Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Madika vs Gino


__ADS_3

Natalia yang mendengarkan perkataan kakek-nya tentang Madika kini tampak sedikit kesal karena diri-nya merasa kalau kakek-nya itu terlalu berpihak pada Madika. hal itu tentu-nya membuat Natalia merasa kesal dan sedikit tersaingi oleh Madika.


"hmmp!.... padahal selama ini kakek selalu memuji-ku, tapi sejak kakek mulai mengenali Madika, kakek jadi sering memihak Madika.... lihat saja nanti! aku pasti akan mengalahkan Madika!" batin Natalia sambil pasang ekspresi kesal.


Sementara itu, tuan Samon yang melihat ekspresi cucu-nya itu kini langsung bertanya.


"kenapa wajah-mu muram begitu?" tanya tuan Samon.


"tidak ada apa-apa!" jawab Natalia yang langsung membelakangi kakek-nya layak-nya seorang anak yang sedang merajuk di depan orangtua-nya.


"hei, dari tadi kau terlihat tidak senang saat kakek membahas tentang Madika, apa kau itu pada-nya?" ucap tuan Samon dengan nada usil seolah mengejek Natalia.


Natalia yang mendengarkan ucapan kakek-nya itu hanya diam dan tak mau menjawab.


Melihat Natalia yang hanya diam kini tuan Samon pun berjalan ke arah Natalia lalu berdiri di depan Natalia.


"seperti-nya kau benar-benar tidak suka ketika kita membahas tentang Madika ya." ucap tuan Samon.


Natalia masih tidak mau menjawab, ia bahkan lebih memilih memutar tubuh-nya dan membelakangi kakek-nya itu.


Melihat Natalia yang mengabaikan-nya, kini tuan Samon pun tampak sedikit lesu dan menghela nafas panjang.


"hah.... padahal aku sudah punya rencana untuk semua ini." ucap tuan Samon.


"aku tidak peduli dengan rencana kakek!.... pokok-nya aku pasti akan mengalahkan Madika apa pun yang akan terjadi!.... pasti!! pasti ku kalahkan!" ucap Natalia dengan suara yang cukup keras dan langsung pergi dari hadapan kakek-nya.


Tuan Samon yang melihat reaksi cucu-nya itu kini hanya bisa menghela nafas dengan ekspresi lesu dan tak bersemangat.


"hah.... dia benar-benar marah ya...." batin tuan Samon.

__ADS_1


Setelah itu kini tuan Samon pun pergi dari tempat itu dan langsung berangkat ke tempat khusus-nya untuk menonton pertarungan berikut-nya.


>SKIP<


Saat ini pertarungan antara Nono dan Soko baru saja berakhir.


tuan Samon baru saja duduk di kursi-nya dan tak sempat melihat pertarungan antara Nono dan Soko.


"seperti-nya bocah itu lagi-lagi menyelesaikan pertarungan-nya dengan cepat." ucap tuan Samon sambil duduk di kursi yang sudah di sediakan di samping kepala akademi.


"ya.... kali ini dia tidak lagi banyak melakukan pergerakan seperti di pertarungan sebelum-nya, kali ini dia hanya melakukan sedikit pertarungan dan akhir-nya langsung menggunakan jurus rahasia-nya itu untuk segera mengakhiri pertarungan.... alhasil kini dia pun langsung menang begitu saja." ujar kepala akademi menanggapi perkataan tuan Samon.


"hah...." tuan Samon menghela nafas. "saat jurus rahasia itu ia lancarkan, lawan-nya pun langsung kalah begitu saja.... aku jadi curiga, jangan-jangan jurus yang di gunakan oleh bocah yang bernama Nono itu adalah salah satu jurus tingkat dewa?" ucap tuan Samon menerka-nerka.


"jika itu memang benar, maka semua ini jadi sedikit masuk akal." timpal kepala akademi. lanjut-nya, "jika memang jurus yang di gunakan-nya adalah jurus tingkat dewa, maka kemungkinan dia sudah melatih jurus itu sejak kecil dan mengabaikan latihan bertarung yang memakan tenaga dan stamina.... hal itu lah yang membuat ia kesulitan saat bertarung tanpa jurus rahasia-nya itu." ucap kepala akademi menebak.


