
Saat ini Kindo tampak terus menyerang para monster semut itu mengguna-kan laser petir milik-nya.
namun sayang-nya masih tidak banyak yang bisa ia bunuh mengguna-kan laser petir tersebut.
"sial!.... kalau terus begini bisa-bisa kami kehabisan energi sebelum melanjut-kan ke pertarungan selanjut-nya, sementara bocah itu ia terus bersantai di atas sana sambil menyimpan Saga-nya untuk di pakai di akhir-akhir nanti!" ucap Kindo dalam hati dengan ekspresi kesal sambil menatap Madika yang saat ini sedang berada di udara.
Sementara itu, Gupo saat ini terlihat tidak terlalu kerepotan dengan hal tersebut.
bagaimana tidak, Gupo yang hanya seorang diri itu ternyata bisa membunuh monster semut lebih banyak dari pada mereka semua yang ada di dalam ruangan itu.
"jadi bagaimana?" tanya Gupo sambil menoleh ke arah Kindo. "apa kau masih belum butuh bantuan-ku?" tanya Gupo seolah menawar-kan diri untuk membantu.
Mendengar ucapan Gupo, kini Kindo pun hanya bisa menggertak-kan gigi-giginya. ia merasa sangat kesal karena ternyata tak bisa membalas-kan dendam adik-nya dengan tangan-nya sendiri, dan karena desakan dari keadaan saat ini, akhir-nya Kindo pun memilih untuk membuang ego-nya dan memilih untuk bekerja sama dengan Gupo untuk membunuh Madika.
"baiklah!... lakukan sesuka-mu!!" ucap Kindo dengan kesal.
Mendengar ucapan Kindo itu, kini Gupo pun langsung tersenyum licik dan kemudian menatap ke arah Madika.
"langkah dewa angin!" ucap Gupo sambil melangkah-kan satu kaki-nya.
Baru mendengar ucapan itu, kini Madika pun langsung terkejut dengan mata yang terbelalak.
Seketika itu juga, sebuah gelombang angin yang sangat kuat pun langsung tercipta di sekitaran Gupo.
gelombang angin itu pun langsung bergerak meluas dan menghantam seluruh monster semut milik Madika hingga monster semut tersebut terhempas sangat kuat dan membuat seluruh dinding di ruangan itu langsung hancur dan meninggal-kan banyak puing-puing dinding.
hal itu kini membuat semua monster semut milik Madika langsung meledak dan mati seketika.
Sementara itu, Madika yang saat ini berada di udara kini langsung membuat sebuah perisai angin yang sangat kuat.
__ADS_1
namun sayang-nya perisai angin itu perlahan mulai retak.
hal itu pun membuat Madika tampak mulai kesal.
"sial!.... jadi seperti ini kah esensi dari serangan langkah dewa angin itu?!.... selama ini aku selalu menggunakan-nya tapi baru kali ini aku terkena serangan-nya!" batin Madika. lanjut-nya, "tapi ini benar-benar di luar dugaan, ternyata orang ini juga bisa mengguna-kan langkah dewa angin!.... jenius dari sekte Balumba memang tak boleh di anggap remeh!" batin Madika sambil menatap Gupo dengan tatapan tajam.
Baru saja berkata seperti itu dalam hati, kini perisai angin milik Madika pun langsung hancur berkeping-keping dan hal itu pun membuat Madika langsung terhempas sangat kuat oleh serangan gelombang angin tersebut.
"UHUK!!"
Seketika Madika pun langsung menghantam dinding ruangan itu hingga hancur dan meninggal-kan banyak puing-puing yang berhamburan di udara.
Madika pun terbatuk dan ada darah yang keluar dari mulut-nya saat ia terbatuk.
"sial!.... dia benar-benar sangat kuat!.... bahkan langkah dewa angin milik-nya seperti-nya jauh lebih kuat dari-ku!" batin Madika sambil menyeka darah di bibir-nya.
namun, baru saja Madika menoleh ke tempat Gupo berdiri sebelum-nya, kini ia langsung terkejut saat melihat Gupo yang saat ini sudah tak ada di tempat-nya tadi.
