
Ledakan peluru angin terjadi secara beruntun di sepanjang tubuh naga api itu dan membuat naga itu hancur berantakan.
ledakan itu menghasilkan hembusan angin dengan tekanan yang sangat kuat di sertai api yang merupakan bagian dari tubuh naga itu.
Nina yang melihat ledakan itu langsung menggunakan perisai api-nya untuk melindungi diri karena saat ini angin yang berhembus kencang itu sedang mengarah pada-nya, dan benar saja angin itu menghantam Nina dan naga api yang sedang bertarung dengan-nya.
Nina perlahan terseret oleh tekanan angin yang di sertai api itu, sementara naga api milik siswa dua langsung terhempas dan menabrak sebatang pohon hingga patah dan ambruk ke tanah.
bukan hanya Nina saja yang terkena dampak-nya. siswa dua yang saat ini tidak tahu tentang ledakan peluru angin juga ikut terhempas oleh tekanan angin itu dan langsung menabrak sebuah batu yang cukup besar.
Setelah tekanan angin dari ledakan itu berhenti, kini di tempat terjadi-nya ledakan itu di penuhi oleh kepulan asap sehingga tak ada yang dapat di lihat di sana.
Nina menoleh ke arah terjadi-nya ledakan itu dan ingin memastikan keadaan Madika.
perlahan asap tebal itu mulai lenyap. hingga akhir-nya kini terlihat sosok Madika yang masih berdiri dengan pose yang sama seperti sebelum-nya, dan tampak tubuh Madika di kelilingi oleh perisai angin yang ia ciptakan bersamaan saat ledakan itu terjadi.
Saat Nina melihat Madika baik-baik saja, ia langsung tersenyum. ada kebahagian sendiri bagi-nya saat melihat Madika dalam keadaan yang baik-baik saja. ia merasa kagum sekaligus senang melihat Madika yang tampak sangat kuat di mata-nya.
"Madika!" ucap Nina sedikit berteriak sambil mendekati Madika.
"apa kau tak apa-apa?" tanya Nina saat tiba di depan Madika.
Madika perlahan mengangkat tangan-nya dan meletakkan-nya di atas kepala Nina. lalu ia mengelus kepala Nina sambil tersenyum.
"harus-nya aku yang bertanya seperti itu karena teknik-ku barusan juga berdampak pada-mu." ucap Madika dengan nada yang ramah. "apa kau baik-baik saja?" tanya Madika mengabaikan pertanyaan Nina sebelum-nya.
"uhmm..." gumam Nina sambil mengangguk-kan kepala-nya. "aku baik-baik saja."
Setelah itu Madika melihat ke arah siswa dua yang saat ini tampak pingsan karena kepala-nya terbentur sangat keras dengan batu yang ada di belakang-nya.
__ADS_1
"kira-kira saat pingsan kesadaran kita akan berpindah ke tubuh asli atau tidak ya?" tanya Madika tanpa menoleh pada Nina.
"ehmm.... entah-lah.... aku juga tidak tahu." jawab Nina.
Kemudian Madika langsung melesat cepat ke arah siswa dua sambil mengayun-kan pedang-nya.
kini kepala siswa dua tampak menggelinding di tanah, dan darah terciprat ke mana-mana serta keluar bagai air mancur dari batang leher-nya.
"satu orang lagi telah kita kalah-kan." ucap Madika dengan tenang sambil mengibaskan pedang-nya untuk membersihkan sisa-sisa darah di pedang itu. lalu di masukan-nya kembali pedang itu ke sarung pedang-nya.
Setelah itu Madika menoleh ke sekeliling mereka. ia memastikan ke mana arah Niko dan Fany melawan siswa satu karena tadi kedua anggota Rega itu berpencar dan melakukan pertarungan dua lawan satu.
Setelah melakukan pendeteksian, kini Madika bisa merasakan keberadaan dua orang pengguna Saga. ia merasa yakin bahwa dua orang itu adalah Fany dan Niko.
