Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Sekte Balumba


__ADS_3

Saat ini Madika mendapat-kan telepati dari Askila yang sedang bertarung melawan Kinto di luar sana.


"aku tak bisa menahan semua-nya tuan!!.... jumlah mereka sangat banyak dan bahkan saat ini muncul satu kelompok yang berisi-kan orang-orang kuat lain-nya!" ucap Askila dengan nada suara yang terdengar panik.


"hmm.... kelompok lain ya... apa mereka sedang menuju ke dalam si....."


~WWHHUUUSSSS!!~


Sebuah pedang petir kini melesat ke arah Madika sehingga ia kini tak sempat melanjut-kan kata-katanya yang mencoba bertanya pada Askila.


Askila yang mendengar tuan-nya yang kini tak sempat melanjut-kan perkataan-nya kini langsung pasang ekspresi khawatir.


"tuan!... apa yang terjadi?!" tanya Askila dengan ekspresi wajah yang tampak khawatir.


"jangan menoleh dari musuh yang ada di depan-mu anjin9!!" teriak Kinto sambil mengayun-kan tombak-nya untuk menebas kepala Askila.


Askila yang mendengar suara Kinto itu kini langsung melompat jauh ke belakang untuk menghindari serangan dari tombak petir milik Kinto.


Namun pergerakan Kinto tidak cukup sampai di situ saja, kini Kinto dengan cepat menembak-kan beberapa petir melalui ujung tombak yang ia miliki dan kini petir-petir pendek itu melesat cepat ke arah Askila layak-nya sebuah cahaya.


Di sisi lain, Madika yang saat ini sedang berada di dalam ruangan senjata pusaka sambil memegang kristal itu kini langsung menoleh ke arah pedang petir itu berasal.


Saat Madika menoleh, kini ia melihat sekelompok orang baru dan jelas itu bukan-lah Kinto dan rekan-nya, justru mereka ini memiliki seragam yang berbeda dari seragam yang di pakai oleh kelompok Kinto.


Madika yang melihat sekelompok orang itu berjalan mendekati diri-nya kini langsung memasuk-kan kristal berwarna merah itu ke dalam ruang penyimpanan milik-nya.


Lalu Madika pun langsung menatap tajam ke arah salah satu pria yang paling kuat di antara para pria lain-nya di kelompok itu.


"apa yang kau ingin-kan?" tanya Madika dengan tatapan tajam mengintimidasi.

__ADS_1


Sementara itu, si pria yang paling kuat di kelompok itu pun kini berhenti melangkah tepat di jarak sekitar dua puluh meter dari tempat Madika berada.


Lalu pria itu pun langsung membalas tatapan tajam Madika dengan tatapan angkuh dan meremeh-kan.


"hei bocah!.... berani-beraninya kau menatap-ku seperti itu.... apa kau ingin cari masalah dengan sekte Balumba hah?!" ucap-nya dengan sinis.


"sekte Balumba?" ucap Madika dalam hati sambil mengingat-ingat kembali akan sesuatu karena ia merasa pernah mendengar-nya.


"ah, benar juga, Dion sebelum-nya sudah mencerita-kan pada-ku tentang sekte ini." ucap Madika dalam hati. "jadi seperti ini ya rupa dari para murid sekte Balumba?.... ehh.... lumayan juga." ucap Madika dalam hati sambil memperhati-kan mereka semua dari atas sampai bawah.


"hei bocah!!.... apa kau tak mendengar-kan ucapan kak Udin hah?!"


"Udin?..... haha nama yang keren." ucap Madika sambil tertawa kecil seolah mengejek.


"sial@n!!.... malah ngelunjak dia!!" ucap pria itu lagi dengan ekspresi kesal.


Sementara itu, si Udin yang saat ini berdiri paling depan di antar kelompok itu kini langsung menjentik-kan jari-nya.


Seketika sebuah gumpalan petir muncul di depan Udin dan langsung melesat cepat ke arah Madika layak-nya peluru yang sedang melesat.


Madika yang melihat hal itu kini langsung mengguna-kan tangan kanan-nya untuk membuat sebuah perisai angin di depan-nya.


