Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Cari Perhatian


__ADS_3

Saat ini Madika telah berhasil keluar dari jurus pengorbanan dewa petir milik si ketua klan dari klan petir.


Ketua klan petir itu kini mati seorang diri di dalam jurus milik-nya sendiri.


Perhitungan si ketua klan itu benar-benar salah besar.


Lagi pula sejak awal Madika memang hanya berpura-pura membuat dirinya seolah terkejut dengan jurus itu agar si ketua klan mengira bahwa Madika sudah putus asa.


"Hahaha... Ketua klan itu pasti benar-benar syok sekarang karena kena tipu." Ucap Madika sambil tertawa.


*******


Saat ini Madika sedang mencoba beberapa senjata energi dan pedang pusaka yang ia rampas dari si ketua klan petir itu.


Mulai dari pedang pusaka, senjata energi yang berupa sebuah tombak, senjata energi berupa belati, senjata energi yang berupa rantai dan berbagai senjata energi tingkat tinggi yakni senjata berlevel di atas level tujuh lainnya kini semuanya ada dalam genggaman Madika.


"Hahaha... Untung-nya sebelum pergi aku sempat berpikir layak-nya para penjahat, jadi aku pun sempat mencari gudang senjata mereka dan mencuri semua senjata milik mereka.


Semua senjata yang ada di gudang senjata milik klan petir itu adalah senjata energi yang di siap-kan oleh para tetua klan untuk sebuah ajang pencarian bakat-bakat muda di klan mereka.


Bisa di bilang, semua senjata energi yang ada di sana nanti-nya akan di serah-kan pada para pemuda yang memiliki kemampuan di atas rata-rata.


Semakin kuat dan berbakat pemuda itu, maka senjata energi yang akan di beri-kan pada mereka juga senjata energi yang kuat.


Para tetua dan ketua klan melakukan hal ini dengan harapan agar para pemuda mereka terus termotivasi untuk mengejar kekuatan dan menjadi yang terkuat di klan.


Semua senjata energi itu di simpan dalam suatu gedung yang di penuhi oleh segel yang sangat kuat. Namun segel itu berhasil di hancur-kan oleh Madika dengan mengguna-kan sedikit lebih banyak usaha.


Hasil-nya segel di gedung itu berhasil di hancur-kan dan semua barang di dalam-nya kini telah di rampas dan di curi oleh Madika.


"Dengan jumlah senjata energi sebanyak ini ku rasa aku tak perlu ragu lagi untuk melaku-kan penyerangan di sekte Balumba!" Ucap Madika dalam hati sambil menggenggam kuat sebuah tombak di tangan-nya.


"Lagi pula selain itu aku juga masih punya satu jurus menarik lain-nya... Jurus itu sudah pernah di pelajari oleh si raja kera bayangan namun ia tak bisa menyelesai-kan jurus-nya." Ucap Madika lagi sambil menghentak tombak-nya ke samping dan seketika tombak itu menghilang.

__ADS_1


Kini tatapan mata Madika langsung terlihat bersemangat saat mengingat jurus yang bahkan belum bisa di kuasai oleh si raja kera bayangan itu.


"Benar-benar tak di sangka si kera itu dulu-nya mencipta-kan jurus ini... Jika seandai-nya dulu ia sudah menguasai jurus ini dengan baik, mungkin ia akan menjadi lebih terkenal lagi ketimbang saat ini." Ucap Madika dalam hati.


Setelah itu Madika kembali mengeluar-kan senjata energi lain-nya untuk ia coba.


******


Saat ini, di sekte Balumba sedang di adakan sebuah perlombaan antar ksatria yang berada di tingkat tinggi. Lomba ini berupa sebuah pertarungan satu lawan satu di mana setiap akademi hanya di perboleh-kan mengirim lima siswa saja untuk mengikuti pertarungan satu lawan satu tersebut.


Perlombaan ini di buat oleh sekte Balumba.


