Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Di Keroyok (3)


__ADS_3

Begitu Madika berhasil membuat tiga orang pemuda sudah tak berkutik dan hilang kesadaran, kini hanya tersisa dua pemuda yang juga sudah babak belur.


"Sialan!... Kita sama sekali tak di beri kesempatan untuk menyiapkan jurus terkuat kita!" Ucap salah satu pemuda itu yang kini mulai mengeluh.


"Kau benar!... Bocah ini benar-benar seperti monster saja!... kekuatannya benar-benar sangat curang!" Timpal pemuda yang satunya.


Setelah itu, kini Jinjo pun langsung mendarat tepat di depan kedua pemuda itu.


Saat Jinjo mendarat, seketika terjadi ledakan petir di tempat pendaratan Jinjo.


Ledakan itu membuat tanah hancur dan debu tanah itu langsung beterbangan di udara bagaikan kepulan asap tebal.


Setelah kepulan debu bagaikan asap itu lenyap di tiup angin, kini Jinjo pun dapat terlihat.


Ia sedang berdiri tegak menghadap ke arah Madika dan membelakangi kedua pemuda lainnya.


"Tidak ku sangka kalian bisa kalah semudah ini melawan bocah itu!" Ucap Jinjo dengan ekspresi datar dan tenang sambil menoleh ke belakang tanpa memutar tubuhnya.


"Tchi!... Kau hanya banyak bicara saja!... Padahal sama sekali tak membantu!" Ucap pemuda yang satu menanggapi dengan kesal.


"Kenapa kau turun ke sini hah?!... Apa kau mau mengambil keuntungan lagi setelah musuh sudah di buat kelelahan hah?!" Bentak pemuda lainnya yang juga terlihat kesal.


"Hah?!... Kelelahan? Apa kau lihat bocah itu sedang kelelahan hah?!" Ucap Jinjo dengan ekspresi mengejek sambil menunjuk Madika yang tampak baik-baik saja.


"Tchi... Dari tadi mereka terus memanggilku bocah... Padahal aku ini sudah bukan bocah lagi!" Ucap Madika dalam hati sambil menatap mereka dengan malas.


"Hei bocah!!" Teriak Jinjo sambil menunjuk Madika.


"Tersanjunglah!! Karena aku yang terkuat ini akan menjadi lawan-mu!!... Ini adalah sebuah kehormatan bagimu!!" Teriak Jinjo dengan sangat angkuh dan percaya diri.


"Uhhhyyyy... Mengerikan... Sombongnya luar binasa..." Ucap Madika dalam hati dan terus menatap mereka dengan ekspresi malas.


"Ya sudahlah... Sebaiknya kau beri pelajaran saja pada pria itu!" Ucap Madika lagi dalam hati.


Lalu Madika pun langsung menggunakan jurus berpindah cepat.


Ia langsung menghilang begitu saja dari tempat ia berdiri.


Hal itu pun membuat Jinjo dengan reflek memutar tubuhnya ke arah belakang sambil memunculkan pedang di tangannya untuk menebas Madika.


"Trik yang sama tidak akan berpengaruh padaku!!" Teriak Jinjo sambil menebas ke belakang.

__ADS_1


Namun tebasan Jinjo sama sekali tidak mengenai apa-apa karena ternyata Madika tidak ada di belakangnya.


Hal itu pun membuat kedua pemuda yang ada di belakang Jinjo kini hanya menatap Jinjo dengan ekspresi malas sambil berkata;


"Dasar payah." Ucap kedua pemuda itu dengan serentak.


"Diam kalian sialan!" Bentak Jinjo memarahi kedua pria itu.


"Payah." Ucap Madika yang saat ini menatap Jinjo dari bawah karena yang keluar dari bayangan hanya kepalanya saja.


"Kau juga diam saja sialan!" Bentak Jinjo sambil mencoba menusuk kepala Madika menggunakan pedangnya.


Namun dengan cepat Madika menarik kaki pria itu dan membawanya masuk ke dalam dimensi bayangan miliknya.


"Sialaaaann!!" Teriak pria itu ketika tubuhnya jatuh begitu saja layaknya jatuh ke dalam air.


Begitu Jinjo berada dalam dimensi bayangan milik Madika, kini Jinjo pun melihat Madika yang saat ini berada sekitar sepuluh meter di depannya.


"Sialan kau!... Akan ku bunuh kau kali ini!" Ucap Jinjo dengan emosi yang makin menjadi.


Lalu Jinjo pun langsung mencoba menggunakan salah satu jurus terkuatnya.


Lalu ia mengalirkan energi Saganya ke pedang miliknya, dan seketika itu juga pedangnya langsung memancarkan sinar yang cukup terang, dan tampak sangat banyak petir yang menyelimuti pedang tersebut.


