Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Cerita Emi


__ADS_3

Saat ini Madika telah selesai mengobati luka gadis itu dan langsung memasang perban-nya.


"baik-lah.... sudah selesai." ucap Madika sambil mundur sedikit dari gadis itu.


Gadis itu pun kini menoleh ke arah Madika tanpa memutar tubuh-nya.


"terima kasih sudah mengobati luka-ku." ucap gadis itu yang terlihat sedikit tidak bersemangat dan lemas.


"uhmm..." Madika hanya bergumam sambil mengangguk.


lalu Madika kembali berbicara. "apa kau punya baju cadangan?" tanya Madika karena saat ini Madika punya beberapa baju cadangan yang bisa ia beri-kan pada gadis itu.


Gadis itu tidak menjawab pertanyaan Madika. namun ia langsung menggeleng pelan.


ia kemudian melihat ke arah baju-nya yang sudah sobek itu.


ia kemudian meraih baju itu.


"aku akan tetap pakai ini saja." ucap gadis itu dengan ekspresi yang terlihat sedu.


Mendengar jawaban gadis itu, kini Madika pun langsung mengeluar-kan baju serta sebuah jubah hitam milik-nya dari ruang penyimpanan.


"ini untuk-mu." ucap Madika sambil menyodor-kan baju serta jubah milik-nya pada gadis itu.


Gadis itu tampak memperhati-kan pakaian yang di sodor-kan Madika pada-nya.


ia tampak ragu untuk menerima pakaian itu.


"tidak perlu." jawab gadis itu sambil memaling-kan wajah-nya dari pakaian yang di sodor-kan Madika.


"aku tidak ingin membuat-mu repot lebih dari ini." jawab gadis itu dengan suara pelan namun bisa terdengar oleh Madika.


Madika tersenyum.


"kau tak perlu berpikir seperti itu, cepat gunakan saja!.... lagi pula aku masih punya beberapa." ucap Madika dengan enteng-nya.


Mendengar ucapan Madika, gadis itu pun kini berubah pikiran dan akhir-nya ia pun menerima pakaian itu dari Madika.


"bisa kau berbalik sebentar?" ucap gadis itu sambil meraih pakaian yang ada di tangan Madika.


Madika pun langsung memahami maksud gadis itu.


ia kemudian berbalik badan dan membelakangi gadis itu.


"tolong jangan mengintip ke sini." ucap gadis itu yang kemudian berdiri dan langsung mengenakan pakaian yang di beri-kan oleh Madika pada-nya.

__ADS_1


Sementara itu, saat gadis itu sedang mengganti, pakaian-nya, Madika yang saat ini menghadap ke arah lain kini sudah tidak mendengar kegaduhan lagi di luar tenda.


"hmm..... seperti-nya Askila sudah menyelesai-kan tugas-nya." ucap Madika dalam hati.


"kau boleh berbalik sekarang."


Suara gadis itu terdengar di telinga Madika.


Madika pun langsung membalik-kan badan-nya dan melihat sosok gadis yang terbungkus oleh pakaian milik-nya.


Madika tiba-tiba ingin tertawa melihat gadis itu, pasal-nya baju Madika yang ia kenakan terlalu besar di tubuh-nya, dan di tambah lagi ia juga mengenakan jubah yang di berikan Madika.


Namun Madika menahan tawa-nya karena memang gadis itu memiliki tubuh yang lebih pendek dari diri-nya.


Madika kemudian menepuk kasur di sebelah-nya.


"duduk-lah di sini." ucap Madika sambil tersenyum ramah.


Gadis itu hanya diam saja. ia tampak sedikit ragu untuk duduk di samping Madika.


namun ia tetap memaksa-kan diri untuk mengikuti keinginan Madika dan kini ia pun berjalan pelan ke ranjang itu.


"siapa nama-mu?" tanya Madika saat gadis itu duduk di samping-nya.


"nama-ku EMI, EMI Silia." jawab gadis itu dengan suara lirih.


Setelah saling memperkenal-kan diri, kini Madika mulai mencoba mengajak gadis itu berbicara sambil mencari tahu apa yang sebenar-nya terjadi pada gadis itu.


Gadis itu pun mulai menjelas-kan semua yang terjadi hingga ia bisa tiba ke tempat Madika saat ini.


