Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Menghindari Kecurigaan


__ADS_3

Saat ini, Bunggu yang sudah menyiap-kan ribuan jarum api itu kini langsung melesat-kan jarum api itu secara bertubi-tubi untuk menusuk tubuh Riko.


Namun, karena Bunggu tidak berniat langsung membunuh Riko, jadi Bunggu pun mulai menusuk-kan jarum-jarum itu ke bagian-bagian tubuh Riko yang bukan vital.


Hal itu pun membuat Riko langsung menjerit kesakitan.


darah Riko langsung muncrat kemana-mana. namun ribuan jarum itu masih belum selesai melesat ke arah-nya.


Serangan jarum api itu terus menusuk-nya bertubi-tubi.


kini ratusan jarum sudah memenuhi tubuh Riko yang bukan bagian vital.


Namun masih banyak jarum yang terus berdatangan menusuk tubuh Riko.


Tubuh Riko kini penuh lubang, banyak jarum yang menancap, bahkan darah Riko mulai membanjiri tanah di sekitar Riko tergeletak.


Riko yang saat ini tak bisa bergerak hanya bisa berteriak menjerit kesakitan.


ingin rasa-nya segera mati dan tidak mengalami sakit seperti itu, namun nyata-nya ia tidak mati-mati karena serangan Bunggu itu memang di tujukan hanya untuk menyiksa saja.


Riko terus menjerit kesakitan. namun tak ada kata meminta ampun keluar dari mulut-nya.


ia dengan harga diri tinggi dan menjunjung tinggi kesetiaan-nya pada keluarga Nemosu tentu tidak akan mau meminta ampunan dari orang yang telah membunuh tuan-nya.


Namun, saat Madika merasa-kan bahwa orang-orang yang bergerak ke arah mereka kini semakin dekat, akhir-nya Madika pun langsung berubah pikiran dan langsung menyuruh Bunggu untuk segera membunuh Riko.


"Bunggu, sebaik-nya kau segera membunuh orang ini!.... jika tidak maka akan ada kemungkinan penyamaran-ku di curigai!" ucap Madika memerintah.


Bunggu yang mendengar perintah dadakan Madika itu tentu-nya jadi sedikit bingung.


meski-pun demikian, ia pun langsung membunuh Riko tanpa menanya-kan detail-nya pada Madika.


"eh?.... ehm baik tuan." ucap Bunggu patuh.


Setelah itu kini Bunggu pun mengakhiri serangan jarum api-nya itu.


setelah serangan itu berakhir, kini jarum api itu langsung berubah menjadi api yang sangat panas.


api itu langsung membakar Riko hidup-hidup.

__ADS_1


api yang tampak tidak padam itu kini membakar habis tubuh Riko.


Bunggu pun kini langsung melepas-kan Riko dari tekanan aura Nosa-nya


namun, kini tubuh Riko di penuhi oleh api yang terus berkobar-kobar.


Api yang sangat panas dan tidak padam-padam itu terus membakar tubuh Riko.


Riko yang kini terlepas dari kekangan aura Bunggu langsung berteriak keras sambil menggeliat kesana-kemari karena api yang membakar tubuh-nya itu sangat panas.


Namun hal itu tak berlangsung lama.


kini Riko pun berhenti menggeliat, dan suara-nya sudah tidak terdengar lagi.


Riko kini sudah tewas, dan api itu masih terus membara dan membakar tubuh Riko.


Setelah itu kini Madika pun langsung menyuruh Bunggu untuk segera membawa diri-nya menjauh dari tempat ini.


"Bunggu!.... sebaik-nya kita segera pergi dari sini sebelum orang-orang itu sampai ke tempat ini!" ucap Madika memerintah.


"baik tuan!" jawab Bunggu patuh.


"siap tuan." jawab Bunggu.


Lalu Madika pun langsung melompat turun ke tanah.


setelah itu Bunggu pun langsung mengguna-kan wujud manusia-nya serta mengguna-kan sebuah jubah penyamaran untuk menyamar-kan kekuatan-nya.


