Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Terjebak Rencana Bapak


__ADS_3

Saat ini, Tago datang ke kamar Nia untuk melihat situasi saat ini.


~tok tok tok~


Terdengar bunyi ketukan di pintu kamar Nia.


"Nia?.... apa kau aku boleh masuk."


Suara Tago kini terdengar di balik pintu kamar itu dan meminta izin pada Nia untuk masuk ke kamar Nia saat ini.


"masuk-lah." ucap Nia singkat tanpa menoleh dan terus memandangi Madika yang masih belum sadar-kan diri itu.


Lalu Tago pun masuk ke dalam kamar Nia, setelah masuk ke dalam kamar, ia pun langsung mendekati Nia.


ia melihat putri-nya itu terus menatap Madika dengan ekspresi yang tampak tidak bersemangat.


hal itu pun membuat Tago berpikir bahwa kemungkinan putri-nya saat ini sedang bersedih melihat keadaan Madika saat ini, bahkan ia masih melanjut-kan kesalahpahaman yang sebelum-nya dan mengira bahwa putri-nya saat ini sedang menyesali perbuatan-nya karena sudah memaksa Madika tanpa tahu kondisi Madika.


"jangan terlalu di bawa bersedih nak." ucap Tago sambil menepuk pelan bahu putri semata wayang-nya itu.


lalu ia kembali melanjut-kan perkataan-nya.


"hal seperti ini memang sering terjadi pada para ksatria Saga, banyak kejadian di mana para ksatria Saga mengguna-kan kekuatan secara berlebihan dan itu malah membuat tubuh mereka sendiri terbebani oleh kekuatan-nya yang terlalu besar dan di luar kendali-nya sendiri." ucap Tago berusaha menghibur Nia putri-nya itu.


Mendengar perkataan ayah-nya, Nia kini hanya diam saja, ia bahkan sama sekali tak menoleh ke arah ayah-nya saat ini.


Melihat Nia yang seolah cuek itu kini Tago hanya bisa menghela nafas sambil menggeleng-kan kepala-nya.


ia tampak seperti seorang ayah yang sudah tidak tahu lagi mau memberi nasehat apa pada anak-nya.

__ADS_1


Hingga akhir-nya Tago pun hanya bisa menyuruh Nia untuk segera tidur dan beristirahat.


"mungkin sebaik-nya kau beristirahat dulu Nia.... jangan sampai kau juga jadi ikutan sakit, jika kau juga sakit, maka siapa yang akan bisa memberi-kan perhatian terbaik-nya pada Madika nanti-nya.?" ucap Tago.


"ucapan-mu semakin aneh, seperti-nya kau benar-benar sudah mabuk yah." ucap Nia sambil menoleh ke arah Tago.


lalu ia pun kembali melanjut-kan perkataan-nya.


"lagi pula bagaimana aku bisa tidur jika ada seorang pria yang juga tidur di kamar-ku.... parah-nya lagi kenapa Madika malah di bawa ke kamar-ku sementara di rumah ini kan masih ada kamar-kamar lain-nya yang kosong!" ucap Nia yang tampak kesal karena ayah-nya lah yang menyuruh pelayan membawa Madika ke kamar Nia saat ini.


"hahahaha..... pake nanya." ucap Tago yang tertawa sambil menutup satu mata-nya mengguna-kan telapak tangan-nya.


"paket nanya, pake nanya!.... kalau seperti ini bagaimana aku bisa tidur?!" ucap Nia yang langsung berdiri dan menghadap ke arah ayah-nya itu.


Namun Tago yang melihat hal itu kini langsung berbalik badan dan mulai melangkah ke arah pintu.


"tidur saja seperti biasa-nya, lagi pula kau kan susah ***-*** dengan Madika sebelum-nya, jadi malam ini nikmati saja hubungan kalian berdua, sisa-nya biar ayah yang tangani." ucap Tago yang masih saja salah paham dengan hubungan Nia dan Madika.