Madika yang melihat hal itu kini hanya tersenyum dengan ekspresi mengejek.


Sementara si Jinjo kini terlihat semakin kesal dan sudah sudah sangat ingin membunuh Madika.


"Terima seranganku ini sialan!" Bentak Jinjo dan mencoba untuk menyerang.


Namun tiba-tiba Madika sudah di belakang Jinjo dan langsung menusuk jantung Jinjo dari belakang.


Jinjo pun terkejut, dan tampak pedangnya kini langsung memudar.


Tatapan matanya mulai kosong karena jantungnya yang langsung berhenti tertembus oleh pedang.


Lalu Diego pun langsung menebaskan pedangnya yang masih tertancap itu ke arah samping sehingga sebagian tubuh Jinjo teropong.


"Ba.... Bagaimana bisa?!" ucap Jinjo dengan ekspresi tidak percaya dan wajah yang tampak mulai memucat.


"Di dalam dimensi bayangan ini aku bisa bergerak sesuka hatiku... Jadi aku tak butuh bayangan untuk berpindah lokasi, jadi kemana pun aku mau, aku bisa bergerak dengan cepat." Ucap Madika sambil berpindah-pindah sebanyak tujuh kali dalam waktu tiga detik.

__ADS_1


"Sialan kau!" Ucap Jinjo mengumpat.


"Selain itu, saat masuk ke dalam dimensi bayangan, semua yang ada di luar dimensi ini menjadi lambat... Satu menit berada di sini sama dengan satu detik di dunia nyata." Ucap Madika memberi sedikit penjelasan.


Setelah itu Diego pun langsung keluar dari dimensi bayangan itu.


Ia kini muncul di belakang dua pemuda yang sebelumnya sudah ia buat babak belur.


Baru saja Madika hendak menebas kedua pria itu, kini tetua Lingka langsung melemparkan sebuah tombak petir ke arah Madika


Tombak petir itu bergerak sangat cepat ke arah Madika, namun karena Madika menyadari serangan itu, Madika pun langsung kembali ke dimensi bayangan dengan sangat cepat.


Lalu ia kembali keluar dari dimensi bayangan melalui sebuah Bayangan yang ada di belakang Pemuda yang satunya.


Begitu baru keluar, Madika langsung terbang menjauh menggunakan sayap miliknya, sementara itu tiga tetua kini telah mendarat di atas tanah dah berdiri membelakangi dua pemuda itu.


"Kalian berdua cepat pergi dari sini!... Urusan bocah ini serahkan saja pada kami!" Ucap tetua Lingka menyuruh dua pemuda itu untuk mundur.


"Benar!... Bocah yang satu ini sama sekali bukan tandingan kalian!... Kita sudah cukup banyak kehilangan pemuda-pemuda terkuat! Jadi sebaiknya jangan terlalu memaksakan diri agar kita tidak kehilangan segalanya!" Timpal tetua Akina.


"Siap tetua!... Terima kasih telah menyelamatkan kami berdua!" Ucap kedua pemuda itu yang kemudian memberi salam hormat pada ketiga tetua mereka, dan setelah itu mereka pun pergi dan menjauh dari area itu.


Begitu kedua pemuda itu keluar dari tempat yang di tutupi oleh penghalang itu, kini Para tetua itu pun langsung menatap Madika dengan tatapan sinis.


"Bocah... Kemampuanmu itu benar-benar luar biasa... Namun sayangnya kau harus mati hari ini." Ucap tetua Rionda sambil mengelus-elus janggutnya.


"Tidak usah banyak bicara Rionda!... Langsung serang saja!" Ucap tetua Lingka yang sedari tadi sudah muak karena harus menahan amarahnya yang terus bertambah.


Lalu tetua Lingka pun langsung memutar kedua tangannya dengan pola lingkaran sehingga di depan tetua Lingka kini terbentuk sebuah lingkaran energi dengan sebuah titik pusat yang memancarkan cahaya biru terang dan di kelilingi oleh petir.


Setelah itu tetua Lingka pun langsung mendorong kedua tangannya ke depan dengan hentakan yang sangat kuat.


"Makan ini sialan!" Bentak tetua Lingka sambil mendorong tangannya dan menghentakannya dengan kuat.


Seketika cahaya yang berada di pusat lingkaran itu langsung melesat cepat ke arah Madika.


Madika pun langsung terbang ke samping dan menghindari serangan tetua itu.


Namun serangan tetua itu tidak hanya sekali saja.


Ia terus menembakkan cahaya yang penuh dengan petir itu ke arah Madika namun semuanya masih bisa di hindari meskipun ada beberapa yang hampir tak bisa Madika hindari.

__ADS_1


__ADS_2