
Saat ini Madika telah memberi-kan kepastian pada mereka semua bahwa ia akan pergi ke reruntuhan kuno itu apa pun yang terjadi.
"apa kau benar-benar yakin akan tetap ke sana Madika?" tanya Aurel.
"uhm.... aku akan ke sana!" jawab Madika dengan yakin.
"hei Madika, apa kau tidak berpikir kalau saat ini Aurel takut pergi ke sana?" tanya Elsi sambil memegang bahu Aurel. "sebaik-nya kau urung-kan saja niat-mu itu, lagi pula tempat itu pasti sudah di penuhi oleh orang-orang yang kuat, jika kau ke sana bisa-bisa itu akan membahaya-kan diri-mu dan Aurel juga." ucap Elsi memberi saran.
"ya!.... Elsi benar Madika!" timpal Dion sambil menepuk bahu Madika dan membenar-kan ucapan Elsi. "lanjut-nya, "sebaik-nya sekarang kalian cari tempat aman saja atau bahkan keluar dari tempat ini, dengan begitu kalian bisa lebih aman.... apa lagi di reruntuhan kuno itu pasti sudah ada klan petir, biar bagaimana pun aku yakin mereka pasti akan segera membunuh-mu karena sudah melukai salah satu pemuda berbakat mereka." ucap Dion yang juga ikut memberi saran pada Madika.
"tenang saja." jawab Madika dengan santai dan ekspresi datar. lanjut-nya, "Aurel, mulai saat ini kita berpisah di sini.... aku ingin kau mengikuti Elsi dan Dion, aku yakin bersama mereka kau tidak akan terjerumus dalam bahaya dan berbagai masalah.... jika kau terus bersama-ku, maka kau akan semakin terbawa dalam masalah yang ku buat." ucap Madika menyuruh Aurel untuk berhenti mengikuti-nya.
"hei Madika!.... kau tak boleh seperti itu.... seorang pria sejati tak boleh meninggal-kan seorang gadis sendirian!" ucap Elsi yang tampak sedikit kesal dengan sikap keras kepala Madika.
Namun Madika tak peduli dengan hal itu, dan kini Madika pun langsung beranjak dari tempat itu.
"maaf.... saat ini aku tak bisa menjadi pria sejati seperti yang kau ingin-kan." ucap Madika sambil berjalan melewati Aurel dan Elsi.
"hal itu karena kau tak akan bisa mengganti-kan dia yang sudah menemukan sosok pria sejati di dalam diri-ku." ucap Madika sambil mengingat kembali senyum manis di wajah Natalia serta berbagai kenangan yang ia miliki bersama dengan Natalia.
Setelah berkata seperti itu, kini Madika pun langsung keluar dari akar pohon raksasa itu tanpa mengucap-kan separah kata lagi.
Sementara itu Dion, Elsi, dan Aurel yang mendengar ucapan Madika kini hanya bisa terdiam, mereka tentu-nya tidak bodoh dan mereka sudah pasti bisa memahami apa maksud dari perkataan Madika tersebut. terutama saat Madika menyebut-kan kata 'dia'.
"seperti-nya bocah itu sudah punya seorang kekasih." ucap Dion.
"uhm.... kau benar." balas Elsi.
setelah itu Elsi pun langsung menoleh ke arah Aurel. "hei Aurel.... kau yang sabar ya.... laki-laki bukan hanya dia saja." ucap Elsi sambil menepuk pelan bahu Elsi.
__ADS_1
Aurel yang mendengar ucapan Elsi itu kini langsung melebar-kan senyum-nya.
namun senyuman itu sama sekali tidak ramah karena senyum-nya itu terkesan seperti seorang psikopat yang sedang merencana-kan sesuatu.
"tenang saja Elsi.... aku sama sekali tak menyimpan rasa cinta untuk-nya.... justru aku lebih banyak menyimpan kebencian pada pria itu!" ucap-nya dengan suara pelan yang hanya di dengar oleh Elsi yang berada di samping-nya.