Pemenang nomor satu di perlombaan ini akan mendapat-kan hadiah sebuah pedang energi tingkat 9.


Saat ini pertandingan sudah berlangsung cukup lama, dan sudah cukup banyak siswa dari beberapa akademi serta murid dari sekte Balumba yang melaku-kan pertarungan satu lawan satu.


Di sebuah bangku penonton tepat di atas arena pertarungan yang sangat luas di sekte itu, tampak Natalia dan Diana sedang duduk bersampingan.


Tak lama setelah itu, kini Axel terlihat sedang berjalan mendekati Natalia dan Diana.


"Boleh aku duduk di sini?" Tanya Axel sambil tersenyum manis pada Natalia dan malah terkesan mengabai-kan Diana.


Natalia yang mendengar suara Alex kini langsung menoleh ke arah Alex.


"Uhm... Silahkan." Jawab Natalia singkat dan kemudian kembali menatap ke depan karena sejak tadi dia memang masih fokus memperhati-kan pertarungan yang sedang berlangsung di arena pertandingan itu.


"Tchi!... Dia datang lagi!" Ucap Diana dalam hati sambil melempar pandangan-nya ke samping seperti orang yang sudah muak melihat wajah Axel.


Setelah beberapa hari di tempat ini, Diana telah mengetahui siapa Axel yang sebenar-nya.


Berdasar-kan informasi yang ia dapat-kan, Axel adalah anak dari raja yang saat ini memimpin kerajaan Doroko, yakni raja Ando Bangareso.


Nama panjang Axel adalah Axel Bangareso.

__ADS_1


Di sekte ini Axel di kenal sebagai pemuda terkuat yang sudah mencapai tingkat grand master dan tidak akan lama lagi bisa mencapai tingkat Epic di usia yang masih kurang dari 30 Tahun.


Salah satu tujuan Axel di tempat-kan di sekte Balumba ini bukan hanya sekedar untuk meningkat-kan kecepatan-nya dalam menaik-kan level dan tingkatan-nya saja, melain-kan ada tujuan lain dari sang raja, yakni untuk menjadi jembatan agar sekte Balumba dan kerajaan Doroko bisa menjalin hubungan kerjasama yang baik karena sejak awal sekte Balumba memang sudah di waspadai oleh sang raja dan hal itu membuat sang raja tak ingin bertikai dengan sekte Balumba.


"Hei Natalia, ini roti untuk-mu!" Ucap Axel sambil memuncul-kan sebuah kotak yang berisi-kan roti di dalam-nya.


Lalu Axel pun menyodor-kan kotak berisi-kan roti itu pada Natalia.


Natalia pun menoleh dan melihat roti itu.


"ehm... Seperti-nya enak." Ujar Natalia.


"Boleh ku ambil satu?" Tanya Natalia merespon tawaran Axel sebelum-nya.


"Tentu saja boleh!" Jawab Axel sambil tersenyum manis menatap Natalia.


Natalia pun membalas senyum itu dengan ramah, lalu ia langsung mengambil roti itu dan menyantap-nya.


"Enak sekali!" Ucap Natalia yang terlihat sangat menyukai roti itu.


Ia pun mulai memakan roti itu dengan lahap sambil menoleh ke arah Diana.


"Hei Diana! Roti ini sangat enak! Aku yakin kau juga pasti akan suka!" Ujar Natalia.


Diana kini hanya menatap Natalia sambil tersenyum.


"Ehm... Kurasa aku tak perlu makan roti sekarang." Ucap Diana dengan ekspresi yang terlihat canggung.


"Hei, kalau kau tidak mencoba-nya kau akan menyesal loh." Ucap Axel sambil melempar senyum ramah ke arah Diana.


Akhir-nya Diana pun mencoba untuk mengambil satu roti itu dan memakan-nya.


Di sisi lain, para pria yang melihat pemandangan mereka kini merasa iri pada Axel, sementara para gadis merasa iri pada Natalia.

__ADS_1


__ADS_2