
Kini hari pun berlalu dengan cepat, dan hari di mana Liga dan para rekan-nya serta keluarga Nakawao yang di anggap bekerjasama dengan Liga kini akan di eksekusi mati hari ini.
Berdasar-kan jadwal-nya, eksekusi mati hari ini akan di langsung-kan sekitar pukul 10 pagi hari, dan dalam eksekusi mati itu para masyarakat di seluruh kota Kayau di undang untuk menyaksi-kan langsung penghakiman terhadap mereka yang melakukan pemberontakan di wilayah kekuasaan keluarga Nemosu.
Karu sudah merencana-kan hal ini sejak awal.
ia berpikir jika eksekusi hari ini berjalan lancar, maka hal ini akan menjadi percontohan bagi yang lain-nya yang memiliki niat yang sama dengan Liga, yaitu mengguling-kan kepemimpinan Karu.
Dengan intimidasi dari eksekusi ini, Karu pun berharap penuh agar semua yang menentang-nya langsung takut dan tak berani menyentuh kekuasaan-nya lagi.
Sementara itu, saat ini suasana pagi yang masih sangat sepi tampak Madika sedang menerima surat balasan melalui burung peliharaan-nya yang ia kirim kemarin.
"tidak ku sangka burung ini bisa terbang sangat jauh hanya dalam waktu sehari semalam." ucap Madika dalam hati yang kagum terhadap kemampuan terbang burung itu.
"bagaimana kabar-mu Jack?" tanya Madika sambil menoleh ke arah Jack yang sedang bertengger di bahu kiri-nya.
Note: burung itu Madika namai Jack.
"aku baik-baik saja tuan, tidak ada kendala apa-pun dalam perjalanan." jawab Jack dengan nada sopan pada Madika.
"bagus-lah kalau begitu." balas Madika yang kemudian langsung membuka isi gulungan yang sebelum-nya di selip-kan di tubuh Jack.
Saat Madika membuka isi gulungan itu dan membaca-nya dengan seksama, kini tampak terukir senyum puas di wajah Madika.
Entah apa isi dari gulungan surat itu tidak ada yang tahu sampai tiba waktu-nya ia akan mengungkap-kan isi gulungan itu.
"baiklah, mari kita lihat kelanjutan dari semua drama ini.... Karu." ucap Madika sambil tersenyum licik saat menyebut-kan nama Karu.
********
Beberapa saat sebelum Liga dan para rekan-nya akan di eksekusi mati.
Saat ini, di sebuah penjara bawah tanah yang gelap tampak liga dan beberapa orang lain-nya sedang di tahan di dalam jeruji besi.
__ADS_1
Mereka di tempat-kan di beberapa sel tahanan yang berbeda-beda namun saling bersebelahan.
hal itu membuat mereka masih bisa mengobrol satu dengan yang lain-nya.
"aku benar-benar membenci bocah itu." ucap Jos yang masih belum melupakan kebencian-nya pada Madika yang menurut-nya sudah mengkhianati mereka.
"kau benar Jos, aku juga merasa-kan hal yang sama dengan-mu." timpal seorang pria lain-nya yang berada di sel sebelah-nya.
"padahal semalam kita sudah berusaha keras untuk membalas dendam!... tapi kenapa dia malah jauh lebih unggul dari kita?!.... siapa sebenar-nya bocah itu!" sambung seorang wanita di sel yang bersebelahan dengan pria sebelum-nya.
"sejak awal aku sudah menduga kalau bocah itu memiliki kemampuan yang menarik." timpal Liga menjawab ucapan wanita yang sebelum-nya.
lanjut-nya. "hanya saja aku sama sekali tak menduga kalau bocah itu kini justru membelot kita dan menjadi-kan kita sebagai tumbal untuk diri-nya bisa kabur dari kejaran keluarga Nemosu."
Sementara ke empat orang itu terus berbicara, ayah Nia yang tidak ikut dalam pertempuran mereka kini hanya bisa menjadi pendengar sambil menghela nafas karena diri-nya juga merasa bersimpati atas apa yang terjadi di dalam kelompok yang di buat oleh Liga itu.
