
Madika dan Bunggu saat ini tampak sedang berdiri di depan gerbang utama klan petir.
Madika ingin masuk ke dalam klan itu, akan tetapi dirinya di tahan oleh dua pemuda yang bertugas menjaga gerbang tersebut.
Usia kedua pemuda itu sedikit lebih tua dari Madika dan mereka masih berada di tingkat Elite.
"Aku hanya ingin bertemu seseorang di dalam sana, tidak lebih daripada itu." Ucap Madika meminta izin untuk masuk ke dalam klan tersebut.
"Tidak bisa!... Jika memang ingin bertemu seseorang dari klan ini, maka seharusnya kau tahu nama orang itu dan sudah punya izin dari orang itu untuk datang ke tempat ini!" ucap salah satu pemuda itu dengan tegas.
"Maaf, tapi aku benar-benar lupa nama orang itu." Ucap Madika lagi. " Tapi tunggu dulu, biar ku ingat-ingat lagi." Ucapnya lagi sambil memegang dagu seperti sedang berpikir
"Ah... itu dia, aku ingin berziarah ke makam sahabatku Kinto!" Ucap Madika seolah sudah mengingat nama orang itu padahal ia hanya asal tebak karena sebelum Kindo datang menyerang dirinya, Kinto-lah yang pertama menyerang dan saat itu rekan Kinto sempat menyebutkan nama Kinto sehingga Madika pun bisa mengingat nama itu.
Mendengar nama Kinto, kini kedua pria itu pun sedikit mulai memberikan celah pada Madika.
"Begitu ya... Kenapa tak bilang dari tadi." Ucap salah satu penjaga itu.
Setelah itu ia langsung menyuruh temannya untuk mengantar Madika.
"Antar anak ini ke kediaman keluarga Kilaua, dan jangan sampai lengah mengawasi bocah ini karena bocah ini terlihat sangat mencurigakan di mataku!" Ucap pria itu sambil berbisik pada temannya yang ada di dekatnya saat ini.
"Oke." Jawab pria itu dengan patuh.
Lalu pria itu pun kini langsung mempersilahkan Madika untuk ikut dengannya.
"silahkan lewat sini." Ucap pria dengan sedikit sopan.
Tanpa banyak berpikir panjang, Madika pun langsung mengikuti pria itu dan masuk ke wilayah kekuasaan klan Petir.
Ketika Madika dan pria itu sudah berada di wilayah yang luas itu, kini mereka terus berjalan melewati banyak rumah yamg merupakan kediaman keluarga-keluarga yang ada dalam klan petir ini.
Sementara itu, saat mereka berjalan melewati arena latihan, tampak ada banyak pemuda seusia dengan Madika sedang berlatih.
Terlihat ada beberapa dari mereka sedang berlatih dengan cara berduel.
Sementara beberapa gadis yang sedang beristirahat sambil menonton duel itu kini langsung melirik Madika karena ketampanan Madika membuat mereka terpesona.
"Siapa pria itu?"
"Tampan sekali?"
__ADS_1
"Apa pria itu punya orang baru di klan?"
Banyak yang kini penasaran dengan kemunculan Madika.
Bukan hanya dari kalangan para gadis saja, tapi para pemuda lainnya juga mulai penasaran dengan Madika karena Madika tampak sangat asing bagi mereka.
"Siapa pria itu?"
"Entahlah, aku tak tahu dan aku tak mau tahu karena aku lebih suka tempe!"
"Hahaha kalau begitu ayo lanjut lagi!"
Kini kedua pria yang sempat mengobrol itu kembali bertarung.
Sementara itu, dari pemantauan Madika, anak-anak seusia dirinya yang ada di klan petir ini rupanya berisikan orang-orang berbakat yang sudah berada di tingkat Tinggi level menengah.
Padahal jika di lihat dari perkembangan orang biasa, kebanyakan orang di usia yang sama seperti Madika baru bisa mencapai tingkat atas level pertengahan.
Usia Madika saat ini masih 18 tahun, dan tentu Madika sendiri sudah termasuk orang yang di anggap paling berbakat di dunia ini karena di usia semuda itu sudah bisa mencapai tingkat Master level pertengahan.