"tenang saja!" ucap Tago sambil menutup kamar Nia dan mengabai-kan ucapan Nia sebelum-nya.


lalu ia pun kembali melanjut-kan perkataan-nya saat berada di luar kamar Nia.


"kau tak perlu khawatir, besok aku akan umum-kan pernikahan-mu dengan Madika, jadi kau nikmati saja malam-mu bersama-nya saat ini..... hahahaha." ucap-nya yang kemudian tertawa girang.


"me.... menikah?"


seketika wajah Nia jadi semakin memerah saat ia mendengar ucapan ayah-nya yang mengatakan tentang pernikahan itu.


"yang benar saja!.... ini tidak seperti yang kau pikir-kan!" teriak Nia yang kemudian langsung berlari ke arah pintu kamar-nya itu.

__ADS_1


Lalu Nia pun langsung mencoba membuka pintu kamar-nya itu, namun sayang-nya pintu itu sama sekali tidak terbuka karena ternyata Tago telah mengambil kunci dari dalam kamar Nia dan mengunci pintu kamar itu dari luar.


"ya ampun, yang benar saja!.... apa yang sebenar-nya di pikir-kan oleh orang tua itu?!" ucap Nia dengan ekspresi kesal.


Nia sebenar-nya bisa saja menghancur-kan pintu kamar itu jika ia benar-benar berkeinginan kuat untuk keluar dari kamar itu, namun entah kenapa Nia seolah malah menjadi-kan itu sebagai alasan untuk tidak keluar dari kamar-nya saat ini.


"huh.... benar-benar tak ada pilihan lain." ucap Nia yang kemudian menoleh ke arah Madika yang terbaring di ranjang-nya itu.


"i..... ini bukan berarti aku tak bisa keluar dari situasi ini, hanya saja jika aku merusak pintu kamar ini maka itu sama saja dengan merusak istana-ku sendiri karena kamar-ku adalah istana-ku.... ya benar, aku tidak boleh merusak!" ucap Nia yang membuat-buat alasan sendiri untuk tindakan-nya saat ini.


Lalu ia berjalan mendekati ranjang-nya itu sambil terus membuat-buat alasan untuk tetap tidur di kamar ini.


"benar juga.... i.... ini bukan berarti aku ingin tidur bersama Madika, hanya saja ini adalah kamar-ku, dan aku tak bisa pergi dari sini.... jadi aku benar-benar tak punya pilihan lain kali ini." ucap Nia yang wajah-nya kini makin memerah saat diri-nya sudah berdiri di samping ranjang-nya itu


Lalu Nia pun langsung menelan ludah-nya dengan kasar.


kemudian ia pun naik ke atas ranjang itu dan mulai membaring-kan tubuh-nya di samping Madika.


setelah itu ia pun masuk ke dalam selimut yang saat ini juga sedang di pakai oleh Madika, sehingga mereka berdua pun kini berada dalam satu selimut.


Namun, karena di kamar Nia saat ini hanya ada satu bantal kepala saja, kini Nia yang mencoba menjaga jarak dari Madika jadi tidak kebagian banyak kepala.


Nia pun menoleh ke arah Madika dan melihat bantal kepala itu masih menyisah-kan ruang yang cukup luas di samping kepala Madika.


Nia pun kini berpikir untuk mendekat-kan tubuh-nya pada Madika dan tidur sebantal dengan Madika.


saat ia memikir-kan hal itu, wajah-nya kembali memerah, ia sedikit ragu melakukan hal itu, namun setelah beberapa saat ia menatap Madika, kini ia pun mulai memberani-kan diri.


ia pun dengan perlahan mendekat-kan tubuh-nya dengan Madika dan setelah itu mulai meletak-kan kepala-nya di samping Madika sehingga kini wajah mereka benar-benar sangat berdekatan.

__ADS_1


Permisi, Thor mau tahu ni, bagaimana pendapat kalian tentang alur cerita reinkarnasi sang ksatria legendaris akhir-akhir ini....


Tulis komentar kalian ya, biar Thor tahu jika ada yang harus Thor perbaiki. :)


__ADS_2