
Saat ini tubuh si botak yang tak ada kepala-nya itu kini tak bergerak lagi.
leher-nya kini memuncrat-kan banyak darah dan darah-nya berhamburan di atas tanah serta membasahi tubuh-nya.
"BOTAAAAKKK!!"
teriak si guru saat berhasil menangkap kepala si botak yang sedang melesat ke arah samping-nya.
Seluruh teman kelas si botak yang melihat hal itu mau tidak mau harus terkejut.
raut wajah mereka pun kini berubah jadi terlihat ketakutan.
"ke..... kenapa orang itu tiba-tiba ada di sini?" ucap salah satu siswa yang mulai gagap karena ketakutan.
"KITA AKAN MATI!!!"
teriak salah satu siswa wanita yang ada di tengah-tengah siswa lain-nya.
Teriakan wanita itu pun membuat semua-nya ikut berteriak dengan suara keras dan ketakutan.
seketika mental mereka semua langsung ciut saat melihat kejadian itu.
seketika pandangan mereka terhadap para Niverom langsung berubah.
yang sebelum-nya mereka memandang Niverom bagai-kan kelinci di kandang singa, kini mereka malah melihat seekor singa di kandang kawanan kelinci.
"KITA TAK AKAN BISA MENANG!!"
teriak mereka dengan suara keras.
"oi oi.... jangan langsung main bunuh begitu.... kami juga mau bersenang-senang dengan bocah-bocah itu.... lagi pula lawan-mu adalah dua guru yang sana itu, jadi para kroco ini serah-kan saja pada kami." ucap salah satu Niverom tingkat Alima sambil menunjuk kedua guru pembimbing dari akademi Parompe.
"oho.... bagaimana dengan yang di sana?" tanya Niverom tingkat Aono sambil menoleh ke arah Bu Meri.
"tenang saja, aku bisa mengurus-nya." ucap salah satu Niverom tingkat Alima lain-nya.
__ADS_1
"baik-lah kalau begitu..... ku serah-kan mereka pada kalian." ucap si Niverom tingkat Aono dengan tenang.
lalu Niverom tingkat Aono itu pun kembali menoleh ke arah dua guru dari akademi Parompe.
"seperti-nya kita tak akan bisa kabur dari mereka." ucap Bu Meri sambil menatap para Niverom dengan ekspresi waspada.
"tak perlu khawatir Bu, aku akan mencoba menghancur-kan dinding penghalang ini.... jadi anda hanya perlu berkonsentrasi dengan pertarungan yang ada di depan anda." ucap siswa laki-laki itu dengan percaya diri.
Bu Meri pun hanya bisa mengangguk menyetujui saran dari siswa-nya itu.
"kalau begitu segera-lah serang dinding penghalang itu!" ucap Bu Meri memberi perintah.
"siap Bu!" balas siswa laki-laki itu dan kemudian langsung berlari ke arah dinding penghalang sambil mencipta-kan sebuah pedang api di tangan kanan-nya.
lalu ia pun langsung menebas dinding penghalang yang tampak transparan itu.
******
Saat ini terlihat Madika dan Niverom yang sedang berdiri berhadapan dengan jarak sekitar lima puluh meter jauh-nya.
"BOCAH INI!" Niverom semakin murka.
"pantas saja adik-ku kalah dari-nya!.... bocah ini benar-benar penuh dengan kejutan!" batin si Niverom itu sambil menatap tajam ke arah Madika.
Sementara itu, Madika yang melihat keadaan si Niverom yang tampak sedikit terluka kini hanya bisa menghela nafas.
"hah..... Niverom ini benar-benar sulit di kalah-kan!.... tadi-nya ku pikir dia akan tumbang setelah menerima serangan terkuat dari pedang energi milik-ku, tapi ternyata tidak!' batin Madika dengan ekspresi kesal.
Tak lama setelah itu, Niverom yang tadi-nya berdiri sedikit membungkuk kini langsung melurus-kan badan-nya.
