
Saat ini Madika sedang berdiri dan menatap Niverom tingkat Aono dengan ekspresi yang penuh intimidasi.
sementara itu si Niverom tingkat Aono kini hanya bisa memohon belas kasihan dari Madika yang saat ini di penuhi dengan amarah yang tidak terbendung.
"tolong jangan siksa aku lagi.... tolong segera-lah membunuh-ku.... aku tak sanggup lagi menahan siksaan ini." ucap Niverom itu dengan suara lirih karena sedang menahan rasa sakit yang teramat sangat.
"kau pikir kau punya hak untuk memohon di sini?" balas Madika dengan tatapan tajam dan penuh amarah.
Setelah Madika berkata seperti itu, madika pun langsung mengangkat tangan kanan-nya setinggi bahu.
lalu setelah itu ia mendorong tangan kanan-nya ke depan dengan posisi telapak tangan mengarah ke bawah.
Lalu dari bawah telapak tangan Madika kini muncul sebuah tangan yang lebih kecil lagi.
tangan itu terbentuk dari elemen angin sehingga dapat memanjang dan bersifat lentur sehingga bergerak zig-zag layak-nya seekor ular.
Setelah tangan angin itu muncul, kini tangan angin itu langsung bergerak cepat serta masuk ke dalam mulut si Niverom itu secara paksa.
tangan angin itu tampak masuk ke dalam mulut Niverom dan terus masuk hingga ke bagian usus dan lambung.
Niverom yang mengalami hal itu kini hanya bisa mengeluar-kan suara gumam yang terdengar seperti seorang yang sedang kesakitan.
karena memang Niverom itu saat ini benar-benar merasa kesakitan yang teramat sangat.
"kalau kau memang mau mati!.... maka matilah secara mengenaskan!" ucap Madika dengan tatapan tajam sambil mengepal-kan tangan kanan-nya seraya menarik-nya dengan cepat.
Seketika tangan angin yang masuk ke mulut Niverom itu langsung bergerak keluar.
namun saat keluar ternyata tangan itu sedang mencengkram usus si Niverom sehingga kini usus-usus Niverom itu di tarik keluar melalui mulut-nya.
mulai dari usus kecil hingga usus besar kini semua-nya keluar melalui mulut si Niverom karena tangan itu terus mencengkram usus-usus itu dengan kuat.
Hal itu pun kini membuat perut Niverom itu langsung kempes karena sudah tak ada isi lagi di dalam-nya.
hampir semua orangan tubuh Niverom itu berhasil di tarik keluar dari tubuh-nya.
__ADS_1
bahkan t@hi-t@hi-nya sekali-pun kini keluar bersamaan dengan usus-usus itu.
Natalia dan para siswa yang melihat hal mengerikan yang di lakukan oleh Madika itu kini langsung menutup mulut-nya karena merasa mual.
mereka tidak terbiasa melihat sebuah adegan yang sangat mengeri-kan seperti itu selama hidup mereka.
pemandangan yang mereka lihat kali ini adalah sebuah pemandangan yang sangat mengeri-kan dan pasti-nya akan berkesan dalam ingatan mereka.
Sementara itu, para Niverom lain-nya yang melihat hal itu kini jadi semakin ketakutan mengingat mereka juga akan segera mengalami hal yang sama dengan yang di alami oleh Niverom tingkat Aono itu.
Setelah mengakhiri hidup si Niverom tingkat Aono, kini Madika pun mengangkat kedua tangan-nya dengan cepat.
seketika dari kedua tangan-nya itu muncul sembilan tangan angin yang sama dengan yang ia gunakan untuk menarik keluar isi perut Niverom Aono.
Kini Madika pun langsung melesat-kan tangan angin-nya itu ke arah para Niverom.
saat tangan angin itu berada di hadapan para Niverom, kini para Niverom itu pun langsung ketakutan setengah mati.
namun ada juga yang mulai pasrah karena sadar apa pun yang terjadi ia pasti akan segera mati.
pandangan Madika seketika langsung kabur dan buram.
tidak hanya itu, dada Madika mendadak langsung sesak dan diri-nya seketika kesulitan untuk menarik nafas-nya.
