
Ketika Lulu terhempas ke tanah, kini Mindo langsung melompat turun dari es yang ia pijaki.
ketika mendarat di tanah, ia langsung mempersiapkan diri untuk kembali bertarung. ia merasa bahwa serangan-nya barusan tidak cukup untuk mengalahkan Lulu.
Beberapa saat kemudian, kini debu yang bagaikan asap itu perlahan lenyap dan memperlihatkan sosok Lulu yang tampak berdiri kokoh di tempat pendaratan-nya saat terhempas.
"hmm.... seperti-nya dia tidak terpancing dengan kata-kata ku..... ku pikir dia akan emosi dan langsung menyerang dengan gegabah, tapi seperti-nya dia masih bisa mengendalikan emosi-nya sehingga tidak asal bertindak." batin Lulu. "apa perlu ku provokasi lagi?" batin-nya sambil mengangkat satu alis mata-nya.
Setelah itu kini Lulu maju tiga langkah secara perlahan.
"apa cuma segini saja kemampuan-mu?.... kau yang dengan angkuh-nya mengatakan bahwa aku akan kalah karena kesombongan-ku tapi kau malah seperti ini?.... jangan bod0h.... sudah ku bilang kan, kau tidak akan mungkin bisa mengalahkan-ku dengan kemampuan sampah-mu itu.... hahahaha benar-benar orang bod0h yang mengocok per...."
Belum selesai Lulu berbicara, tiba-tiba muncul ratusan pisau es yang melesat ke arah Lulu.
ratusan pisau itu langsung menghujani Lulu.
Lulu yang menyadari hal itu langsung tersenyum tipis.
"hahahaha dia terpancing!" batin Lulu sambil bergerak cepat menghindari hujan pisau es itu.
Mindo yang melihat pergerakan Lulu yang sangat cepat kini langsung menambah jumlah pisau es-nya. ia mengangkat tangan kanan-nya dan seketika tercipta ribuan pisau es di atas kepala Mindo.
setelah itu Mindo langsung mengayun tangan-nya ke depan. kini ribuan pisau itu langsung melesat ke arah Lulu.
Lulu yang melihat hal itu tentu menyadari bahwa diri-nya tidak akan bisa menghindar tanpa harus melawan menggunakan petir.
__ADS_1
akhir-nya kini Lulu pun langsung menunjuk-kan salah satu teknik spesial milik-nya.
ia menciptakan tiga buah bola cahaya. ketiga bola cahaya itu melayang di bahu kiri dan kanan, serta bola cahaya yang ketiga melayang di belakang kepala dan berada sedikit ke atas kepala.
Saat serangan kedua Mindo sudah berada dekat dengan Lulu. tiba-tiba tiga bola cahaya itu langsung menyambar-kan petir yang kini menghancurkan semua pisau es yang melesat ke arah Lulu.
banyak pisau es yang berhasil di blokir oleh bola cahaya itu, sementara sisa-nya di hancurkan oleh Lulu menggunakan pedang petir.
Mindo yang melihat hal itu kini makin kesal. bagi-nya ini benar-benar sebuah penghinaan besar. sebelum-nya ia sudah di sebut, bab1, bahkan juga sampah tak berguna. perkataan itu terngiang-ngiang di kepala-nya dan membuat diri-nya makin kesal.
"akan ku bunuh kau sial@n!!" teriak Mindo sambil mengaktifkan sebuah serangan es berskala besar. Mindo menusuk-kan pedang es-nya ke tanah, lalu ia menciptakan pisau es di tangan kanan-nya. kemudian ia menyayat telapak tangan kiri-nya hingga mengeluarkan banyak darah.
ia mengangkat tangan kiri-nya itu ke depan dengan ketinggian rata dengan dada.
lalu ia meneteskan darah-nya ke pedang yang sudah ia tancapkan di tanah itu.