Namun saat gumpalan petir itu menghantam perisai angin Madika kini langsung terjadi ledakan yang cukup kuat yang kini membuat perisai angin Madika langsung hancur seketika.


Hancur-nya perisai angin Madika itu kini membuat Madika terdorong sangat kuat ke belakang.


namun karena Madika masih bisa mempertahan-kan keseimbangan saat berdiri kini Madika pun masih bisa berdiri dengan benar.


"ternyata tingkat Grand master memang bukan sekedar nama!... kekuatan-nya sangat luar biasa." ucap Madika sambil mengibas-kan tangan-nya beberapa kali seperti sedang membersih-kan sesuatu di tangan-nya.

__ADS_1


"ohh..... ternyata masih bisa bertahan ya.... padahal hanya tingkat elite!" ucap Udin dengan angkuh saat melihat Madika berhasil bertahan dari serangan kecil-nya itu.


Saat ini Udin memang sedikit terkejut karena orang dengan tingkat elite seperti Madika berhasil bertahan dengan baik dari serangan itu meski-pun sempat terdorong jauh.


"biasa-nya orang-orang di tingkat master ke bawah pasti langsung jatuh saat terkena serangan itu.... apa bocah ini punya kemampuan istimewa?... atau jangan-jangan ia juga sosok bocah berbakat di dari klan angin?" ucap Udin dalam hati.


"hei bocah.... sekali lagi aku beri kau kesempatan!" ucap Udin dengan suara yang sedikit keras sambil memandang rendah Madika.


"beri-kan aku kristal yang kau dapat-kan barusan.... jika kau memberi-kan kristal itu pada-ku, maka aku akan memberi-kan diri-mu sebuah rekomendasi di sekte Balumba....aku yakin kau pasti pernah dengar tentang sekte Balumba.... di sekte Balumba, asal-kan punya koneksi orang dalam, maka kau akan mendapat-kan tempat latihan yang sangat bagus di sana, bahkan kau bisa mendapat-kan banyak hal istimewa serta akan menerima berbagai ramuan yang bisa membantu mempercepat kenaikan level.... bagaimana?.... apa kau tertarik?" ucap Udin memberi penjelasan pada Madika dan berusaha menghasut Madika untuk memberi-kan kristal itu pada-nya.


Madika yang mendengar-kan tawaran itu kini hanya menatap Udin dengan ekspresi datar seolah diri-nya tidak peduli.


lagi pula Madika memang saat ini tidak tertarik sama sekali dengan sekte Balumba yang di bicara-kan itu.


"maaf saja.... aku sama sekali tak bisa menukar-kan kristal ini dengan hal istimewa yang kau bicara-kan itu." jawab Madika dengan pasti.


"ap.... apa kata-mu!!" bentak salah satu rekan Udin yang kini langsung melesat cepat ke arah Madika dan langsung mencekik leher Madika serta mengangkat-nya di udara.


"hoi bocah!!.... berani sekali kau menolak kenaikan hati kak Udin!!.... kau benar-benar mau cari mati hah?!" bentak pria itu.


Sementara itu, si Udin yang tampak sangat meremeh-kan Madika kini hanya menatap Madika sambil tersenyum dengan ekspresi meremeh-kan Madika.


"hoi Jobo, jangan terlalu kasar pada orang lemah.... dia itu sama sekali tak bisa melawan-mu loh." ucap Udin sambil tersenyum merendah-kan Madika.


"hei Jobo.... jangan terlalu berlebihan menakuti-nya.... lihat, dia bisa-bisa kencing di celana gara-gara kau." ucap rekan udin yang lain-nya.


Sementara itu, Madika yang melihat ekspresi meremeh-kan yang terukir di wajah Udin kini langsung tersenyum licik.


kemudian Madika pun menatap rekan Udin yang mencekik-nya itu.

__ADS_1


"kau benar-benar susah salah pilih lawan bung." ucap Madika sambil memegang kepala rekan Udin yang mencekik-nya itu.


Tak butuh waktu lama, kini kepala rekan Udin itu langsung meledak dan hal itu pun membuat semua orang di sekitar-nya langsung terkejut.


__ADS_2