Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Perayaan


__ADS_3

Saat ini, Madika yang kini hendak pergi dari alun-alun kota itu kini langsung di dekati oleh Tago, liga, Emi, dan Nia beserta dengan beberapa rekan Liga saat ini.


Begitu mereka tiba di hadapan Madika dan mencoba menghentikan langkah Madika, kini mereka yang saat ini ada di depan Madika langsung membungkuk-kan tubuh-nya ke arah Madika.


"terimakasih sudah menyelamat-kan kami." ucap mereka dengan suara lantang.


"maaf karena sebelum-nya kami sudah salah paham pada-mu, kami bahkan telah melakukan hal yang tidak sopan terhadap seorang perwakilan raja.... mohon anda beri kami hukuman!" ucap Liga menimpali perkataan sebelum-nya.


Madika yang mendengar ucapan Liga itu kini hanya bisa diam. namun tak lama setelah itu Madika pun mulai buka suara.


"angkat kepala kalian, kalian tak perlu membungkuk seperti itu di hadapan-ku.... aku sudah memaafkan kalian." ucap Madika dengan ekspresi datar.


Setelah itu tanpa menunggu respon dari Liga dan yang lain-nya kini Madika kembali melanjut-kan perjalan-nya.


ia bahkan tampak mengambil jalan berputar untuk menghindari Liga dan yang lain-nya yang saat ini ada di depan-nya.


"tapi ini sama sekali tidak baik.... kami telah membuat nama dan reputasi-mu sebagai perwakilan raja jadi buruk!" ucap Liga lagi yang terdengar menyesali kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka.


"tidak perlu di pikir-kan, lagi pula sejak awal kita sudah di jebak, jadi ini sama sekali bukan salah kalian." ucap Madika yang terus berjalan tanpa menoleh ke arah Liga dan yang lain-nya.


"tu.... tunggu dulu!" ucap Nia yang langsung memeluk tangan kanan Madika dari belakang.


"a.... apa kau sudah mau pergi begitu saja?" tanya Nia yang terlihat seperti berharap agar Madika tidak pergi.


"ya." jawab Madika singkat dan datar.


"apa kau tak bisa beristirahat sebentar saja di kota ini?" tanya Nia lagi.


"tidak bisa, aku masih punya banyak urusan saat ini." jawab Madika tanpa menoleh ke arah Nia.


"ta.... tapi jika kau pergi sekarang mungkin aku tidak akan bisa berterimakasih dengan benar pada-mu karena telah menyelamat-kan ayah-ku." ucap Nia membuat alasan.


"mau berterimakasih bagaimana lagi?.... bukan-kah yang sebelum-nya itu sudah cukup?" jawab Madika yang kini mulai menoleh ke arah Nia dengan ekspresi datar.

__ADS_1


"ehmm.... soal itu.... aku hanya ingin memberi-kan sesuatu untuk-mu sebagai bentuk terimakasih ku." ucap Nia yang terlihat sedikit malu-malu menyampaikan-nya.


"aku tidak tertarik." jawab Madika cepat dan kemudian kembali menoleh ke depan.


Melihat reaksi dingin Madika itu, kini Nia pun merasa sedikit kesal karena niat baik-nya malah tidak di indah-kan oleh Madika.


"sebenar-nya aku ingin memberi-mu informasi tentang tongkat yang sama dengan yang kau beli di toko senjata tempat kita pertama bertemu sebelum-nya." ucap Nia yang kini melepas-kan tangan Madika dari rangkulan-nya.


"tapi karena kau sudah menolak, seperti-nya aku tak perlu memberitahu-mu." ucap-nya lagi sambil memutar tubuh-nya dan membelakangi Madika.


lalu ia pun mulai melangkah menjauhi Madika.


Madika yang mendengar tentang tongkat itu kini langsung berpikir bahwa tongkat yang di maksud oleh Nia saat ini adalah pecahan tongkat kaisar rotan api yang lain-nya.


Madika pun kini langsung menoleh ke arah Nia yang sudah berjalan membelakangi-nya.


"baik-kah, aku akan tetap tinggal sebentar seperti yang kau ingin-kan sebelum-nya." ucap Madika dengan sangat cepat berubah pikiran hanya setelah mendengar tentang pecahan tongkat kaisar rotan api itu.


