Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Menghadapi Tirex


__ADS_3

Saat ini Madika sedang berjalan-jalan di tengah hutan sambil memegang belati-nya untuk berjaga-jaga.


sesekali ia mengguna-kan belati-nya itu untuk memotong rumput yang menghalangi jalan-nya.


setelah Madika cukup lama berjalan, ia pun berhasil menemukan beberapa tanaman obat yang bisa di gunakan untuk mengobati luka di kaki Natalia.


Saat Madika hendak kembali ke tempat Madika, dari kejauhan ia melihat sebuah tanaman obat yang sangat langka tumbuh di tempat itu.


bahkan tanaman itu jumlah-nya cukup banyak.


hal itu pun membuat Madika sempat terkejut saat melihat-nya.


"terakhir kali aku melihat tanaman itu saat aku masih di kehidupan-ku sebelum-nya, itu pun hanya ada satu dan tanaman itu di jual sangat mahal di salah satu rumah tanaman obat yang terkenal di kerajaan Doroko." batin Madika.


Ketika Madika hendak berjalan mendekati tanaman itu, tiba-tiba ia mendengar suara raungan yang sangat kuat dan menakutkan. saking menakutkan-nya, sampai-sampai banyak burung di pepohonan sekitar tempat itu langsung terbang menjauh dari tempat itu.


Madika pun jadi sedikit terkejut.


"suara apa barusan itu?" batin Madika sambil mengedar-kan pandangan-nya ke segala arah.


Tak lama setelah itu tiba-tiba muncul seekor dinosaurus di hadapan Madika.


dinosaurus itu berjalan dengan dua kaki, sementara tangan-nya yang kecil itu berada di depan dada-nya.


gigi dinosaurus tampak sangat tajam, dan punggung-nya terlihat bergerigi hingga ke ekor-nya.


di kepala dinosaurus itu tampak ada dua tanduk yang menyerupai tanduk naga dan di dekat hidung-nya terdapat kumis panjang seperti kumis naga.


tinggi dinosaurus itu kira-kira mencapai dua meter dan tampak-nya usia dinosaurus itu masih muda.


"ya ampun, ternyata ada yang menjaga tumbuhan itu!" batin Madika sambil pasang ekspresi waspada dan langsung mengangkat belati-nya seraya mempersiap-kan kuda-kuda bertarung-nya.


Setelah itu si dinosaurus sejenis tirex itu pun kini langsung meraung keras ke arah Madika.


sesudah itu ia pun langsung berlari cepat menghampiri Madika dengan niatan jahat serta ingin menerkam Madika.


Madika pun kini langsung bergerak. ia berlari ke arah kiri untuk melakukan pengalihan pada tirex itu.

__ADS_1


tepat saat di sebuah pohon, Madika langsung menyembunyi-kan diri dari hadapan tirex itu dengan memanfaat-kan pohon besar di hadapan-nya.


tirex itu pun kini berlari ke arah samping pohon itu dan berniat menyergap Madika yang berada di balik pohon itu.


Ketika tirex itu menyergap Madika, tirex itu ternyata tidak menemukan Madika di balik pohon itu.


namun tak lama setelah itu Madika yang sebelum-nya ternyata memanjat pohon itu kini melompat tepat di kepala tirex itu dan langsung menusuk-kan belati-nya ke kepala tirex itu.


namun sayang-nya belati milik Madika tak dapat menembus kulit tirex itu.


"tchi!.... rasa-nya seperti menusuk batu!" batin Madika yang kemudian langsung melompat ke batang pohon itu. setelah itu ia menjadi-kan pohon itu tempat tumpuan kaki-nya.


lalu ia melompat lagi ke depan dan kemudian mendarat di tanah yang jarak-nya cukup jauh dari tirex itu berada.


tirex itu tidak tinggal diam ketika melihat Madika berhasil menghindari terkaman-nya.


kini tirex itu kembali meraung keras dan berlari ke arah Madika.


Madika pun kini berlari dan berusaha menghindari pertarungan langsung dengan tirex itu.