Belum sempat Madika dan penjaga gerbang itu tiba di kediaman keluarga Kilaua, kini Kindo dengan sendirinya datang menghampiri Madika dan penjaga itu.
"Kindo, akhirnya kau ada di sini." Ucap si penjaga gerbang itu menyambut Kindo.
"Ada apa Yarbo?" Tanya Kindo singkat dan tenang.
"Ada seseorang yang mengaku sebagai sahabat adikmu... Katanya dia ingin berziarah ke makam adikmu." Ucap penjaga itu menjelaskan.
"Ohh... Di mana orang itu sekarang?" Tanya Kindo sambil mencoba melirik ke sekitarnya tanpa memutar kepalanya.
"Kau bicara apa?... Orang itu ada di belaka..."
Seketika pria penjaga itu langsung berhenti berbicara saat ia menoleh ke belakang dan tidak menemukan siapa-siapa di sana.
"Lah?... Tadi orang itu ada di sini!... sejak kapan ia menghilang?" Ucap pria itu dengan ekspresi yang mulai panik karena gagal mengawasi pergerakan Madika.
"Selamat ulang tahun!!" Teriak Madika yang kini sudah berada di belakang Kindo sambil menghantamkan tinju anginnya ke wajah Kindo yang langsung menoleh saat ia berteriak seperti itu.
~BRUAAAKK!!~
Wajah Kindo langsung terkena tinju yang sangat kuat.
__ADS_1
Ledakan angin muncul saat tinju itu membentur saja Kindo.
Kindo pun kini terhempas dengan sangat kuat serta menabrak sebuah tembok rumah hingga tembok itu langsung hancur berkeping-keping.
~DUARRR!!~
Suara berisik dari ledakan angin dan tembok yang hancur berhamburan itu kini membuat seluruh junior yang sedang berlatih langsung menoleh ke arah sumber suara tersebut.
"Apa yang terjadi di sana?!" Ucap satu dari mereka.
"Hei bukankah itu pria yang tadi?!" Timpal si gadis yang melihat Madika sedang berdiri dengan santainya menghadap ke arah Kindo yang saat ini tertimpa oleh reruntuhan tembok itu.
"Apa yang ka....!!"
Pria penjaga itu mulai meneriaki Madika, namun ucapannya tak sempat ia lanjutkan karena kini Madika telah menjatuhkan diri tepat ke arah bayangannya sendiri sehingga kini ia langsung masuk ke dalam bayangan itu.
"Kemana kau sialan?!" Bentak pria penjaga mengumpat Madika.
Namun tanpa ia sadari, Madika kini sudah berada di belakangnya dan langsung memukul leher pria itu dengan sangat kuat sehingga pria itu pun langsung pingsan begitu saja.
Saat tubuh pria itu akan terjatuh, Madika pun langsung menangkapnya lalu membaringkan pria itu dengan baik.
Melihat hal itu, seketika seluruh junior yang sebelumnya berlatih langsung melesat ke arah Madika dengan cepat.
Tak butuh waktu lama kini mereka semua sudah mengepung Madika.
Tampak mereka semua mengambil posisi di atas atap dan membuat formasi berbentuk lingkaran.
"Siapa kau?!... Apa tujuanmu?!" tanya salah satu dari mereka sembil mengibaskan pedang petir milik ya.
"Siapa aku tidak penting... Namun mengenai tujuan, aku ke mari hanya untuk mengurusi masalah dengan orang yang sudah mencoba membunuhku!" Jawab Madika dengan suara yang tegas.
~DUAAAARRR~
Sebuah ledakan energi di sertai sambaran petir yang kuat muncul tepat di tempat Kindo yang tertimbun oleh reruntuhan dinding.
Seketika itu juga seluruh reruntuhan dinding itu terhempas ke berbagai arah.
Kindo pun kini tampak sudah berdiri dan menatap Madika dengan penuh amarah.
"Diam kau bang$at!!... Kau sudah membunuh adikku dan sekarang kau berani-beraninya berkata seperti orang yang tak bersalah hah?!" bentak Kindo dengan wajah yang mulai berurat.
__ADS_1