Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Menghadapi Siwu


__ADS_3

Saat ini gadis kaya yang sebelum-nya telah pergi dan pria yang menjaga senjata energi yang di jual itu kini mengantar Madika untuk melakukan pembayaran.


Setelah Madika membayar pecahan tongkat kaisar rotan api itu, kini Madika pun langsung keluar dari toko yang sangat besar itu dengan raut wajah yang tampak puas dengan apa yang ia dapat-kan hari ini.


"aku benar-benar beruntung karena mengikuti Emi ke kota ini." ucap Madika dalam hati.


Setelah itu Madika pun mulai berjalan-jalan di kota tersebut.


ia saat ini belum berniat untuk menyatu-kan kedua pecahan tongkat-nya, ia berniat akan menyatukan-nya jika ia sudah keluar dari kota ini.


Saat ini Madika sedang berjalan-jalan di kota sambil menikmati suasana kota Kayau itu.


tak lupa juga ia singgah di beberapa tempat untuk mencicipi rasa jajanan yang ada di kota itu.


Setelah diri-nya merasa lapar, kini ia pun singgah untuk makan siang di sebuah rumah makan yang cukup besar dan mewah.


Setelah selesai makan, kini Madika langsung keluar.


ia berniat untuk mengelilingi kota ini seharian dan kemudian bermalam di kota ini.


"mungkin sebaik-nya aku mencari rumah penginapan sambil berjalan-jalan di kota ini." batin Madika.


Di sisi lain, Madika yang saat ini sedang berjalan-jalan menikmati suasana kota tampak di buntuti oleh beberapa orang-orang yang mencuriga-kan.


Orang-orang itu tampak-nya sedang memata-matai Madika.


namun sayang-nya Madika sudah menyadari keberadaan mereka sejak tadi.


lebih tepat-nya, Madika sudah merasa-kan keberadaan mereka sejak Madika keluar dari toko penjualan senjata energi yang ia kunjungi sebelum-nya.


Madika kini hanya tersenyum tipis karena para penguntit itu seperti-nya mengira ia tidak menyadari keberadaan mereka.


"dasar bod0h." batin Madika. "apa mereka tak bisa lebih baik lagi saat memata-matai seseorang?" batin Madika.


******


Akhir-nya malam pun telah tiba.


Madika saat ini berjalan di sebuah gang sempit yang sangat sunyi.


tidak ada siapa-pun di tempat itu. hanya diri-nya seorang saja yang berjalan dengan santai-nya menyusuri gang sempit itu.


Keberadaan Madika di gang sempit ini sebenar-nya sudah dalam rencana-nya.


Madika saat ini berencana untuk memancing orang-orang itu untuk melihat tujuan mereka terhadap Madika.


Hal itu Madika lakukan karena diri-nya tidak serta-merta menyimpul-kan bahwa orang ini memata-matai diri-nya karena ingin membunuh diri-nya atau semacam-nya.

__ADS_1


Mungkin saja orang-orang ini punya tujuan lain.


karena itulah Madika datang ke tempat sunyi ini untuk membukti-kan apa-kah orang-orang ini berniat membunuh-nya atau hanya sekedar menyelidiki diri-nya.


Tak lama setelah itu, kini di hadapan Madika tampak ada tiga pria menghalangi jalan Madika.


Dua pria berdiri di tengah-tengah jalan sambil menatap Madika, sementara satu pria tampak bersandar di dinding sambil memain-kan sebuah belati di tangan kanan-nya dengan berbagai variasi gerakan.


Madika hanya diam saja melihat hal itu.


ia tetap berjalan maju.


kini Madika pun berjalan tepat di samping kedua pria yang sedang berdiri itu.


Madika berjalan dengan santai dan biasa-biasa saja.


diri-nya terlihat seperti tidak menganggap orang-orang itu sebagai ancaman.


ia berjalan melewati mereka tanpa menoleh sedikit-pun ke arah mereka.


"hoi bocah!" ucap salah satu pria yang sedang berdiri tegak itu sambil menoleh ke belakang karena Madika telah berjalan melewati mereka.


Baru saja pria itu menoleh, tiba-tiba sebuah tinju yang di perkuat dengan elemen angin langsung mendarat di wajah pria itu dan mencipta-kan sebuah ledakan kecil saat tinju itu menghantam wajah pria itu.