Semenjak Madika membunuh anak laki-laki Karu di kantor asosiasi ksatria Saga, saat itu Nia telah mengetahui tentang Madika.


bahkan sejak saat itu Emi sudah banyak bercerita pada-nya tentang Madika.


hal yang di ceritakan oleh Emi pada-nya itu pun membuat diri-nya menjadi penasaran dengan Madika dan ingin mengenal Madika dengan lebih dekat lagi, dan saat kemarin ia di selamat-kan oleh pria misterius yang ternyata adalah Madika kini membuat Nia jadi semakin penasaran dan ingin berteman dekat dengan Madika.


"baik-lah, kalau begitu untuk sekarang kau ikuti aku dan Emi." ucap Nia sambil menunjuk Emi yang saat ini sedang berjalan mendekati diri-nya.


Madika yang mendengar ucapan Nia kini hanya mengangguk paham.


bagi Madika saat ini, mengumpul-kan tongkat kaisar rotan api adalah prioritas dan dia tak boleh kehilangan satu pun petunjuk untuk bisa menemukan pecahan tongkat lain-nya.


*******


Saat ini di kediaman keluarga Nakawao, yakni kediaman Tago yang merupakan ayah dari Nia tampak sedang di hadiri oleh banyak masyarakat.

__ADS_1


saking banyak-nya, kini rumah serta halaman rumah Tago sudah di penuhi oleh-oleh orang-orang yang merupa-kan masyarakat yang selalu setia mendukung Tago.


Malam ini adalah malam untuk merayakan pengangkatan pemimpin kota yang baru serta di rangkai-kan dengan ucapan terimakasih kepada Madika yang selalu perwakilan raja yang telah bersedia menyelesai-kan masalah yang terjadi di kota ini.


Sementara itu, di ruang utama tampak Nia dan Emi sedang berbicara dengan Tago dan Liga.


"tidak ku sangka kalian benar-benar bisa mengajak-nya.... padahal jika di pikir-pikir, dari ekspresi yang di tunjukan-nya siang tadi ia tampak-nya sangat acuh dan tidak mau berlama-lama di sini." ucap Liga sambil melirik Madika yang sedang duduk sendiri di salah satu meja sambil meminum alkohol yang tersedia di depan-nya.


"awal-nya dia memang menolak ajakan-ku, tapi karena aku tahu kelemahan pria itu jadi aku bisa memanfaat-kan hal itu." ucap Nia dengan ekspresi bangga.


"hahahaha, jadi ini kah yang di sebut kekuatan gadis muda yang meluluh-kan seorang pria?" ucap Tago yang tampak menggoda putri-nya itu dengan Madika.


"sudah-lah...." ucap Nia yang langsung memotong perkataan ayah-nya.


saat ini Nia tahu bahwa jika ayah-nya mulai berkata seperti itu maka kemungkinan besar perkataan ayah-nya akan jadi lebih panjang lagi dan itu akan sangat merepot-kan untuk di dengar.


"ayah, sebaik-nya kau temani Madika, tidak sopan seorang bangsawan pemimpin kota mengabaikan tamu terhormat dari kerajaan." ucap Nia sambil melipat kedua tangan-nya di depan dada.


"hahahaha.... baik-lah baik-lah...." ucap Tago sambil membalik-kan tubuh-nya dan membelakangi Nia putri-nya itu.


"oi liga, ayo kita bergabung dengan Madika." ucap Tago yang kini berjalan ke arah Madika.


"oke." jawab Liga patuh dan langsung mengikuti Tago dari belakang.


"hah.... hampir saja orang tua itu mulai berbicara yang macam-macam." ucap Nia sambil menghela nafas panjang.


"hahahaha..... seperti-nya ayah-mu sangat antusias jika kau benar-benar bisa menarik Madika ke dalam hidup-mu." ucap Emi yang sangat blak-blakan sambil tersenyum manis seolah tidak sadar dengan perkataan-nya sendiri.


Sementara itu, Nia yang mendengar ucapan Emi itu kini langsung merasa agak malu dan ia tiba-tiba merasa grogi dan salah tingkah.


wajah-nya langsung memerah seketika.


"e... Emi!.... bahkan kau juga ikut-ikutan jadi seperti ayah-ku?" ucap Nia merespon perkataan Emi barusan.

__ADS_1


__ADS_2