Kini Aurel terus menatap tajam ke arah Madika yang semakin menjauh dari hadapan mereka.
sementara Elsi yang sebelum-nya mendengar ucapan Aurel kini hanya bisa menatap Aurel dengan pikiran yang di penuhi oleh tanda tanya tentang masalah yang di miliki oleh Aurel.
Sementara itu, Madika yang saat ini sudah berada di luar akar pohon raksasa itu kini langsung melompat ke salah satu dahan pohon terdekat, dan sesudah itu ia melanjutkan-nya ke pohon-pohon berikut-nya.
Madika kini langsung bergerak menuju ke reruntuhan kuno itu dengan kecepatan maksimal-nya.
Hampir di setiap jalan yang Madika lalui saat ini ia melihat ada beberapa kelompok kecil kupu-kupu yang beterbangan di bawah pepohonan yang ia lewati.
*******
Setelah satu setengah jam lebih Madika melakukan perjalanan, kini Madika pun tiba di reruntuhan kuno tersebut.
namun di depan reruntuhan kuno itu saat ini tampak sangat sepi dan tak ada satu pun orang di sana.
"apa aku sudah terlambat?" ucap Madika dalam hati.
Lalu Madika pun mulai melihat sekeliling-nya.
saat ini ia sekali lagi melihat ada sekelompok kecil kupu-kupu yang sedang beterbangan di sekitar puing satu reruntuhan kuno itu.
Madika yang melihat hal itu tetap mengabaikan-nya dan langsung mencari ruang bawah tanah yang sering di bicara-kan oleh orang-orang itu.
__ADS_1
"hah.... kenapa akhir-akhir ini aku sering bertemu dengan kupu-kupu?" ucap Madika bertanya-tanya dalam hati.
Tak butuh waktu yang sangat lama, kini Madika pun menemukan sebuah tangga yang menuju ke bawah tanah.
Madika yang melihat hal itu kini langsung memutus-kan untuk turun ke sana dan mencari tahu apa yang ada di bawah sana.
"mungkin saja ini tempat-nya!" ucap Madika yang kemudian langsung berjalan menuruni anak tangga tersebut.
Saat Madika mulai turun ke bawah, tiba-tiba kristal yang ada di dinding ruangan itu langsung menyala dan memancar-kan cahaya yang cukup terang, dan karena kristal itu jumlah-nya sangat banyak dan tersebar di berbagai tempat, maka kristal itu pun membuat seluruh ruangan yang ada di ruang bawah tanah itu menjadi sangat terang dan jelas.
"tempat ini bahkan punya kristal penerang yang sangat luar biasa." ucap Madika dalam hati.
Setelah itu Madika punya terus berjalan hingga akhir-nya ia pun tiba di tempat sebuah tongkat yang tertancap di atas batu.
"ohh.... jadi tongkat ini yang di rumor-kan itu?." ucap Madika sambil mendekati tongkat itu.
Lalu Madika pun mengeluar-kan tongkat kaisar rotan api milik-nya dari ruang penyimpanan-nya.
"ini benar-benar imitasi...." ucap Madika ketika melihat bahwa tongkat yang tertancap di batu itu sama sekali tidak merespon tongkat kaisar rotan api milik Madika. lanjut-nya, "namun meski-pun ini imitasi, tapi ternyata dia benar-benar bisa memancar-kan aura yang mirip benda pusaka.... pantas saja sebelum-nya banyak yang mengira kalau ini memang sebuah pusaka yang asli."
Setela itu Madika pun langsung mencari pintu yang kata-nya di segel itu.
namun pada akhir-nya ia hanya bisa menemukan pintu itu sudah dalam keadaan terbuka.
"hah.... seperti-nya aku benar-benar sudah terlambat." ucap Madika yang tampak sedikit lesu. lanjut-nya, "tapi tak apa lah.... inti-nya sekarang aku harus mencari apa yang harus ku cari!"
Setelah berkata seperti itu, Madika pun langsung melangkah-kan kaki-nya dan masuk ke dalam ruangan itu.
"ini dia.... petualangan baru-ku segera di mulai!" ucap Madika dengan wajah yang tampak bersemangat serta sedikit senyum terukir di bibir-nya.
__ADS_1