"ayo segera menjauh dari sini!" ujar Madika segera bergegas dan mengeluar-kan sebuah pedang angin yang akan ia gunakan untuk terbang.


Lalu Madika pun langsung terbang menjauh begitu saja tanpa menunggu respon dari Bunggu.


sementara Bunggu yang melihat kepergian tuan-nya kini langsung mengeluar-kan pedang api milik-nya.


kemudian ia ia menaiki pedang itu serta langsung melesat ke udara dan mengikuti Madika dari belakang.


Saat ini Madika berusaha untuk menyembunyi-kan diri-nya.


Madika saat ini berpikir, jika salah satu dari pengguna Saga tingkat grand master atau Epic itu ternyata berasal dari keluarga Nemosu, maka besar kemungkinan mereka akan mencurigai Madika jika mereka melihat mayat Riko di tempat itu.

__ADS_1


Hal itu di karena-kan bisa saja keluarga Nemosu sudah menyuruh Riko untuk membalas kematian Hongu, dan jika itu benar, maka meski-pun mereka tidak mendapati Madika di tempat itu, ataupun mereka tidak mengetahui Madika karena menyamar, namun, karena keberadaan mayat Riko tentu-nya itu akan membuat mereka mengetahui bahwa Madika-lah orang yang sudah memanggil Bunggu si naga kuno legendaris.


Hal seperti itu tentu-nya akan membuat satu kecurigaan kecil yang nanti-nya akan terus berkembang hingga menjadi kecurigaan besar.


Karena itu-lah Madika langsung menyuruh Bunggu untuk menghabisi Riko serta langsung pergi dari tempat itu agar mereka bisa menyembunyi-kan rahasia mereka dengan rapi.


Madika yang menjelas-kan semua isi pikiran-nya itu pada Bunggu kini membuat Bunggu langsung mengangguk paham.


"ternyata anda sudah memikir-kan semua-nya ini dengan baik dan jauh ke depan." ucap Bunggu dengan nada memuji.


"tentu saja..... ceroboh sedikit saja itu sudah akan membuat rahasia-ku akan terkikis hingga akhir-nya akan terbongkar." timpal Madika.


******


Saat ini, tampak dari arah pemukiman penduduk kota Kayau itu ada empat orang ksatria Saga sedang melesat ke tempat terjadi-nya pertarungan antara Madika dan Riko.


Salah satu dari pengguna Saga tingkat Epic itu dari kejauhan melihat bahwa tempat itu sudah agak sunyi dan tidak ada tanda-tanda pergerakan dari sebuah pertarungan


Melihat hal itu, ksatria Saga tingkat Epic itu pun langsung mengedar-kan Saga-nya untuk melakukan deteksi di wilayah sekitar tempat itu.


Namun sayang-nya ia tidak bisa merasa-kan keberadaan pengguna Saga lain di tempat itu.


"apa mereka sudah kabur?" batin Karu Nakawao yang merupakan seorang ksatria tingkat Epic.


Tak lama setelah berkata seperti itu, kini Karu dan tiga ksatria Saga lain-nya kini langsung tiba di tempat terjadi-nya pertarungan.


Mereka yang saat ini sedang terbang mengguna-kan pedang masing-masing kini hanya bisa menatap wilayah pertarungan itu dengan ekspresi yang sedikit terkejut.


"tempat ini benar-benar hancur lebur!" ucap Karu saat melihat tempat yang hancur serta berbentuk kawah yang sangat besar itu.


Lalu Karu pun melompat turun dari pedang-nya.


ia pun langsung mendarat di atas tanah.


Tak lama setelah itu, kini salah satu saudara Karu yang berada di tingkat grand master kini mendarat di samping Karu.


Sementara dua pria yang berasal dari keluarga Nakawao yang kedua-duanya masih berada di tingkat grand master kini mendarat bersebelahan dengan Karu dan saudara-nya.


namun jarak mereka cukup berjauhan karena sejak awal dia keluarga ini memang sudah memiliki permasalahan dan sudah saling bermusuhan secara diam-diam sejak lama.

__ADS_1


__ADS_2