"seperti-nya perjalanan kita hanya akan berakhir sampai di sini saja." ucap ayah Nia yang mulai buka suara juga.
"hah...." Liga menghela nafas lemas. "kau benar!.... padahal ku pikir aku masih akan bisa menikmati hari-hari menyenang-kan setelah membantai keluarga Nemosu, namun kenyataan-nya tidak seindah itu." ucap Liga menimpali perkataan Tago, ayah dari Nia itu.
Baru saja Liga berkata seperti itu, kini mereka di ruangan penjara bawah tanah itu pun tiba-tiba mendengar suara tawa yang menggema di dalam ruangan yang sedikit tertutup itu.
Suara tawa itu terdengar terus mendekat ke arah Liga dan yang lain-nya.
namun dari suara tawa itu Liga merasa sedikit ada yang aneh karena suara itu terdengar sangat familiar di telinga-nya.
ia mengkerut-kan kening-nya dan seolah sedang berpikir dan berusaha menebak siapa sebenar-nya orang yang sedang tertawa terbahak-bahak itu.
Tak lama setelah itu, kini dari kegelapan itu tampak seorang pria berjalan mendekati sel.
di sel itu hanya terdapat satu obor yang menerangi mereka sehingga tempat di sekitar mereka masih terlihat begitu gelap.
Hingga akhir-nya pria yang tertawa terbahak-bahak itu pun tiba di hadapan Liga dan yang lain-nya.
__ADS_1
Seketika Liga dan rekan-rekannya itu pun langsung terkejut dan langsung membelalak-kan mata saat melihat sosok pria itu.
"Si..... Sigo?!" ucap mereka dengan ekspresi tidak percaya sekaligus terkejut dan terheran-heran.
"apa yang sebenar-nya terjadi pada-mu?!.... bukan-kah harus-nya kau sudah di binasa-kan oleh para ksatria penjaga itu?!" ucap Jos yang terlihat bingung dengan situasi yang mereka hadapi saat ini.
"Sigo.... apa maksud-nya semua ini?!" tanya Liga mendesak.
"yang lebih penting lagi aku ingin tahu apa maksud dari tertawaan-mu barusan?!.... kenapa kau tertawa seperti itu?!" ucap Tago bertanya-tanya dan mulai mencurigai Sigo.
"hahahaha..... hahahaha..... huaahahhahaa...."
Sigo semakin tertawa terbahak-bahak sampai-sampai ekspresi jahat-nya perlahan terukir di wajah-nya.
Seketika suasana pun terasa berubah dan jadi sedikit mencekam.
mereka semua kini mendapat-kan bayangan tentang masalah ini hanya dengan melihat ekspresi dan tingkah Sigo saat ini.
"oi Sigo.... jangan-jangan kau...." ucapan Liga sengaja di gantung-kan.
liga sedang mencoba menerka apa yang sebenar-nya terjadi.
dia mencoba untuk mempercayai pandangan-nya saat ini karena saat ini ia merasa bahwa Sigo-lah dalang di balik pengkhianatan ini.
Namun karena Liga sangat mempercayai Sigo, ia pun tak bisa mengatakan-nya langsung begitu saja.
ia kini hanya bisa menatap Sigo dengan ekspresi tidak percaya sambil terus menganga tanpa melanjut-kan ucapan-nya barusan.
Sementara itu, Sigo yang melihat ekspresi menggelikan dari orang yang sudah mempercayai-nya itu kini hanya bisa tertawa kecil.
Tawa kecil itu kemudian perlahan-lahan semakin keras dan makin menggelegar.
hingga akhir-nya Sigo pun berhenti tertawa dan mulai membongkar semua rahasia tentang diri-nya.
__ADS_1
"hahahaha.... asal kalian tau ya.... kalian itu semua hanyalah orang-orang bodoh yang sangat mudah ku manfaat-kan!" ucap Sigo.
Mendengar pernyataan itu, kini mereka semua pun langsung yakin kalau Sigo-lah pengkhianat yang sebenar-nya.