Sementara itu, di arena pertarungan tampak dua peserta berikut-nya telah bersiap di arena dan sedang menunggu aba-aba dari si pemimpin pertandingan.


kedua-nya terlihat berdiri berhadapan di jarak kurang lebih 25 meter.


Tak lama setelah itu, kini si pemimpin pertandingan pun langsung memberikan aba-aba untuk segera memulai pertarungan.


Kini aba-aba yang di tunggu-tunggu oleh Madika dan Gino telah di berikan dan kedua-nya pun di perbolehkan bertarung.


Sementara itu, tuan Samon dan kepala akademi yang mendengar bahwa pertarungan antara Madika dan Gino telah di mulai kini dengan segera menoleh ke arah arena pertarungan untuk melihat seperti apa pertarungan yang akan Madika suguhkan pada mereka kali ini.


Saat ini, pertarungan antara Madika dan Gino yang baru saja di mulai itu langsung menjadi pertarungan yang mungkin akan berlangsung cepat. hal itu di karenakan Gino yang sudah sangat mewaspadai Madika sejak melihat pertarungan Madika kini langsung menggunakan jurus terkuat-nya.


"aku tidak akan membuang waktu.... ayo beradu kekuatan dengan-ku sekarang!!" teriak Gino dengan penuh semangat.

__ADS_1


Lalu Gino pun langsung mengaktifkan jurus Bagakoro milik-nya.


kini dari langit tampak sebuah petir yang cukup besar menyambar ke bawah dan mendarat tepat di tempat Gino berdiri.


Gino pun saat ini tampak sudah di selimuti oleh petir yang menyambar dari langit itu.


ia saat ini sedang berusaha untuk tetap bertahan hingga jurus-nya benar-benar bisa di pakai.


"petir yang menyambar tubuh-ku ini berguna untuk memperkuat tubuh-ku untuk beberapa waktu yang cukup lama.... oleh karena itu aku harus terus bertahan dan menyerap seluruh kekuatan petir ini!!" batin Gino.


lalu Gino pun merentangkan kedua tangan-nya sambil menengadahkan kepala-nya ke langit tepat ke arah sumber petir itu.


"HUAAAAA!!!" teriak Gino sambil menyerap kekuatan dari petir itu untuk meningkatkan kemampuan fisik bahkan kemampuan Saga milik-nya.


Madika yang melihat hal itu pun kini tampak sedikit terkejut karena baru mulai tapi Gino sudah pakai jurus terkuat-nya. ia merasa kalau Gino saat ini sedang terburu-buru untuk menyelesaikan pertarungan.


"hah..." Madika menghela nafas sambil menggelengkan kepala-nya.


dalam hati Madika saat ini, ia sedang berusaha membuat pilihan apakah harus melawan jurus Gino menggunakan peluru angin yang di perkuat menggunakan teknik penyatuan, atau harus menggunakan langkah dewa angin agar kemenangan bisa dengan pasti ia miliki.


"apa kau bingung harus menggunakan jurus apa untuk melawan Gino?" tanya tuan Risiwuku melalui perantara Saga.


"uhm..." gumam Madika sambil mengangguk.


"kalau begitu, ikuti saran-ku.... untuk sekarang cobalah gunakan jurus langkah dewa angin agar pertarungan ini benar-benar cepat selesai." ucap tuan Risiwuku memberi saran.


"tapi guru, setelah ini masih ada dua pertarungan lagi, jika ku gunakan sekarang mungkin di pertarungan berikut-nya aku akan kehilangan kesempatan untuk menang, terutama di pertarungan akhir, yaitu melawan Natalia." ucap Madika.


"tenang saja, kau kan punya dua kesempatan untuk menggunakan jurus itu, jadi sisa-kan satu-nya untuk melawan Natalia.... kalau masalah pertarungan dengan Nono, kau tak perlu khawatir, dia sama sekali tak punya jurus yang luar biasa selain tatapan dewa es milik-nya, jadi aku yakin kau pasti bisa menang dengan mudah jika melawan Nono." ucap guru-nya memberi penjelasan.

__ADS_1


Mendengar penjelasan guru-nya, kini Madika pun hanya bisa patuh karena apa yang di katakan oleh guru-nya itu memang ada benar-nya.


"baik guru, aku akan melakukan-nya." ucap Madika dengan patuh.


__ADS_2