Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Melawan Kelompok Tepaonjo (2)


__ADS_3

Setelah beberapa saat ledakan itu terjadi, kini kepulan asap itu perlahan lenyap.


saat kepulan asap itu sudah tak ada, kini mereka berempat bisa melihat bahwa saat ini Madika masih baik-baik saja. ia tidak terluka sama sekali.


hal itu di karenakan Madika yang masih sempat menciptakan perisai angin sesaat sebelum es benar-benar menutupi seluruh tubuh-nya. sehingga saat ledakan itu terjadi, es yang menutupi Madika langsung meleleh dan lenyap bagaikan asap, dan Madika juga bisa aman karena sempat menciptakan perisai angin itu.


"yang benar saja!.... serangan kita sama sekali tidak berdampak pada-nya!" ucap Lili dengan ekspresi terkejut.


"hati-hati!!" teriak Tepaonjo.


Baru saja selesai berteriak seperti itu, tiba-tiba muncul sebuah bola angin di samping Lili.


bola angin itu makin lama makin membesar hingga akhir-nya meledak dan membuat Lili terkejut serta terhempas cukup jauh.


bukan hanya di tempat Lili saja, ternyata di tempat Wili, Tepaonjo, dan Langu juga terjadi hal yang sama.


Wili dan Langu terhempas oleh ledakan itu, kecuali Tepaonjo yang kini sudah melompat ke belakang untuk menghindari ledakan itu.


ledakan bola angin itu tidak sekuat ledakan peluru angin namun sudah cukup untuk memecah pergerakan Lili dan kelompok-nya.


"aku tak sempat membuat peluru angin, jadi-nya malah menggunakan jurus yang belum lama ini aku uji coba!" ucap Madika dalam hati.


Setelah ledakan itu terjadi, kini terlihat Wili yang terhempas itu kini menghantam sebuah pohon.


tak butuh waktu lama, kini pedang patah milik Madika melesat ke arah Wili dan langsung menusuk leher Wili hingga tembus ke batang pohon itu dan membuat tubuh Wili tergantung di batang pohon itu.


darah Wili membanjiri pedang Madika dan menetes membasahi seluruh tubuh-nya.


Wili tampak berusaha menarik napas namun suara tarikan napas-nya terdengar seperti suara mengorok dan di sertai dengan darah yang berhamburan keluar dari mulut-nya.


hingga akhir-nya kini Wili menghembuskan nafas terakhir.


tak lama setelah itu tubuh kedua Wili langsung lenyap dari tempat itu dan menyisakan pedang Madika yang masih tertancap di batang pohon tersebut.


Melihat kejadian itu, Tepaonjo tidak diam saja. ia dengan segera menebas udara menggunakan tangan kanan-nya dan seketika muncul lengkungan angin yang melesat ke arah Madika.

__ADS_1


Madika menyadari serangan itu dan langsung melompat ke belakang untuk menghindar. namun tanpa Madika ketahui ternyata di belakang-nya sudah ada ular angin milik Tepaonjo yang sudah menanti-nya.


ular itu langsung menerkam lengan bawah Madika yang sebelah kiri.


Madika terkejut namun dengan refleks yang cepat Madika langsung mencengkram leher ular itu sambil memutar di udara.


cengkraman Madika bukan hanya cengkraman biasa karena saat ini Madika melapisi tangan-nya menggunakan elemen angin yang berbentuk bergerigi di sekitar tangan hingga jari-jari tangan-nya.


hal itu pun membuat kepala ular milik Tepaonjo langsung terputus dari tubuh-nya, dan kini kepala ular itu masih melekat di tangan Madika.


Madika mendarat ke tanah, darah-nya terus bercucuran. kepala ular itu masih berada di tangan kiri-nya dan masih menggigit dengan kuat sehingga darah Madika semakin banyak yang keluar.


"sial@n!.... rasa-nya tangan-ku seperti mau patah!" batin Madika dengan ekspresi menahan sakit yang ia derita.