Hal itu pun membuat Madika langsung terkejut dan membelalak-kan mata-nya.
namun tiba-tiba Madika pun seketika langsung merasa-kan firasat buruk, dan insting-nya pun membuat diri-nya berpikir bahwa ada sesuatu yang berbahaya di belakang-nya saat ini.
Lalu Madika pun langsung mencoba untuk terbang ke depan dan menjauh dari posisi ia melayang sebelum-nya, dan benar saja ternyata Gupo saat itu sedang berdiri santai di belakang Madika sambil tersenyum tipis layak-nya seorang psikopat yang sedang mencoba mempermain-kan korban-nya.
Baru beberapa meter Madika terbang menjauh, tiba-tiba seberkas cahaya di sertai Sambaran petir tampak bergerak cepat di samping Madika dan melewati Madika begitu saja.
setelah itu langsung berhenti di depan Madika.
Sosok cahaya berpetir itu ternyata adalah Gupo, dan kini Gupo berdiri sambil menyilang-kan kedua tangan-nya di belakang tubuh-nya sambil tersenyum menatap Madika saat ini.
__ADS_1
Sementara Madika yang melihat Gupo yang kini sudah berdiri di depan-nya langsung berhenti untuk terbang.
"sial!.... cepat sekali dia!" ucap Madika dalam hati dengan ekspresi kesal yang mulai tergambar di wajah-nya.
"kau mau lari ke mana hah?" tanya Gupo sambil menunjuk-kan ekspresi angkuh di wajah-nya dan menatap Madika sambil sedikit mengangkat dagu-nya.
"sial!.... kalau begini maka lebih baik langsung menghadapi-nya!" ucap Madika dalam hati.
Madika kini memutus-kan untuk berhadapan langsung dengan Gupo karena ia tahu bahwa sekali pun ia ingin terbang menjauh dari Gupo, maka Gupo masih bisa mengejar-nya karena kecepatan Gupo benar-benar sangat tidak terduga.
selain itu, saat ini Madika bisa melihat bahwa di kaki Gupo yang sedang melayang di udara itu tampak seolah ada sebuah kaca berpetir yang sedang Gupo pijaki sehingga Gupo bisa melayang di udara berkat bantuan petir itu.
dari bentuk jurus itu kini Madika bisa tahu bahwa jurus yang di pakai oleh Gupo untuk melayang saat ini adalah jurus langkah petir yang sudah berada di tingkat raja.
Note: setiap jurus dapat di asah hingga mencapai tingkatan tertentu.
mulai dari yang terendah, yakni tingkat prajurit, tingkat raja, tingkat kaisar, dan tingkat dewa.
"orang ini seperti-nya sudah terbiasa mengguna-kan dua elemen milik-nya!.... ia bahkan bisa mengguna-kan jurus langkah dewa angin, dan di lain sisi ia juga memiliki jurus percepatan dari langkah petir." ucap Madika lagi dalam hati sambil menganalisa kekuatan yang di miliki oleh Gupo saat ini.
Note: jurus langkah petir yang sudah berada di tingkat yang cukup tinggi bisa membuat pengguna-nya berjalan maupun berlari di udara dengan kecepatan yang sama saat berlari di daratan.
Kini Madika pun langsung menebas-kan pedang-nya ke arah Gupo dengan sangat cepat.
seketika sebuah lengkungan angin yang cukup besar dari yang biasa-nya kini langsung melesat cepat ke arah Gupo.
Namun saat lengkungan angin itu sudah berada sangat dekat dengan Gupo, kini Gupo pun tiba-tiba seolah menghilang dari tempat-nya melayang sebelum-nya.
"kau melihat ke mana hah?!" ucap Gupo yang kini berada di belakang Madika.
__ADS_1