"aku menemukan mereka." ucap Madika sambil menoleh ke arah Nina.
Madika mulai berjalan.
"ayo!" ajak Madika sambil berjalan ke arah Fany dan Niko.
"seperti-nya mereka berhasil mengalahkan orang itu." ucap Nina yang saat ini juga berhasil mendeteksi keberadaan mereka.
Setelah beberapa saat berjalan, kini mereka berdua langsung berpapasan dengan dua orang yang mereka deteksi.
namun kedua-nya terkejut karena dua orang itu bukanlah Fany dan Niko, melainkan Natalia dan Mindo.
"seperti-nya balas dendam-ku tidak membutuhkan waktu lama ya." ucap Mindo sambil berseringai licik menatap Madika dan Nina.
Mindo dan Natalia, dua kombinasi orang kuat ini sudah di pastikan akan membuat siapa pun lawan-nya akan kerepotan. bahkan hanya melawan mereka berdua-pun rasa-nya seolah melawan tiga pengguna Saga.
__ADS_1
Seperti biasa, Mindo selalu terlihat angkuh dan penuh percaya diri. sementara itu Natalia saat ini malah terlihat sangat serius. ia menatap Madika dengan tatapan tajam layak-nya singa yang sedang menargetkan mangsa-nya.
"Nina...." ucap Natalia dengan nada dingin dan dengan ekspresi datar yang tampak menakutkan.
Nina yang mendengar nama-nya di sebut oleh Natalia langsung terkejut. bulu kuduk-nya berdiri karena ia juga sebenar-nya menyimpan rasa takut pada Natalia meskipun Natalia itu adalah teman-nya sejak kecil.
"i.... iya." jawab Nina terbata-bata.
"pria itu tidak melakukan hal yang macam-macam kepada-mu kan?" tanya Natalia serius.
"a-aku baik-baik saja kok." jawab Nina dengan senyum hambar di wajah-nya.
Mendengar jawaban itu Natalia langsung menunduk-kan kepala-nya dan terlihat seolah tak mau menatap mata Nina secara langsung.
"ini sungguh di sayangkan karena kita bertemu sebagai musuh di tempat ini." ucap Natalia dengan nada suara yang datar.
Belum selesai Natalia berbicara, Madika sudah menebak apa maksud dari perkataan Natalia.
"sial@n!.... kenapa langsung bertemu dengan Natalia sih?!" batin Madika yang tampak sedikit kesal. "mana dia juga bersama Minto.... sudah jelas mereka lebih unggul.... parah-nya lagi Natalia itu sudah tahu tentang teknik-ku, dan dia yang sudah banyak pengalaman bertarung tentu-nya akan berusaha untuk mematahkan semua trik-ku dan melawan-ku dengan hati-hati.... bukti-nya saat ini dia terlihat waspada pada-ku.... tidak seperti pertarungan kami yang pertama.... saat itu dia meremehkan-ku dan itu lah kesalahan yang ia lakukan sehingga ia bisa lengah dan aku bisa memanfaat-kan kelengahan-nya itu untuk mengalahkan-nya.... tapi kali ini dia serius, dia tidak akan lengah! ini benar-benar parah.... aku harus cari car...."
"MADIKA!!"
Nina mendorong Madika sambil berteriak dan membuat Madika berhenti memikirkan hal-hal yang panjang lebar tentang Natalia.
~DUAR!!~
Sebuah ledakan terjadi. Madika terkejut melihat sebuah ledakan terjadi di tempat ia berdiri sebelum-nya. ia baru sadar bahwa saat ini diri-nya terjatuh di atas tanah bersama dengan Nina yang sebelum-nya mendorong Madika sehingga mereka jatuh bersama untuk menghindari serangan bola api Natalia.
"jangan melamun di saat seperti ini!" ucap Nina dengan tegas sambil berusaha bangun dari atas tubuh Madika karena diri-nya menindih tubuh Madika saat terjatuh.
__ADS_1