Berdasar-kan cerita gadis itu, awal-nya dia datang ke hutan ini untuk mencari pesanan dari klien mereka yang meminta untuk di cari-kan beberapa kristal energi.


Ia datang bersama beberapa ksatria Saga lain-nya.


jumlah mereka ada lima orang secara keseluruhan.


Awal-nya semua berjalan lancar, mereka semua bisa dengan mudah mendapat-kan kristal energi dari beberapa hewan monster tingkat Rookie.


namun, semua-nya berubah ketika seekor laba-laba tingkat veteran itu datang.


Awal-nya, mereka berlima berhasil membuat laba-laba raksasa itu terdesak hingga akhir-nya laba-laba raksasa itu mencoba untuk kabur.


Begitu-lah pikir mereka.


mereka yang mengira laba-laba itu akan kabur kini langsung mengejar laba-laba itu karena akan sayang sekali jika hewan itu tidak mereka tangkap. karena pada dasar-nya harga jual hewan tingkat veteran tentu-nya lebih tinggi ketimbang harga jual dari kristal energi dari hewan monster tingkat Rookie.

__ADS_1


Namun, saat mereka dengan penuh semangat mengejar laba-laba yang kabur itu, mereka pun lengah dan akhir-nya jatuh ke perangkap laba-laba itu.


Kini keempat teman EMI itu terjerat di sarang laba-laba yang penuh dengan benang api.


dan tanpa ampun laba-laba itu pun langsung memakan ke empat teman EMI di depan mata EMI secara langsung.


Keempat teman EMI pun kini langsung menyuruh EMI untuk kabur dan tidak perlu mempeduli-kan mereka.


Sementara si laba-laba raksasa yang melihat hal itu kini langsung membungkus keempat teman EMI mengguna-kan benang-nya.


setelah itu dengan buru-buru laba-laba itu mengejar sambil menyerang EMI mengguna-kan benang tajam milik-nya.


Dari benang tajam itu-lah EMI mengalami luka yang kini telah di obati oleh Madika.


Begitu-lah rangkuman cerita yang di alami EMI hingga tiba di tempat Madika.


"jadi apa rencana-mu sekarang?" tanya Madika.


"aku ingin terlebih dahulu untuk memberitahu-kan kejadian ini." ucap EMI yang kini terlihat bersedih, bahkan air mata-nya kini mengalir cukup deras.


"tidak ku sangka gadis ini ternyata telah mengalami hal buruk sebelum tiba di sini." ucap Madika dalam hati.


Madika merasa sedikit bersimpati mendengar cerita dari gadis itu.


"biar ku temani kau pulang." ucap Madika menawar-kan diri karena menurut Madika perjalanan yang harus ia lalui saat ini bukan hanya melakukan pencarian di dalam hutan saja, ia juga harus mengunjungi kota atau bahkan desa-desa tertentu untuk mencari keberadaan pecahan tongkat kaisar rotan api milik-nya.


Saat Madika menawar-kan diri, kini EMI menoleh ke arah Madika.


"apa kau punya urusan di kota Kayau?" tanya EMI.


Madika menggeleng-kan kepala-nya.


"aku tak punya urusan tertentu di sana, hanya saja aku ini kan sedang berkelana mencari sesuatu yang sulit di temu-kan, jadi mau tidak mau aku harus mengunjungi berbagai tempat." jawab Madika.


EMI memahami maksud perkataan Madika, jadi ia pun hanya mengangguk paham.


"terserah kau saja." ucap EMI yang kemudian langsung menjatuh-kan kepala-nya ke bantal yang ada di ranjang itu.


Saat ini EMI tidak sadar kalau diri-nya sudah tidak terlalu waspada lagi pada Madika.


Melihat hal itu, Madika pun langsung bertanya.


"apa kau sudah mau tidur?"


EMI seketika terkejut karena diri-nya sendiri tidak sadar kalau saat ini ia sedang bersama Madika.

__ADS_1


entah mengapa tadi ia tiba-tiba merasa seolah biasa-biasa saja meski-pun ada Madika di samping-nya. padahal sebelum-sebelumnya ia enggan bertindak seperti itu.


Madika yang melihat hal itu kini hanya bisa tersenyum ramah menatap EMI yang kini langsung duduk tegak sambil membuang pandangan-nya dari Madika.


__ADS_2