Tak lama setelah itu kini kepala ular angin itu perlahan lenyap. dan tubuh ular angin yang berada di atas tanah juga ikut lenyap.


Tepaonjo kini tampak terkejut. ia tidak menyangka Madika bisa menghancurkan ular milik-nya itu.


"tchi!.... padahal itu adalah jurus terkuat-ku!.... sekarang aku jadi bingung harus bertarung dengan cara apa!" batin Tepaonjo dengan ekspresi wajah yang tampak kesal. "pasti akan sulit menghadapi Madika jika hanya menggunakan teknik yang biasa-biasa saja!"


ia mengangkat kedua tangan-nya ke samping dan menciptakan sebuah bola api yang cukup besar di masing-masing tangan-nya itu.


lalu ia melompat sambil memutar dan melemparkan bola api itu ke arah Madika.


saat Lili berada di udara, ia dengan cepat menciptakan bola api lagi di tangan-nya dan melemparkan-nya secara bertubi-tubi ke arah Madika.


Madika yang melihat serangan itu langsung bergerak cepat menghindari semua serangan bola api itu.


bola api itu tak mengenai Madika. banyak yang menghantam tanah dan menghasilkan ledakan kecil yang menimbulkan kepulan asap yang hanya bertahan sejenak.


Madika berlari ke arah pepohonan. ia menggunakan pohon sebagai tameng bagi diri-nya.


dan benar saja, ternyata ledakan bola api yang menghantam batang pohon tidak langsung menghancurkan pohon itu meskipun sudah bisa membuat luka yang cukup serius pada batang pohon itu.


"sebaik-nya aku segera memancing mereka menjauhi tempat ini!.... Nina tak perlu terlibat dalam pertarungan kali ini!" batin Madika.

__ADS_1


Baru saja berpikir seperti itu tiba-tiba Langu langsung menyerang Madika menggunakan tiga pedang es yang ia ciptakan.


pedang es itu melesat ke arah Madika.


Madika melihat lesatan pedang itu dan dengan cepat melompat untuk menghindari-nya.


"hah...." Madika menghela nafas. "hampir saja!" batin-nya


Baru saja berkata seperti itu, tiba-tiba tiga pedang yang melesat tadi kini sudah berada di belakang Madika, dan langsung menusuk kedua bahu Madika dari belakang hingga tembus ke depan.


Madika terkejut. tubuh-nya tersentak karena hentakan pedang yang menembus tubuh-nya itu.


ia tidak menyangka kalau pedang yang melesat ke arah-nya itu ternyata bisa berbelok arah.


Pada umum-nya serangan pedang es yang melesat seperti itu tidak akan membelok dan langsung menghantam apa saja yang ada di depan-nya. namun pedang es yang ini justru bergerak seolah mengikuti Madika.


"apa pedang ini bisa mengikuti target yang bergerak hah?" batin Madika sambil menunjuk-kan ekspresi meringis kesakitan.


Madika kini mendarat di tanah. ia tampak memuntahkan darah segar dari mulut-nya. sakit yang ia derita itu sangat menyiksa dan terasa nyata seperti tubuh asli-nya saja.


darah Madika tumpah lagi. darah-nya mengalir hingga ke ujung pedang dan menetes dengan cepat ke tanah.


"tchi.... sudah berapa banyak darah-ku yang keluar saat ini?" batin Madika yang kini tampak kesal.


Tak lama setelah itu kini pedang es itu lenyap dengan sendiri-nya dan menyisakan bekas luka di kedua bahu Madika.


"kalau saja Bunggu bersama-ku seperti waktu itu, pasti aku tidak akan terluka seperti ini." batin Madika.


Tak lama setelah itu tiba-tiba Tepaonjo berada di udara tepat di atas Madika.


Madika langsung mendongak ke atas dan melihat Tepaonjo yang saat ini tampak sedang bersiap melancarkan sebuah tinju.


dari pose yang di tunjukan Tepaonjo itu Madika sudah menebak.


"pasti ia akan menggunakan tinju angin!" batin Madika.

__ADS_1


__ADS_2