"ini adalah serangan terakhir-ku, teknik yang mengorbankan nyawa-ku, akan ku pakai saat ini juga..... teknik yang tidak akan ku gunakan dalam pertarungan yang melibatkan tubuh asli kini bisa ku gunakan dengan tubuh kedua ini!" batin Mindo dengan ekspresi wajah yang tampak masih sedikit ragu karena diri-nya sedang memikir-kan kira-kira bagaimana rasa-nya saat mati satu kali.
Di sisi lain, saat ini tampak Esi yang sedang tersenyum tipis melihat hilang-nya naga api milik Natalia.
tak lama setelah itu, kini Esi langsung turun dari atas pohon dan berjalan mendekati tempat Natalia sebelum-nya.
ia berjalan dan melihat bahwa tempat itu masih di penuhi kepulan debu tanah sehingga tidak ada tanda kepastian apakah Natalia benar-benar sudah di kalahkan atau tidak.
saat berada pada jarak yang tidak begitu jauh dari Natalia, kini Esi langsung menyebarkan saga-nya dan melakukan pendeteksian di wilayah itu terutama pada Natalia.
__ADS_1
saat pendeteksian-nya aktif, ia langsung terkejut karena ternyata diri-nya masih bisa mendeteksi seseorang yang saat ini masih berdiri kokoh di depan-nya.
tak lama setelah itu kini kepulan debu itu lenyap di terbangkan angin sehingga tampak sosok Natalia yang saat ini berdiri dengan santai-nya.
saat ini tampak ada sebuah perisai yang melindungi Natalia. perisai itu sangat tidak biasa karena bentuk-nya seperti kepala naga yang sangat besar, dan di dalam kepala naga itulah Natalia bernaung sehingga tak satupun serangan yang mengenai-nya.
warna kepala naga itu tampak berwarna biru tua transparan. hal itu-lah yang membuat Natalia bisa terlihat oleh orang yang berada di luar perisai naga itu.
Melihat perisai naga itu, Esi pun jadi makin terkejut.
"sial.... ternyata dia menyembunyikan jurus yang tidak terduga!" batin Esi sambil menggigit bibir bawah-nya dengan ekspresi kesal.
"seperti-nya dia berpikir bahwa aku tidak merasakan keberadaan-ku sendiri saat fokus pada kesadaran naga.... dia benar-benar sudah meremehkan-ku." batin Natalia yang tampak masih tenang-tenang saja.
"aku sudah mengeluarkan beberapa jurus yang kuat, tapi seperti-nya aku tak boleh meremehkan-nya lagi! aku harus benar-benar serius menghadapi gadis ini!" batin Esi.
Meskipun sejak awal Esi memang tidak meremehkan Natalia, namun diri-nya sampai saat ini tetap ingin mempertahankan keseriusan-nya hingga bisa mencapai kemenangan karena diri-nya sendiri juga tahu bahwa Natalia adalah orang yang sudah di akui oleh para guru.
Setelah itu, kini Esi kembali menciptakan dua pedang es di tangan kanan dan kiri-nya.
"sebaik-nya aku mencari cara menembus pertahanan-nya terlebih dulu." batin Esi.
Setelah berpikir seperti itu, kini Esi pun langsung melesat ke arah Natalia.
Natalia yang melihat hal itu tentu tak diam saja. Natalia dengan segera mengangkat tangan-nya ke depan dada sambil membuka telapak tangan-nya. seketika itu juga muncul petir dalam jumlah yang banyak. petir-petir itu langsung melesat ke arah Esi yang sedang bergerak mendekati Natalia.
__ADS_1
Esi yang bisa melihat serangan itu kini langsung menghindar dengan berbagai gerakan yang luar biasa. ia bersalto sambil berlari. ia bahkan menebas petir saat diri-nya melompat ke udara untuk menghindar.
Setelah mendarat ke tanah, Esi langsung mengayun pedang-nya dari bawah ke atas, dan seketika dari bawah tanah muncul es yang menjalar ke arah Natalia. saat es itu berada dekat dengan Natalia, tiba-tiba es itu langsung menjulang tinggi menusuk perisai naga milik Natalia.