pun langsung mendekati Madika dan para siswa dari akademi Walawatu.


"sebelum-nya kami minta maaf atas perbuatan kami yang cukup kasar..... selain itu kami juga berterimakasih atas bantuan-mu." ucap salah satu guru sambil sedikit menunduk-kan kepala-nya dan di ikuti oleh para siswa lain-nya.


Madika yang melihat hal itu kini hanya langsung berjalan mendekati salah satu guru itu.


"apa seperti ini ajaran yang di ajar-kan di akademi Parompe?!..... apa-kah di akademi Parompe ada jaran untuk menindas orang yang lebih lemah dan mempermain-kan mereka?!" ucap Madika dengan nada tegas sambil mengeluar-kan aura Saga yang terasa sangat mengeri-kan hingga membuat semua orang di tempat itu langsung merinding dan membuat bulu kuduk mereka langsung berdiri.

__ADS_1


"apa-apaan aura Saga yang menakut-kan ini?!" batin salah satu guru akademi Parompe.


Sementara itu, para siswa Bu Meri pun tampak terkejut saat Madika mengeluar-kan aura yang terasa sangat menakut-kan itu.


mereka tidak menyangka Madika bisa mengeluar-kan aura jahat seperti itu.


"bocah ini benar-benar sangat sulit di tebak!...


dia penuh dengan kejutan!" batin siswa laki-laki yang sebelum-nya selalu menolak Madika.


"hei Madika, kau membuat siswa lain merasa ketakutan." ucap Bu Meri sambil menepuk bahu Madika.


Mendengar ucapan Bu Meri, kini Madika pun langsung menghenti-kan penyebaran aura Saga-nya itu.


"maaf, aku tak bermaksud menekan kalian!" ucap Madika dengan tenang sambil menoleh ke belakang tanpa memutar tubuh-nya.


"apa hanya kau saja yang berani berjanji pada-ku?" tanya Madika sambil melirik guru serta siswa lain-nya yang berada di belakang guru yang meminta maaf itu.


Melihat pandangan Madika yang begitu tajam melihat mereka, kini para siswa dan satu guru lain-nya itu langsung menunduk-kan kepala-nya dengan cepat dan dengan segera mereka menangkup-kan tangan-nya dan berjanji pada Madika.


"kami berjanji tidak akan mengulangi-nya lagi!" ucap mereka semua secara serentak seolah baru saja di beri komando.


Melihat hal itu, kini Madika pun langsung memaaf-kan mereka semua.


"baiklah, aku memaaf-kan kalian, tapi ingat, jika kita bertemu lagi dan kalian masih tidak berubah, maka kalian akan menerima akibat dari perbuatan kalian sendiri!" ucap Madika dengan tegas.


Setelah berkata seperti itu, Madika pun langsung memegang pundak guru yang saat ini berdiri paling depan.

__ADS_1


"siapa nama-mu?" tanya Madika dengan santai-nya.


Mendengar pertanyaan Madika itu, kini si guru itu pun langsung mengangkat wajah-nya dan menatap Madika.


"nama-ku Wiliam Agrison." ucap guru itu memperkenal-kan diri-nya.


"jika kau punya waktu luang, kau boleh jalan-jalan ke akademi Parompe, aku pasti akan menyambut kedatangan-mu dengan baik." ucap pak Wiliam sambil tersenyum ramah pada Madika.


"tentu saja..... lagi pula aku memang ada sedikit urusan di akademi Parompe..... mungkin suatu saat nanti aku akan jalan-jalan ke sana." jawab Madika dengan tenang.


"kalau begitu, jika nanti-nya kau ingin datang kau tinggal mengirim-kan pesan kepada-ku saja.... nanti aku akan menyambut kedatangan-mu dengan baik." ucap pak Wiliam yang masih tersenyum ramah.


Pak Wiliam adalah salah satu guru yang memiliki hubungan dekat dengan kepala akademi Parompe.


bisa di bilang, ia adalah adik dari kepala akademi Parompe.


Sat ini di Agrillis masih belum mengenal teknologi yang bisa mengirim-kan pesan ataupun saling menghubungi melalui suara.


meski-pun perusahaan Elang Hitam telah banyak mencipta-kan benda-benda canggih seperti mobil, kereta, pesawat, dan lain-lain, namun mereka sama sekali tidak mencipta-kan alat komunikasi yang memadai, baik untuk mengirim pesan atau-pun untuk mengirim gelombang suara dalam waktu nyata.


tidak di ketahui secara jelas apakah perusahaan Elang Hitam tidak bisa mencipta-kan alat seperti itu atau justru sudah menciptakan-nya namun tidak di berikan kepada publik karena ada alasan yang tidak boleh di ketahui oleh orang-orang.


sebab perusahaan Elang hitam memiliki sosok pemimpin yang penuh dengan rahasia.


hal itu di karena-kan banyak-nya rumor yang beredar, bahwa pemimpin perusahaan Elang Hitam yang sebenar-nya bukan-lah pemimpin yang menjabat saat ini. melain-kan ada sosok lain yang bergerak di balik bayangan pemimpin saat ini.


namun rumor tetap-lah rumor, ada yang mempercayai-nya, namun ada pula yang tidak percaya, dan yang lebih banyak lagi adalah kaum yang bodoh amat dengan perkara tersebut karena bagi mereka selama perusahaan Elang Hitam berjalan di jalur yang benar maka tidak ada salah-nya jika ada sedikit rahasia di dalam-nya.

__ADS_1


Karena saat ini Agrillis masih belum memiliki teknologi yang semacam itu, maka untuk mengirim pesan dari satu tempat ke tempat lain-nya kini hanya bisa di lakukan mengguna-kan burung khusus pengirim pesan.


__ADS_2