Pria itu pun langsung terhempas sangat jauh hingga ia langsung keluar dari gang sempit itu dan menghantam sebuah tiang lampu yang ada di seberang jalan dan membuat tiang itu bengkok.


ia tak menyangka Madika akan bergerak secepat itu.


Pria itu kemudian langsung memuncul-kan sebuah pedang petir di tangan kanan-nya dan dengan segera menebas Madika mengguna-kan pedang tersebut.


Madika pun langsung melompat ke belakang menghindari tebasan pedang petir itu.


Sementara itu, pria yang sebelum-nya hanya bersandar itu kini langsung berdiri melurus-kan tubuh-nya.


"bocah sial@n!, aku tak sempat melihat pergerakan-nya!" ucap pria itu dengan ekspresi kesal sambil pasang kuda-kuda bertarung.


Sementara itu, saat ini di belakang Madika muncul dua pria lain-nya yang tampak-nya mereka semua adalah komplotan.


Kini Madika pun terkepung oleh mereka.


namun, bukan-nya takut, Madika malah tersenyum seperti seorang psikopat saat melihat hal itu.


"hei bocah, kau benar-benar kurang beruntung hari ini karena sudah menyinggung tuan muda kami." ucap pria yang sebelum-nya bersandar di dinding itu.


"tuan muda kalian?" ucap Madika dengan ekspresi agak bingung.


"hmpp.... kau tidak perlu tahu tentang tuan muda kami, lagi pula malam ini kau akan segera mati, jadi percuma saja menanya-kan hal itu." ucap pria itu dengan percaya diri dan tampak meremeh-kan Madika.

__ADS_1


Madika hanya diam mendengar ucapan pria itu.


sementara pria yang sebelum-nya di pukuli Madika kini kembali dan bergabung dengan pria yang bersandar itu.


Pria yang bersandar di dinding sebelum-nya bernama Siwu, dan dia merupa-kan yang terkuat di antara mereka berlima.


Kini Siwu pun langsung menghentak-kan tubuh-nya dan seketika aura Saga yang menekan langsung menyebar.


Siswi sedang mencoba menekan Madika mengguna-kan aura Saga milik-nya.


Sementara itu, Madika yang bisa merasa-kan aura tersebut kini tahu berapa tingkatan Siwu.


"ternyata orang ini juga berada di tingkat Elite." ucap Madika dalam hati saat diri-nya merasa-kan tekanan yang tidak terlalu kuat mengenai diri-nya.


Di sisi lain, Siwu yang sejak awal sangat percaya diri dan yakin bahwa Madika akan tertekan kuat oleh aura Saga-nya kini terkejut karena Madika saat ini tampak seolah tidak menerima efek dari tekanan aura Saga milik-nya.


"ba-bagaimana bisa?" batin Siwu yang tampak terkejut.


Sementara itu, teman-teman Siwu langsung bertanya-tanya.


"Siwu, apa yang terjadi?"


"kenapa kau kelihatan terkejut begitu?"


tanya kedua teman Siwu yang berdiri di samping-nya.


"bocah itu sama sekali tidak merasa-kan efek tekanan aura saga-ku!" jawab Siwu.


"hahahaha."


Madika kini tertawa dengan ekspresi yang terlihat sedikit mengejek.


"kau pikir dengan berada di tingkat elite maka kau bisa memiliki kemampuan untuk menekan seseorang mengguna-kan energi-mu dengan maksimal?.... jangan bercanda!"


Siwu langsung terlihat kesal mendengar ucapan Madika barusan karena ia merasa di rendah-kan oleh Madika.


"diam kau bocah sial@n!" bentak Siwu dengan kesal-nya.


Madika tidak mempeduli-kan kekesalan Siwu terhadap diri-nya.


ia kemudian tersenyum dengan ekspresi jahat ke arah Siwu dan kedua teman-nya.


"biar ku tunjuk-kan cara mengguna-kan aura Saga dengan benar!" ucap Madika dengan suara dingin namun terdengar menakut-kan.


Lalu Madika pun langsung menghentak-kan tubuh-nya.


seketika aura Saga Madika langsung menyebar dan membuat Siwu beserta keempat teman-nya langsung menerima tekanan yang sangat kuat.

__ADS_1


__ADS_2