"bocah ini kemungkinan besar masih menyimpan satu langkah dewa angin..... mungkin ia sedang menunggu waktu yang tepat untuk menggunakan-nya.... sebaik-nya aku harus semakin berhati-hati dalam mengambil tindakan sekarang!" batin si Niverom.
Sementara itu, Madika yang saat ini terlihat baik-baik saja sebenar-nya sudah kehilangan energi Saga dalam jumlah yang banyak akibat dari serangan terkuat yang ia lancar-kan mengguna-kan senjata energi barusan.
senjata itu menguras energi-nya hingga hanya tersisa sekitar 65% saja.
__ADS_1
"hanya melawan satu Niverom saja sudah membuat-ku mengeluar-kan Saga sebanyak ini!..... jika terus berlanjut seperti ini, bisa-bisa aku akan kehabisan Saga sebelum menghabisi kelompok-kelompok Niverom lain-nya.... kali ini aku hanya bisa berharap semoga Askila bisa menghabisi Niverom lain-nya agar masalah ini bisa sedikit berkurang!" batin Madika.
Saat ini Madika tidak bisa memanggil Bunggu karena awan hitam yang sangat pekat di atas mereka saat ini merupakan sebuah wilayah domain yang sangat besar dan wilayah domain yang di gunakan oleh Niverom ini tidak bisa di hancur-kan oleh wilayah domain milik Madika.
"seandai-nya wilayah domain milik-ku jauh lebih kuat dari ini.... maka sudah pasti aku bisa menghancur-kan wilayah domain ini dan menggantikan-nya mengguna-kan wilayah domain milik-ku." batin Madika.
Setelah itu, kini Madika pun langsung menyimpan kembali kedua pedang yang ia pegang saat ini.
"mungkin sebaik-nya aku kalah-kan Niverom ini dengan mengguna-kan trik saja agar penggunaan Saga-ku bisa sedikit di minimalisir." batin Madika.
Saat Niverom itu melihat Madika menyimpan kembali kedua pedang-nya, kini Niverom itu pun tampak sedikit bingung.
namun akhir-nya ia pun mulai curiga.
"apa jangan-jangan serangan barusan sudah memakan banyak energi Saga-nya?" batin Niverom itu dengan ekspresi mengira-ngira.
"kalau memang begitu!.... maka sebaik-nya aku memanfaat-kan kesempatan ini untuk terus menguras kekuatan-nya!" batin Niverom itu sambil tersenyum licik menatap Madika.
Lalu Niverom itu pun langsung mengeluar-kan sebuah pedang api di tangan-nya.
kini Niverom itu sedang mengguna-kan dua pedang, yakni pedang halilintar di tangan kanan, dan pedang api di tangan kiri.
Sementara itu, Madika kini terlihat sedang menyiap-kan tiga peluru angin di tangan kanan-nya dan tiga peluru angin di tangan kiri-nya.
"mari kita lihat, apa-kah Niverom yang satu ini mengetahui informasi tentang peluru angin atau tidak?!" batin Madika.
Saat ini Madika sedang berspekulasi bahwa ada kemungkinan kalau Niverom yang berhadapan dengan-nya saat ini telah mengetahui cara kerja peluru angin milik-nya.
ia berspekulasi seperti itu karena sejak awal Niverom ini datang untuk balas dendam pada Madika.
namun pertanyaan-nya, bagaimana Niverom itu bisa tahu kalau madika-lah yang telah membunuh adik-nya?.
tentu-nya yang bisa menjadi jawaban atas hal itu adalah, ada-nya Niverom lain yang secara sembunyi-sembunyi menyaksi-kan pertarungan Madika dengan adik dari Niverom tingkat Papitu itu.
hal itu pun membuat Madika tak tahu keberadaan Niverom yang menyaksi-kan kejadian itu saat Madika sedang bertarung.
__ADS_1
dengan begitu, maka kemungkinan Niverom yang telah melihat pertarungan si adik dengan Madika pasti-nya jga sudah melapor-kan tentang jurus dan cara bertarung Madika pada Niverom tingkat Papitu itu.