"seluruh kulit tirex itu tampak-nya sangat keras, satu-satunya bagian yang memungkin-kan untuk ku serang adalah mata-nya!" batin Madika. lanjut-nya, tapi bagaimana aku bisa menyerang mata-nya?"


hingga akhir-nya ia terpikir-kan satu cara untuk menyerang tirex itu.


"seperti-nya tidak ada pilihan lain!.... lagi pula aku harus mendapat-kan tanaman itu!" ucap Madika yang kemudian langsung memutar tubuh-nya menghadap ke arah tirex itu.


Tak lama setelah itu, si tirex pun tiba di depan Madika dan langsung menjulur-kan kepala-nya untuk menerkam tubuh Madika yang lebih pendek dari-nya.


"ini saat-nya!" ucap Madika.


Saat tirex itu hampir menerkam, Madika pun dengan cepat menancap-kan belati-nya ke mata tirex itu sambil melompat dan bersalto di udara.


Tirex itu langsung meraung kesakitan.


sementara itu Madika pun kini dengan cepat menarik kembali belati-nya dari mata tirex itu saat kedua kaki-nya mendarat di punggung si tirex.


setelah mencabut belati-nya itu, kini Madika pun langsung melompat ke belakang sambil melakukan salto hingga akhir-nya mendarat di tanah.

__ADS_1


sementara itu, si tirex yang saat ini merasa-kan kesakitan karena satu bola mata-nya pecah kini langsung mulai mencari Madika menggunakan satu mata-nya yang tersisa.


tirex itu sempat bingung saat mengedar-kan pandangan-nya karena tidak terbiasa dengan penglihatan yang hanya menggunakan satu mata.


namun, saat si tirex itu berhasil melihat keberadaan Madika, ia pun langsung meraung dengan suara keras ke arah Madika.


Sementara itu, Madika yang saat ini sedang berlari ke arah tumbuhan obat itu tampak mengabaikan kemarahan si tirex.


Madika terus berlari, sementara tirex itu kini mulai mengejar-nya dengan sangat cepat.


hingga akhir-nya kini Madika tiba di tempat tanaman obat itu tumbuh, dan dengan segera Madika langsung memetik beberapa tanaman obat itu dengan cepat, dan kemudian ia segera menyimpan-nya di sebuah tas kecil yang ia buat dari sebuah kulit kayu dan di ikat-kan ke pinggang-nya.


setelah itu ia pun kembali berlari untuk menghindari terjangan si tirex.


beruntung saat ini Madika menemukan sebuah tebing yang cukup curam.


saat melihat tebing itu, Madika pun dengan cepat langsung memanjat tebing itu.


dengan lincah mata-nya mencari celah untuk bisa ia meletak-kan tangan dan kaki-nya agar bisa memanjat tebing itu.


sesekali celah tebing yang ia pegang itu hancur dan terjatuh. namun diri-nya masih bisa bertahan untuk terus memanjat.


sementara itu si tirex kini hanya bisa mengamuk sambil menghantam-kan ekor-nya ke tebing itu dan berharap Madika akan jatuh dari atas sana.


namun hal itu tidak terjadi, hingga akhir-nya kini Madika mencapai puncak dari tebing itu.


Madika pun kini terlihat terengah-engah sambil membaring-kan tubuh-nya di puncak tebing itu.


Sementara si tirex itu kini hanya bisa meraung-raung dengan sangat keras karena marah.


namun hingga beberapa saat kemudian si tirex itu pun bosan dan akhir-nya memilih untuk pergi dari tempat itu.


"hah...." Madika menghela nafas sambil memutar tubuh-nya dan mencoba melihat ke bawah.


"seperti-nya tirex itu sudah sudah pergi." ucap Madika saat melihat tak ada lagi tirex di bawah sana.


Setelah itu Madika kembali memutar tubuh-nya dan menghadap ke langit-langit.

__ADS_1


"aku harus menstabilkan pernapasan-ku dulu, setelah ini aku harus segera menemui Natalia!" batin Madika.


__ADS_2