
Setelah mendapatkan persetujuan dari tuan Samon, Madika pun segera beranjak dari ruangan tersebut dan akan segera menuju ke tempat terjadinya pertarungan saat ini.
Madika kini berdiri di depan jendela yang sudah ia buka lebar-lebar.
Lalu ia pun segera melompat keluar dari jendela tersebut.
Begitu ia jatuh bebas dan suda cukup dekat dengan tanah, ia pun segera mengeluarkan sayap miliknya dan segera terbang menuju ke lokasi yang di sebutkan oleh prajurit sebelumnya.
"Apa dia akan baik-baik saja?" Ucap Andreas sedikit khawatir.
"tenang saja... Kalian tak perlu sekhawatir itu pada Madika." Ucap Natalia.
"Tapi lawan Madika saat ini sangat banyak... itu bukan hal yang mudah untuk di hadapi." Sambung tuan Samon.
Natalia pun hanya menghela nafas mendengar ucapan kakeknya itu.
"Apa kalian tahu tentang sekte Balumba?" Tanya Natalia.
"Tentu saja tahu... Itu adalah salah satu sekte terbesar dan terkuat di kekaisaran ini." Ucap Andreas menjawab.
"Benar sekali... Dan baru-baru ini sekte tersebut berhasil di porak-porandakan oleh satu orang pemuda, dan pemuda itu adalah Madika." Ucap Natalia.
"Hah?!"
Sekali lagi, mereka semua terkejut mendengar apa yang di ucapkan oleh Natalia barusan.
"Ta... Tapi bukankah kau belum lama ini berada di sana?" Tanya tuan Samon yang masih tampak sedikit tidak percaya.
"Ya... Karena aku ada di sana, maka aku bisa melihat langsung bagaimana ia bisa memporak-porandakan sekte tersebut dalam waktu kurang dari satu hari... Tidak hanya itu saja... Bahkan ketua sekte terdahulu mereka pun sampai berlutut di hadapan Madika." Jelas Natalia.
Penjelasan itu membuat mereka bertiga semakin terkejut dengan mata yang terbelalak seolah tak percaya akan apa yang di katakan oleh Natalia.
"Yang benar saja?" Ucap si ibu memastikan.
"Apa wajahku terlihat sedang berbohong?" Balas Natalia dengan ekspresi serius.
********
Di tempat yang berbeda. Tepatnya di wilayah hutan perbatasan saat ini tampak sedang terjadi pertarungan antara ksatria dari pihak kaisar Samon dan ksatria dari pihak kerajaan Tambolo.
__ADS_1
Pertarungan itu adalah pertarungan yang sama sekali tidak seimbang. Hal itu di karenakan ksatria dari pihak raja Tambolo berkisaran seribu orang lebih, sementara dari pihak kaisar Samon hanya berkisaran dua ratus orang lebih.
Tampak para pasukan dari kerajaan Tambolo terus menggempur pasukan dari wilayah pusat kekaisaran Balengga.
Serangan musuh tidak ada habis-habisnya. Para pasukan terpaksa harus menahan serangan sambil terus bergerak mundur.
"Apa masih belum ada bala bantuan sama sekali?!" Teriak salah satu pasukan kaisar Samon bertanya pada prajurit lainnya.
"Masih belum ada!... Kita hanya bisa bertahan untuk saat ini!... Setidaknya jangan biarkan mereka masuk lebih jauh lagi!" jawab prajurit yang di tanyai tersebut sambil menebas sebuah bola api yang melesat ke arahnya.
Berbagai jurus telah di gunakan dalam pertarungan tersebut.
Hal itu membuat hutan di sekitar menjadi terbakar akibat serangan-serangan dari jurus mereka.
Di sisi lain, saat ini tampak di atas langit terlihat empat pria sedang terbang dengan menggunakan pedang di di bawah kaki mereka sebagai tempat berpijak.
Dua di antara empat pria itu adalah pemimpin dari dua kelompok yang menyerang saat ini.
Sementara dua lainnya hanyalah pendamping dari pemimpin kelompok tersebut.
"Rasanya sangat membosankan jika hanya menunggu seperti ini saja... Apa perlu kita turun tangan membantai mereka semua?" Tanya salah satu pria yang merupakan pendamping.