Madika pun langsung tertunduk dan berlutut sambil memegangi dada-nya.
tak lama setelah itu ia pun langsung memuntah-kan darah dalam jumlah yang sangat banyak dari mulut-nya.
Kini Madika pun sudah mencapai batas penggunaan kekuatan tingkat legendaris milik-nya.
ia kini tak sanggup lagi untuk memaksa-kan diri karena rasa sakit yang ia terima kali ini jauh lebih sakit dan sudah berpotensi membahaya-kan nyawa-nya sendiri.
"sial!.... cuma bisa sampai di sini saja rupa-nya!" batin Madika sambil melempar pandangan-nya ke arah para Niverom yang masih tersisa.
"padahal aku masih kesal dan ingin menyiksa mereka semua!..... uhuk-uhuk!" ucap Madika sambil terbatuk dan mengeluar-kan darah saat batuk.
__ADS_1
Setelah berkata seperti itu, kini Madika pun langsung duduk bersila.
"sebaik-nya aku segera menyegel kembali kekuatan ini!" batin Madika.
Di sisi lain, Natalia dan kawan-kawan yang melihat Madika muntah darah kini langsung semakin khawatir pada kondisi tubuh Madika.
"Askila!.... cepat buka perisai ini!.... aku harus membantu Madika!" ucap Natalia yang tampak panik dan khawatir.
"dia seperti-nya terluka parah!.... kita harus melakukan sesuatu!" timpal Nina.
"tenang-lah dulu!.... biar-kan Madika memulih-kan tubuh-nya sebentar, setelah itu baru-kah kita ikut campur!.... percaya-kan saja semua-nya pada Madika." ucap Askila dengan tenang dan berusaha menenang-kan Natalia dan yang lain-nya.
"tuan!.... apa kau baik-baik saja?.... apa kau bisa segera menyegel kekuatan anda sekarang?" tanya Askila melalui telepati.
"ya aku masih bisa mengatasi hal ini.... tenang saja, meski-pun luka dalam yang ku alami cukup parah, tapi aku masih bisa bertahan setidak-nya sampai kekuatan legendaris ku berhasil tersegel." jawab Madika.
"kalau begitu tetap-lah berhati-hati tuan!" ucap Askila.
"ya." jawab Madika singkat sambil terus melanjut-kan penyegelan kekuatan tingkat legendaris milik-nya.
Di sisi lain, para Niverom yang kini sedang kesakitan dengan tubuh yang di penuhi dengan jarum angin kini mulai sedikit bernafas lega karena kekuatan dari aura tingkat legendaris itu kini sudah menghilang dan mereka tidak lagi di tekan oleh aura tersebut.
meski-pun demikian, karena sebelum-nya Madika sudah mematah-kan begitu banyak tulang yang ada di tubuh mereka, maka kini mereka pun hanya bisa berdiam diri saja di tempat itu sambil menunggu ajal mereka.
Setelah beberapa saat kemudian, kini Madika pun berhasil menyegel kekuatan tingkat legendaris milik-nya.
Setelah kekuatan tingkat legendaris Madika berhasil tersegel, kini Askila langsung membuka perisai petir milik-nya.
Saat perisai petir itu terbuka, tanpa berpikir panjang kini Natalia pun langsung berlari ke arah Madika sambil menetes-kan air mata.
setelah itu ia pun langsung memeluk Madika yang saat ini sedang duduk bersila.
ia memeluk Madika sambil menangis karena sebelum-nya ia berpikir Madika akan mati akibat dari penggunaan kekuatan yang tidak sepatut-nya.
Sementara itu, Madika kini hanya bisa tersenyum melihat Natalia yang saat ini langsung memeluk erat diri-nya.
__ADS_1
ia pun langsung membalas pelukan Natalia dan setelah itu langsung membelai rambut natalia dengan lembut.