"Itu benar... Kedatangan kita ke sini hanya untuk menyampaikan deklarasi perang dari tuan Kiono... Jadi tak perlu terlalu berlebihan." Sambung Nalelo, si pemimpin kelompok yang satunya lagi. Lanjutnya, "Jadi selama kita sudah membuat keonaran dan berhasil membawa orang penting dari istana kekaisaran Balengga ke sini, maka kita langsung deklarasikan saja perang ini pada mereka."
"Itu berarti sekarang kita hanya perlu bersabar sambil menunggu mereka datang?... Apa kita tidak akan bertarung?" Tanya Sasino, si pendamping Nalelo.
"Dasar bodoh... Tentu saja kita akan bertarung dengan mereka... Lagi pula jika tak bertarung maka tugas ini sama sekali terasa tidak lengkap bukan?" Balas Sunsudin.
Sementara mereka berempat membahas berbagai hal. Tampak saat ini pasukan mereka telah mendominasi pertarungan. Pasukan mereka berhasil membuat seluruh pasukan tuan Samon menjadi kewalahan.
Namun si pemimpin pasukan dari pihak tuan Samon tampak masih belum menyerah meskipun tubuhnya sudah banyak mengalami luka.
"Jangan ada yang menyerah!... Kita harus tetap bertahan!!" Teriaknya menyemangati pasukan lainnya.
Para pasukan tuan Samon yang mendengarkan ucapan ketua mereka kini perlahan mulai berdiri kembali setelah terjatuh dan tergeletak ke tanah.
Mereka semua memang orang-orang yang pantang menyerah dan siap mengabdikan hidup bagi kekaisaran Balengga.
"Semuanya tetap jaga semangat juang kalian!!" Teriak si pemimpin lagi.
__ADS_1
Lalu tanpa basa-basi lagi kini si pemimpin pasukan dari pihak kaisar langsung maju sambil memunculkan sebuah senjata yang mirip suriken namun ukurannya lebih besar dan hanya memiliki dua bilah yang saling terhubung melalui satu gagang. sementara gagangnya berada di tengah-tengah kedua bilah tajamnya.
Pria itu kemudian langsung melemparkan senjatanya itu ke arah para musuh yang ada di hadapannya.
SREEETTT!!!
Serangan surikennya itu langsung menghantam beberapa pasukan musuh hingga leher dan badannya terpotong menjadi dua bagian.
Lalu suriken tersebut berbelok arah dan menghantam satu pasukan lagi.
Namun pasukan yang satu itu berhasil menghindar.
Akan tetapi karena sedikit terlambat, akhirnya tangan pasukan musuh itu langsung terpotong akibat serangan suriken.
Suriken yang telah berbalik arah dan memotong tangan pasukan musuh itu kini telah kembali ke arah tuannya. Dan dengan segera si pemimpin pasukan di pihak tuan Samon itu pun segera menangkap kembali senjata suriken miliknya itu.
Melihat serangan pemimpin mereka yang berhasil melukai beberapa musuh, kini semangat para pasukan di pihak kaisar Samon pun kembali, dan mereka semua segera memulai pertarungan dan melakukan perlawanan balik.
Baru saja melakukan perlawanan balik, tiba-tiba...
SRAAAKKK!!
Tubuh si pemimpin pasukan tuan Samon tampak di tembus oleh sebilah pedang berelemen api.
Beberapa prajurit tuan Samon melihat kejadian itu dan sempat berhenti sejenak melihat hal itu.
"Ke... Ketua!!" Teriak salah satu prajurit yang kini membuat prajurit lainnya menoleh ke arah pemimpin mereka.
Begitu mereka menoleh, saat itu mereka melihat ada serangan lagi yang melesat ke arah pemimpin mereka itu.
Serangan tersebut berupa tombak dan beberapa anak panah.
Tombak dan beberapa anak panah itu pun langsung menusuk dan menembus tubuh si pemimpin tersebut.
Pemimpin pasukan tuan Samon itu pun langsung terbatuk, dan dari dalam mulutnya keluar sangat banyak darah.
Para pasukan tuan Samon pun segera kehilangan harapan Meraka ketika melihat pemandangan tersebut.
Meraka semua tampak mulai putus asa dengan apa yang sudah terjadi saat ini.
__ADS_1